Wednesday, 01 October 2014

Bumi (Al-Ardh) dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Artikel bagus – Bumi (Al-Ardh) dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Skripsi PAI dengan judul Bumi (Al-Ardh) dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik) kembali akan dishare secara gratis artikel bagus. Semoga skripsi ini ada manfaatnya
 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bumi dan berbagai planet yang diciptakan Allah swt. tersebar di jagat raya, merupakan gugusan yang tersusun secara rapi dan tertib. Gugusan benda-benda langit tersebut tidak pernah berubah sejak diciptakan hingga sekarang dan kelak berakhir saat tibanya hari kiamat.

Manusia sebagai penghuni bumi sangat sedikit pengetahuannya tentang rahasia penciptaan jagat raya dan seluruh isinya. Termasuk pengetahuan mereka tentang planet bumi, padahal planet bumi adalah salah satu benda langit sebagai tempat tinggal mereka  bersama makhluk lain ciptaan Allah swt.[1]
   
Penciptaan bumi dan langit serta semua planet merupakan salah satu bukti dari Kemahakuasaan dan Kemahaperkasaan Allah swt, sehingga dalam abad modern sekarang ini pada umumnya manusia telah mengetahui dan memahami, bahwa bumi diciptakan Allah swt. berbentuk bulat seperti sebuah bola yang sangat besar. Bumi seperti itu bukan satu-satunya planet atau benda langit di jagat raya yang luas. Para ilmuan selama berabad-abad telah dan terus berusaha untuk mengetahui rahasia langit dan planet-planet yang diciptakan Allah swt. Meskipun sangat banyak yang belum diketahui oleh manusia, tetapi pada akhir abad XX untuk keperluan tersebut telah dipergunakan peralatan berteknologi yang canggih.

Dari usaha manusia melakukan penelitian itu diketahui bahwa semua planet itu tersusun secara tertib, yang bergerak pada garis edarnya (orbit) masing-masing dengan mengitari matahari sebagai sentral. Semua pengetahuan manusia itu sangat sedikit dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang menciptakan, mengatur dan menguasai bumi dan langit, termasuk segala sesuatu yang ada di antara keduanya.
Sehubungan dengan hal itu, Allah swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah (2) : 116 sebagai berikut :
سُبْحَنَهُ بَلْ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ كُلُّ لَهُ قَانِتُوْنَ
Terjemahnya :
 “Maha suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaan Allah, semua tunduk kepadanya.[2] 

Ayat di atas, menjelaskan bahwa hanya Allah swt. yang me-miliki otoritas penuh dalam pengaturan semesta alam ini. Sebagai salah satu tanda-tanda KemahabesaranNya. Pengaturan itu menunjuk-kan bahwa bumi sebagai planet tidak berdiri sendiri, tanpa berhubungan dengan atau tanpa dipengaruhi oleh planet-planet lainnya khususnya matahari dan bulan.

Maka apabila ada seseorang menengadahkan muka ke langit, bilamana dia perhatikan langit itu sungguh-sungguh, maka tampaklah olehnya matahari, bulan dan bintang-bintang. Dan apabila dia melihat pula ke bumi dia akan melihat manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Apabila dipikirkan dan direnungkan, matahari itu sejak dahulu kala terbit dari timur, tidak pernah bertukar dan beralih tempat. Demikian pula lamanya siang dan malam itu kalau diperhatikan, tidak pernah tercepat atau terlambat waktunya dari yang telah ditentukan.[3] 
Oleh karena itu, yang menjadikan seseorang untuk lebih jauh mengetahui alam itu sangat banyak, di antaranya, sebagai makhluk penghuni bumi ini seharusnya lebih banyak berpikir dan bersyukur untuk lebih jauh menggali ilmu pengetahuan alam dengan berpatokan kepada Alquran, untuk memantapkan keimanan di mana Alquran menganjurkan penelitian terhadap alam itu.[4]  

Dalam Alquran, Allah swt. menyatakan sebanyak 26 kali, tentang eksistensi alam semesta ini, untuk kepentingan manusia.[5] Dengan demikian, manusia dengan mudah meneliti alam itu, bahkan merupakan dengan mudah menguasai dan menarik banyak manfaat darinya. Pernyataan Alquran tersebut seharusnya menyadarkan manusia tentang betapa pentingnya melakukan berbagai penelitian dan pengkajian mendalam terhadap alam.

Penemuan-penemuan yang kemudian dirumuskan dalam bentuk ilmu pengetahuan alam tersebut tentunya digunakan pula untuk menggali berbagai potensi alam demi kepentingan dan kemaslahatan manusia. Pada gilirannya kita tentu menyadari ilmu pengetahuan alam yang dihasilkan dari penelitian yang pengkajian tersebut merupakan karunia Allah yang diberikan kepada kita. Sebab Dialah yang meng-anugerahkan potensi akal dan petunjuk kepada manusia sehingga manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan. Tegasnya, Allah lah yang mengajari manusia tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia.[6]

Untuk mengetahui bagaimana eksistensi alam khususnya bumi, maka ilmu pengetahuan alam lah yang harus menjadi acuan dalam mempelajari tentang susunan benda-benda serta perkembangan alam itu sendiri. Terkait dengan hal ini, Fazlur Rahman menyatakan bahwa dalam mempelajari alam, maka manusia mesti selalu memikirkan alam sebagai manifestasi dari sifat-sifat Tuhan yang Maha Besar yang berada di atas alam tersebut.[7] Hal itu sesuai dengan QS. al-Nur (24) : 35 yang menyatakan :
اَللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضَ
Terjemahnya :
“Allah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi.”[8]

Abdul razak Naufal menginterpretasikan ayat di atas dengan menyatakan bahwa cahaya Allah bagaikan sebuah lubang yang tembus, di dalamnya ada pelita besar.[9]  Demikian pula, Umar Shihab menyatakan bahwa penelitian tentang alam merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui dan menjadikannya sebagai pengalaman batiniah dan pengembaraan seseorang yang tidak akan terlupakan.[10] 

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa wacana dan diskusi tetang alam merupakan hal yang sangat siginifikan, apalagi jika ia disorot dengan pendekatan quraniy.

B. Rumusan dan Batasan Masalah
Tempat yang didiami makhluk Allah swt. disebut dengan alam. Alam ini terdiri atas beberapa planet, di antaranya adalah bumi di mana sistem tata suryanya mengitari planet matahari. Di planet bumi inilah tempat menetap manusia dan berbagai makluk Allah swt. sejak dahulu.

Dalam bahasa Arab, bumi diistilahkan dengan term al-ardh[11] Pengungkapannya banyak ditemui dalam Alquran.   Untuk mengetahui bagaimana eksistensi al-ardh itu, maka  masalah pokok dalam skripsi adalah ; bagaimana konsep al-ardh menurut perspektif Alquran ? untuk kajian lebih lanjut maka rumusan sub masalahnya adalah ;
1.  Apakah yang dimaksud al-ardh ?
2.  Bagaimana pandangan Alquran tentang al-ardh ?
3. Bagaimana eksistensi al-ardh dan hubungannya dengan manusia menurut Alquran ?
Dari pokok permasalahan dan sub-sub permasalahan di atas, akan dikaji dalam skripsi ini secara cermat dan mendalam sehingga menimbulkan rumusan jawaban-jawaban yang akurat dan argumentatif.

C. Pengertian Judul          
Untuk menghindari kesalah pahaman (mis understanding) ter-hadap judul skripsi ini. Yakni, AL-ARDH DALAM ALQURAN, maka di-pandang perlu adanya sorotan terhadap batasan al-ardh dan Alquran untuk merumuskan ruang lingkup pembahasan skripsi ini.

1. Al-Ardh
Term al-ardh (bahasa Arab), artinya bumi.[12] Yakni, tempat diam manusia dan segala macam makhluk hidup ciptaan Allah swt. Termasuklah di dalamnya binatang dan tumbuh-tumbuhan serta benda-benda lainnya.  Di antara sekian planet yang ada di alam ini, bumi merupakan satu-satunya planet yang memiliki lautan dan daratan.

2. Alquran
Alquran (bahasa Arab al-Qur’ân) merupakan kumpulan firman-firman Allah swt. yang bersifat mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan termaktub dalam mushaf, dinukilkan secara mutawatir dan ketika seseorang membaca bernilai pahala.[13] Karena demikian halnya, maka fungsi Alquran di sini sebagai pedoman hidup umat Islam dalam kehidupannya.

Dengan batasan di atas dan merujuk pada permasalahan ter-dahulu, maka obyek kajian dalam skripsi ini dioprasionalkan pada perumusan tentang eksistensi bumi sebagai salah satu planet ber-dasarkan interpretasi dari ayat-ayat Alquran yang diyakini sebagai pedoman hidup abadi bagi umat Islam.
D. Tinjauan Pustaka
Pada saat Alquran diturunkan, Rasulullah saw. berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan) dan mufassir (pertama dan utama). Seiring itu pula dasar-dasar tafsir yang telah ada yang kemudian dilanjutkan oleh generasi sahabat dan sesudahnya. Semua persoalan dalam tafsir menjadi wacana yang cukup berkembang termasuk term “ardh”.
Dewasa ini, daftar literatur yang membahas masalah ardh dengan merujuk kepada Alquran cukup banyak. Di antaranya adalah :

Alquran Tentang Alam Semesta, karya Dr. Muh. Jamaluddin al-Fandy. Inti pembahasannya adalah QS. Yunus (10): 24 yang menyata-kan ;
…حَتَّى اِذَا أُخِذَتِ الاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَاُزِيْنَتِ وَظَنَّ اَهْلَهَا اَنَهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَيْهَا اَتَاهَا اَمَرْنَا لَيْلاً اَوْ نَهَارًا …
Terjemahnya:
“… hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya danmemakai (pula) perhiasannya, maka pemilik-pemiliknyamengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba tiba datanglah kepadanya perintah Kami waktu malam atau siang …[14]
Dr. Muh. Jamaluddin al-Fandy dalam menginterpretasikan ayat di atas merumuskan suatu kesimpulan bahwa bahwa masa depan umat manusia di bumi adalah gambaran yang paling benar yang diberikan sebelumnya mengenai dimulainya peradaban, tentang jasa dan keindahan peradaban itu dan bentuknya yang beraneka ragam di berbagai penjuru dunia. Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa ayat di atas memberikan gambaran kepada kita tentang kekuatan ilmu pengetahuan yang luar biasa yang telah mulai dipergunakan manusia di muka bumi untuk menguasai ruang angkasa, menaklukkan sungai dan lautan dan menghancurkan bukit-bukit besar dan kecil.[15]

2. Allah dari Segi Ilmu Pengetahuan Modern, karya Abd. Razak Naufal. Inti pembahasannya, terletak pada uraian-uraian mengenai proses penciptakaan bumi dan cara kerjanya mengelilingi matahari menurut garis perjalanan yang telah ditentukan. Dalam uraian-uraiannya, ditemukan berbagai ayat Alquran. Di antaranya adalah QS. al-Baqarah (2): 116.[16]

Dua literatur yang disebutan di atas, kajiannya tentang ardh belum merumuskan suatu konsep tentang eksistensi ardh menurut Alquran. Itu disebabkan, karena ayat-ayat yang dikutip hanya di-jelaskan secara tersurat, tanpa menampilkan syarahan ayat, asbab nuzûl,[17] munâsabah ayat[18] dan hal-hal lainnya menurut kaedah-kaedah penafsiran Alquran. Ringkasnya, kedua literatur di atas tidak tergolong sebagai uraian tematik tentang al-ardh.
Di samping itu, ditemukakan pula berbagai kitab tafsir yang tentu di dalamnya termuat interpretasi-interpretasi tentang al-ardh. Sebagian dari kitab-kitab tafsir yang dimaksud dijadikan sebagai rujukan primer dalam skripsi ini. Namun demikian, kedua literatur yang disebutkan terdahulu tetap dijadikan sebagai daftar rujukan skunder dalam skripsi ini.

E. Metodologi
Dalam pembahasan skripsi ini, penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. Metode Pendekatan
Karena objek penelitian ini mengenai ayat-ayat Alquran dan berfokus pada sebuah tema, maka pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan ilmu tafsir, yakni tafsir mawd­’i.[19]  Secara operasional, corak ini meliputi langkah-langkah berikut: (1) menghimpun ayat Alquran yang berkenaan dengan topik yang dibahas (seperti masalah al-ardh), (2) kemudian menyusunnya secara kronologis berdasarkan tertib turunnya; Makkiyah kemudian Madaniyah secara sistematis menurut kerangka pembahasan yang telah disusun, (3) memberi uraian dan penjelasan yang terkandung dalam ayat dengan menggunakan beberapa teknik analisis (interpretasi).

2. Metode Pengumpulan Data
Untuk pengumpulan data, digunakan penelitian kepustakaan (library research). Yakni, menelaah refrensi atau literatur-literatur yang terkait dengan pembahasan. Kepustakaan utama dalam pembahasan ini, adalah kitab tafsir baik yang berbahasa Asing maupun yang berbahasa Indonesia. Disamping itu, berbagai kepustakaan  lainnya juga digunakan. Misalnya; majalah, ensiklopedi, jurnal dan semacamnya yang kiranya dapat mendukung tercapainya target pembahasan skripsi ini.

3.Metode Pengelolahan dan Analisis Data
Agar data yang diperoleh dapat dijadikan sebagai bahasan yang akurat. Maka penulis menggunakan metode pengelolahan dan analisis data  sebagai berikut :
a. Deduktif, yakni menganalisis data yang bersifat umum untuk sampai kepada kesimpulan yang bersifat khusus.
b. Induktif, menganalisis data yang bersifat khusus untuk memperoleh rumusan yang bersifat umum.
c. Komparatif, yakni membandingkan data yang satu dengan data yang lain, unrtuk memperoleh data yang lebih akurat dan lebih kuat argumentasinya.

F. Tujuan dan Kegunaan
1. Tujuan
Kajian dalam skripsi ini bertujuan untuk menemukan atau merumuskan konsep al-ardh sebagai yang terinterpretasi dalam berbagai ayat di dalam Alquran. Dengan konsep al-ardh menurut perspektif Alquran tersebut, paling tidak memberikan paradigma baru tentang wawasan keilmuan, khususnya dalam bidang tafsir.
2. Kegunaan
Hasil dari kajian ini, diharapkan memberikan kegunaan ganda. Yakni kegunaan kegunaan ilmiah dan praktis.
a. Kegunaan dari aspek ilmiah, diharapkan kajian tentang al-ardh dalam skripsi dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan per-kembangan ilmu pengetahuan secara umum dan khazanah intelektual Islam di bidang tafsir secara khusus.
b. Kegunaan dari aspek praktis, diharapkan kajian tentang al-ardh dalam skripsi dapat memotifasi segenap masyarakat untuk lebih men-dalami kajian-kajian kealaman yang berakibat pada pencapaian hidup di bumi ini dengan baik.
G. Garis-garis Besar Isi Skripsi.
Skripsi ini, terdiri atas lima bab dan masing-masing bab terdiri atas sub bab. Adapun muatan-mutannya adalah sebagaimana penjelasan berikut :
Bab I adalah pendahuluan, merupakan kerangka pikir yang bersifat teoritis dan metodologis atas pembahasan dalam skripsi ini. Muatannya, dimulai dengan latar belakang, rumusan dan batasan masalah, pengertian judul, tinjauan pustaka, metode pembahasan, tujuan dan kegunaan dan garis-garis besar isi skripsi.
Bab II, menjelaskan tentang tinjauan umum tentang al-ardh. Pembahasannya mencakup; pengertian al-ardh baik secara etimologi maupun terminologi. Selanjutnya, dikemukakan pembahasan tentang konsep umum tentang al-ardh yang secara subtansial memiliki tiga pe-maknaan, yakni dunia; tanah; dan tempat menetap.
Bab III, merupakan bab analisis tentang ayat-ayat yang terkait dengan al-ardh. Pada bab ini, dikemukakan klasifikasi ayat Makkiyah dan Madaniyah. Setelah itu, diungkap kandungan ayat secara global (makna ijmâly); sebab turun ayat (asbâb al-nuzûl); dan korelasi ayat (munâsabat) serta hal-hal yang terkait dengannya.
Bab IV, merupakan kajian tematik. Yakni, menginterpretasikan ayat-ayat tentang al-ardh baik Makkiyah maupun Madaniyah ke dalam suatu tema sentral yang terdiri atas tiga sub tema. Tema sentralnya adalah; Eksistensi Bumi (al-ardh) menurut Alquran. Sub temanya; (a) proses penciptaan bumi; (b) mekanisme evolusi bumi; dan (c) hikmah penciptaan bumi.
Bab V adalah bab penutup yang merupakan solusi atas per-masalahan-permasalahan dalam uraian-uraian yang mendahuluinya. Bab ini, terdiri atas dua sub bab, yakni kesimpulan dan implikasi.
[1] Hadari Nawawi, Demi Masa di Bumi dan di Sisi Allah Swt (Cet. I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995), h. 8
[2] Departemen Agama  RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra 1983), h. 30
[3] Abdul Razaq Naufal, Allah; Dari Segi Ilmu Pengetahuan Modern (Cet. I; Surabaya: Dana Bhakti Primayasa, 1983), h. 11
[4] Abd. Rahman Dahlan, Kaidah Penafsiran Al-Quran (Cet. I; Bandung: Mizan, 1997), h. 231.  
[5] Lihat Muhammad Fu’ad Abd. al-Baqy, Al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfazh al-Qur’an al-Karim (t.t.: Maktabah Dahlan, t.th.), h. 15-17.
[6] Lihat QS. al-Alaq (96): 4-5.
[7] Fazlur Rahman, Qur’an Science, diterjemahkan oleh M. Arifin dengan judul  Alquran Sumber Ilmu Pengetahuan (Cet. I; Bandung: Mizan, 1989), h. 71
[8] Departemen Agama RI, op. cit., h. 550
[9] Abdur Razak Naufal, op. cit., h. 25
[10] Umar Shihab, Alquran dan Rekayasa Sosial (Cet. I; Jakarta: Pustaka Karunia, 1990), h. 90
[11] Ahmad Warson Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir (Cet. XIV; urabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 20.
[12]Ibid. Lihat juga Hussin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar Lengkap Arab-Indonesia (Cet. III; Surabaya: Yayasan Pesantren, t.th.), h. 279.
[13]Subhi al-Shalih, Mabahis fiy ‘Ulum Al-Qur’an (Beirut: Dar al-’Ilm liy al-Malayin), h. 1977,   h. 21 
[14] Departemen Agama RI, op. cit., h. 310
 [15]Muhammad Jamaluddin al-Fandy, Alquran Tentang Alam Semesta (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 19-20.
 [16]Abd. Razak Naufal, op. cit., h. 133
[17]Asbâb al-nuzûl adalah sesuatu yang melatar belakangi turunnya suatu ayat atau lebih, sebagai jawaban terhadap suatu peristiwa atau menceritakan suatu peristiwa, atau menjelaskan hukum yang terdapat dalam peristiwa itu. Lihat Dawud al-Attâr, Mu’jaz ‘Ulûm al-Qur’ân diterjemahkan oleh Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad dengan judul Perspektif Baru Ilmu Al-Quran (Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 127.
[18]Munâsabah al-ayah adalah ; segi-segi hubungan antara satu kalimat lain dalam satu ayat, antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam banyak ayat, atau antara satu ayat dengan surah yang lain. Lihat Mannâ’ al-Qatthân, Mabâhits Fî ‘Ulûm al-Qur’ân (Beirut: Dâr Mansyûrât al-Ashr al-Hadits, 1973), h. 97.
[19]Abd. Al-¦ayy al-Farm±wi, Al-Bid±yat Fi al-Tafs³r al-Maw«­’i diterjemahkan oleh Suryan A.Jamrah dengan judul Metode Tafs³r Mawdhu’iy (Cet.I:Jakarta: LSIK dan Raja Rafindo Persada, 1994), h. 52. Di sini al-Farmawi merumuskan konsep metode tafs³r maudhu’i tersebut sebagai usaha menghimpun ayat-ayat Alquran yang memiliki tujuan yang sama, menyusunnya secara kronologis selama memungkinkan dengan mem-perhatikan sebab turunnya, menjelaskannya, mengaitkannya dengan surah tempat ia berada, menyimpulkan dan menyusun kesimpulan tersebut ke dalam kerangka pem-bahasan sehingga tampak dari segala aspek, dan menilainya dengan kriteria pengetahuan yang sahih, juga M. Quraish Shihab, Tafsir Alquran Masa Kini (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1983), h. 9. Juga Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah; Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran (Cet II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h. 20. Juga Harifuddin Cawidu, Konsep Kufr Dalam Alquran; suatu Kajian Teologis dengan Pendekatan Tafs³r Tematik (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 21-25.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG AL-ARDH
A. Pengertian Al-Ardh
Dalam bahasa Arab, term al-ardh (الأرض) merupakan bentuk tunggal (إسم المفرد) berarti bumi, jamaknya ardhûna (أرضون) atau arâdiy (أراضى).[1] Menurut Ibn Zakariyah, term al-ardh yang terdiri atas tiga huruf; الهموة – الراء – الضاض  sehingga terbaca “الأرض” memiliki tiga makna dasar. Yakni; (1) الزكمة berarti releks; (2) الرعدة berarti gemetar; dan (3) اعالة berarti tinggi.[2] Dari keiga makna ini, maka dapat saja dikatakan bahwa bumi itu memiliki sifat yang releks disebabkan ia sebagai tempat bertumpuh. Boleh juga dikatakan gemetar disebabkan kadang terjadi goncangan di bumi. Yang terakhir, adalah tinggi di-sebabkan di bumi itu ada gunung yang menjulang.
Terkait dengan pengertian di atas, Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia ditemukan beberapa batasan umum tentang bumi. Yang pertama adalah tanah.[3] Dikatakan demikian, karena unsur dominan yang nampak di bumi adalah tanah. Yang kedua adalah dunia.[4] Dikatakan demikian, karena bumi mengambil posisi di dunia ini. Yang ketiga adalah bola.[5] Dikatakan demikian, karena bentuk bumi adalah bundar.
Menurut Ilmu Pengetahuan Alam, yang dimaksud dengan bumi adalah salah satu tata surya atau planet yang berputar pada sumbunya secara sistematis.[6] Terjadinya siang dan malam di bumi, dikarenakan adanya matahari yang membawa cahaya mengelinginya. Jika bumi berhadapan dengan matahari tanpa di antarai planet lain maka terjadilah siang, demikian pula sebaliknya.
Dengan berputarnya bumi dan terjadinya siang dan malam, sehingga dapatlah diketahui bilangan hari. Di samping bumi berputar mengelilingi sumbunya, bumi juga berputar mengelilingi matahari. Satu kali putaran selama 365 ½ hari, maka terjadilah satu tahun Syamsiah menurut peredaran bumi mengelilingi matahari. Tahun Qamariah dihitung menurut peredaran bulan mengelilingi bumi dalam setahun dua kali putaran.
Bumi juga bisa berarti planet ketiga dalam tata surya, dilihat dari jaraknya ke matahari, kelima dari besar bentuknya. Dalam astronomi berlambang  atau jari-jari ekuatornya 6378,1 km; jari-jari kutub 6356,8 km.[7]
Di dalam bumi ini, didiami makhluk hidup dan mati. Modelnya, seperti bola raksasa yang bergaris tengah 12.756.776 M. di khatulistiwa dan 12.713824 M dikutubnya. Kutub Utara dan kutub Selatan agak pepat luas permukaan bumi lebih dan kurang 510.101.000 Km2. Lebih dari 70 % bumi  di antaranya adalah lautan (samudera). Isi bumi 1.083 x 10  27 / M3. Bumi itu berputar pada sumbunya. Kecepatan bumi mengelilingi matahari 29.762 km / detik (kecepatan rata-rata). Ke-cepatan bumi pada helionya 30.256,7 km / detik. Bumi itu dilapisi oleh atmosper yang  terdiri dari bermacam-macam gas.[8]Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, hanya bisa hidup di dalam astrofrosfer. Di lapisan trasforsfer dan trasforser inilah susunan gas yang  memungkinkan adanya kehidupan di bumi.
Bumi memang bundar, tetapi picak di kutubnya. Kepicakan itu tercatat 1/297 di mana garis tengah kutub ke kutub dan garis tengah katulistiwa berbanding 296/297. Keliling katulistiwa 40076,60 km. Kala rotasi perputaran pada sumbunya sendiri 23 jam 26 menit kala revolusi tempo untuk sekali mengelilingi matahari 365,264 hari menurut volume, angkasa bumi terdiri atas 78 % unsur netrogen (n) 20,9 % unsur oxigen; 0,9 unsur argon dan 0,03 % unsur dioksidanya. Selain itu angkasa bumi berisi uap air yang berubah-ubah. Tekanan udara pada bumi rata-rata 760 mm.[9]
Lapisan angkasa bumi terdiri atas troposfer (0-16 km pada ekuator: trasopsper sampai kira-kira 75 km). Ionosper (lapisan terionisasi), dari 75-sampai kira-kira 600 km ionosper. Ini berlaku seagai pemantul gelombang radio, lapisan di atas inosper diberi nama eksosper yang lambat laun akan menyatu dengan ruang antar planet. Bumi diselubungi oleh sabuk radiasi van allen (ditemukan pada awal penerbangan angkasa luar, 1955).[10]
Sabuk radiasi ini terdiri dari dua bagian utama. Yang dekat bumi dinamai sabuk radiasi di dalamnya terdapat jarak 3.000 km. dari muka bumi, bagian luar terdapat pada jarak antara 18.000 – 2.000 km. Dalam sabuk van allen ini terkumpul zarrah bermuatan listrik berasal dari matahari, yang tertangkap oleh medan magnet bumi (sebesar 0,5 gaus pada muka bumi). Inti bumi bersuhu 7.000 k; kerapatannya 10 gm tiap cm) kerapatan rata-rata 5,5 gm tiap cm. Dari penyelidikan radio aktif umur bumi diduga mencapai 4 milyar/ tahun. Massa bumi ditaksir 5,975 x 10 (27) gm.[11]
Permukaan bumi tertutup oleh hidrosper dan daratan yang diwakili oleh benua dan pulau. Samudra, laut, selat dan teluk menempati 7 % permukaan bumi, sebagian besar di belahan bumi selatan. Daratan menempati daerah lebih luas di sebelah utara katulistiwa. Puncak tertinggi dicapai G.
Eferes (840 M) dan parit samudra terdalam mencapai ke dalam 107000 m. litosper bagian lapisan atas disebut kerak bumi yang terdiri batuan bersifat geranik yang membentuk benua dan batuan bersusun. Tebal kerak bumi berkisar antara 5 km di bawah dasar samudra 50 km di bawah benua kerapatannya rata-rata 2,85 gm/cm di bagian bawah ketebalannya 2898 km dari batas atas, yang dinamakan batas atas mantel bumi. Perbatasan antara kerak bumi dengan mantel ditentukan atas dasar perubahan kecepatan gelombang gempa yang tiba-tiba dan disebut diskontinuitas Moho (di mana diambil dari seorang dari gempa Yugoslavia).[12]
Pada kedalaman 2898 km terdapat batas mantel dengan inti bumi. Inti bumi terdiri dari dua lapisan, bagian atas berupa logam cair dan bagian dalam terdiri dari campuran padat. Penentuan lapisan inti didasarkan atas ketidak mampuan gelombang gempa transperal (gelombang S) melalui inti yang cair.
Selanjutnya dalam Ensiklopedia Al-Quran dikatakan bahwa bumi yang kita diami ini terdiri dari air laut dan darat, lebih kurang 71 % lautan. Jaraknya dari matahari 93.000.000 ml dan bumi termasuk salah satu dari sembilan planet beredar mengelilingi matahari.[13]
Bumi berputar mengelilingi sumbunya dari barat ke timur maka matahari kelihatan terbit dari timur ke barat. Satu kali putaran 24 jam dan karenanya terjadi siang dan malam. Di mana bahagian yang berhadapan dengan matahari menjadi terang (siang) sedang yang membelakangi matahari menjadi gelap (malam).
Pada permukaan bumi terdapat lautan, gunung, danau, sungai dan daratan. Dalam berbagai lapisan bumi, terdapat berbagai benda emas, perak, timah, minyak tanah dan sebagainya. Bahkan terdapat pula gunung berapi baik di darat maupun di laut.
Menurut Ilmu Pengetahuan Alam, bumi ini berasal dari pecahan matahari bersama planet-planet lain. Bulan pecahan dari bumi atau pecahan dari matahari, matahari sama dengan bumi. Pertumbuhan bumi mengalami masa yang panjang. Mulai dari bola api yang panas (pecahan matahari), kemudian kulitnya menjadi dingin sedang yang di dalamnya masih panas. Maka timbullah letupan-letupan yang menyebabkan terjadinya gunung, bukit, dan lurah. Dengan turunnya hujan terjadilah lautan, danau, sungai dan tumbuh pula lah berbagai macam tanaman-tanaman serta lahir berbagai makhluk hidup. Sesudah itu, barulah bumi ini di diami manusia, sehingga manusia itu berkembang biak di bumi ini sampai sekarang.[14]
Adapun penciptaan bumi menurut teori Ilmu Filsafat, oleh al-Farabi mengatakan bahwa bumi ini tercipta melalui teori emansi dalam arti bahwa wujud Tuhan melimpakan wujud alam semesta. Emanasi itu terjadi melalui tafakkur. Tuhan berpikir tentang zat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain berpikirnya Allah swt. tentang zat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini dalam arti bahwa yang memberi wujud kekal dari segala yang ada.
Tahap berikutnya, berpikirnya Allah swt. tentang zat-Nya yang Esa melimpahlah yang terbilang pertama, yaitu akal pertama. Dengan demikian Tuhan yang dalam dirinya tak terdapat arti banyak, secara langsung hanya menciptakan yang satu. Dalam zat Tuhan, kata Al-Farabi tidak terdapat arti banyak, arti banyak terdapat sesudah ruh-Nya. Arti banyak mulai terdapat pada akal pertama, kalau Allah swt meruapakan wujud pertama, akal pertama wujud kedua. Sebagai wujud kedua, tidak lagi mempunyai satu obyek tafakkur. Tetapi dalam tafakkur-Nya terdapat dua obyek dan ini sudah mengandung arti banyak. Maksudnya, akal pertama berpikir yang merupakan kudrah tentang Allah swt. mewujudkan akal kedua, dan berpikir tentang diri-Nya, mewujudkan langit pertama. Akal kedua juga berpikir tentang Tuhan dan mewujudkan langit pertama. Akal kedua juga berpikir tentang Tuhan dan mewujudkan akal ketiga dan berpikir tentang diri-Nya mewujudkan alam bintang. Akal ketiga sampai dengan akal kesepuluh juga berpikir tentang Allah swt dan tentang diri masing-masing. Berpikir tentang Tuhan menghasilkan akal-akal dan berpikir tentang diri menghasilkan planet-planet. Demikianlah akal ketia mewujudkan akal keempat dan saturnus, akal keempat mewujudkan akal keenam dan Mars, akal keenam mewujudkan akal ketujuh dan matahari, akal ketujuh menghasilkan kedelapan dan Venus, akal kedelapan mewujudkan akal kesembilan dan Mercurius, dan akal kesembilan mewujudkan  akal kesepuluh dan bulan. Tetapi, berpikirnya akal kesepuluh tidak menghasilkan akal yang diwujudkannya hanya bumi.[15]

Dari keterangan di atas, jelaslah bumi ini tercipta melalui proses yang sangat panjang. Itulah latar belakang terciptanya bumi menurut teori Ilmu Alam dan teori Ilmu Filsafat. Teori ini, identik dengan teori yang dikemukakan oleh Alquran dan kajiannya akan diuraikan secara spesifik pada pembahasan mendatang.
B. Konsep Umum Tentang al-Ardh
Batasan al-ardh dalam konteks kekinian telah berkembang maknanya. Sebagai akibat dari itu, maka term al-ardh dalam Alquran dewasa ini diidentikkan dengan tiga konsep. Yakni;  dunia, tanah dan tempat tinggal manusia.[16]
1. Dunia
Manusia dalam mengarungi hidupnya, terdiri atas empat tahap. Yang pertama, kehidupan di alam kandungan.[17] Kedua, kehidupan di alam  dunia.[18] Ketiga, kehidupan di alam barzah (kubur).[19] Keempat, kehidupan di alam akhirat.[20] Kehidupan di alam kandungan, alam dunia dan alam barzah hanyalah sementara, sedangkan kehidupan di alam akhirat, itulah yang kekal.[21]
Masalah kehidupan di dunia (العالم), disebutkan dalam Alquran sebanyak 112 kali.[22] Dunia dalam bahasa Arab artinya dekat,[23] adapula yang mengartikan hina.[24] Dikatakan “dekat” karena umur dunia ini tidak lama. Dikatakan “hina” karena dunia ini tempat kehinaan dan kesengsaraan, penyebab dari segala malapetaka.
Karena kehidupan di dunia sifatnya sementara, maka Islam dengan segala bimbingan dan arahannya mengaharapkan adanya keseimbangan jasmani dan rohani. Itu disebabkan karena kehidupan di dunia merupakan jembatan atau kendaraan menuju akhirat sebagai kehidupan yang abadi.[25] Dalam QS. al-Ra’d (13): 26 Allah swt. ber-firman :

اَللهُ يَبْسُطُ الرِزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ، وَفَرِحُواْ بِالحَيَوةِ الدُنْيَا وَمَا اْلحَيَاةُ الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ اِلاَّ مَتَاعٌ.
Terjemahnya :
‘Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).’[26]
Dengan mengetahui eksistensi kehidupan di dunia sebagaimana dalam ayat di atas, tentu akan mendorong manusia untuk menyediakan bekal (beramal), mengerjakan perbuatan baik yang akan diterima pahalanya di akhirat kelak yang sifatnya abadi. Jadi, hidup ini amat baik dan berharga untuk dipergunakan dengan baik-baiknya dalam arti; jangan disia-siakan dan terbuang percuma.
Alquran tidak melarang manusia untuk merasakan keuntungan dan kebahagiaan di dunia. Hanya saja, diingatkan jangan sampai me-lampaui batas sehingga merugikan diri sendiri atau orang lain. Pem-batasan ini perlu, manusia jangan sampai salah menpergunakan kekayaan, kekuasaan dan pengetahuan di dunia ini, dengan wahana yang telah berlumur dosa dan maksiat bisa membawa kepada ke-runtuhan, kehancuran dan kekacauan bagi mereka sendiri.
Terkait dengan itu, Alquran menggambarkan bahwa ke-hidupan dunia ini bagaikan tanaman yang tumbuh dan berkembang sampai ke tingkat yang menakjubkan, kemudian layu, kering dan hancur. Riwayat dunia cukup mengambarkan, bagaimana suatu bangsa naik dan bangun ke tingkat kebesaran yang setinggi-tingginya, kemudian meluncur turun, lemah, sengsara dan binasa, bahkan hilang lenyap dari permukaan bumi. Yang tinggal hanya riwayatnya. Alquran juga mengingatkan, bahwa kesenangan dunia dan kemewahannya hanyalah bersifat sementara, banyak di antaraya kesenangan yang ber-akibat keresahan yang berlama-lama, kegembiraan yang sebentar nian, bersambung dengan duka cita dalam masa yang  panjang. Dalam QS. al-Kahfi (18): 46 Allah swt. berfirman :

اَلمْاَلُ وَاْلبَنُوْنَ زِيْنَةُ اْلحيَوَةَ الدُنْيَا وَاْلبَقِيَتُ الصَّلِحَتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرُ اَمَلاً.
Terjemahnya:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.[27]
Dari ayat di atas, diketahui bahwa harta benda dan anak hanya merupakan perhiasan dalam kehidupan dunia, sedang perbuatan baik (amal shaleh) akan mendapat pahala yang lebih baik dan kekal. Orang yang tidak beriman hanya mengakui kehidupan dunia semata dan tidak mempercayai hari kebangkitan. Dengan demikian, Islam menuntut seseorang untuk menghindari sifat iri atau dengki terhadap orang lain yang memperoleh kesenangan hidup di dunia dan segala kemewahan-nya karena mungkin saja di akhirat tiada mendapat apa-apa selain dari hukuman dan siksa. Dalam QS. Thaaha (20): 131 Allah swt. berfirman

ولا تمدن عينيك الى مامتعنا به ازواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه ورزق ربك خير وابقى
Terjemahnya:                          
“Dan janganlah kamu arahkan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.”[28]
Jelaslah bahwa Allah swt menerangkan kepada manusia tentang hal-hal yang mudah dipengaruhi oleh kenikmatan hidup duniawi, yang oleh Allah dijadikan sebagai cobaan bagi manusia. Hidup di dunia mesti menghindarkan diri dari kemewahan yang berlebih-lebihan sehingga menjadikan sadar dan ingat akan yang menciptakan. Oleh karena itu, hidup dengan sikap zuhud dan sedarhana menjadi enteng dan menyenangkan, sedangkan hidup dengan sikap tamak dan serakah menjadi sulit dan melelahkan. Sesungguhnya dunia tidak ubahnya seperti pengantin yang membuat manusia tertarik kepadanya, dia pun menipunya, tatkala manusia telah dekat kepadanya, dia pun menipunya dan mencampakkannya. Ini diperjelas dalam QS. ar-Ruum (30): 7.
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِنَ اْلحَيَوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الاَخِرةِ هُمْ غَفِلُوْنَ.
Terjemahnya:
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.[29]
Dengan ayat di atas, maka bukan berarti harta harus dimusnah-kan atau sampai-sampai mengharamkannya. Tetapi dengan kehidupan dengan pasilitas apa adanya akan membawa seseorang untuk mendekat-kan dirinya Allah swt. Itu disebabkan karena kehidupan dunia hanya ketampakan lahiriyah sementara akhirat sebaliknya.[30]
Manusia yang ideal menurut Islam adalah yang memadukan dua kebaikan, yakni dunia dan akhirat. Berbuat untuk dunia seakan-akan dia akan hidup selamanya dan berbuat untuk akhirat seakan-akan dia akan mati esok hari.
Mata pencaharian dan pekerjaan duniawi bukan sekedar masalah yang mubah, tetapi dituntut juga wajib, tergantung kepada masyarakat. Mencari pencaharian di dunia dengan berbagai macam ragamnya, ada yang mubah di satu sisi dan ada pula yang wajib di sisi lain. Umpamanya; siapa yang memanfaatkan kerja orang lain dalam masalah makan, pakaian dan tempat tinggalnya maka dia harus berbuat pula bagi orang lain itu dengan kadar yang sama (seimbang dalam menerima dan memberi). Jika tidak dilakukannya seperti itu, berarti dia adalah orang zalim.” Siapa yang ridha terhadap sesuatu ynag sedikit dari pekerjaannya, maka dia tidak menerima keduniaan kecuali hanya sedikit pula.
2. Tanah
Kata tanah (تراب) dalam Alquran terulang sebanyak 43 kali.[31] Menurut beberapa literatur, tanah memiliki beberapa pengertian antara lain; (1) Danau besar di bagian barat Ethiopia. Berukuran kurang lebih 80 km x 64 km, luasnya kira-kira 5.120 km. menjadi sumber air sungai Nil; (2) Sungai, berhulu di Kenya Tengah, Afrika Timur. Pada mulanya mengalir dari barat ke timur, kemudian menbelok keselatan, bermuara ke samudra Hindia dan Kipini. (3) Campuran bagian-bagian batuan dengan mineral-mineral serta bahan-bahan organik (sisa kehidupan), yang timbul pada permukaan bumi, hidup kebanyakan tumbuh-tumbuhan.[32] Lazimnya, tanah bersifat asam, netral atau alkalik. Kesuburan tanah secara relatif, bergantung kepada tekstur susunan kimia, persediaan air, sifat tanah bawah dan iklim di atas. Pupuk buatan dan penggarapan tanah dapat menambah kesuburan, tetapi pada suatu waktu akan susut jika kadar organisme dalam tanah tidak dipertahan-kan.
Faktor utama dalam pertanian adalah tanah, karena dengannya menghasilkan berbagai kekayaan seperti mineral dan kekayaan bumi lainnya.[33] dengan demikian, tanah dalam kehidupan manusia sangatlah berpengaruh besar, karena dari tanah, manusia bisa hidup dari mata pencaharian yang asalnya dari tanah kemudian manusia pun asalnya dari tanah. Oleh karena itu pemberian Allah yang sangat berharga ini patutlah disyukuri dan patut pula dijaga.
Tanah pada umumnya, berasal dari batu-batuan yang kemudian hancur menjadi tanah. Berubahnya batuan menjadi butir-butir tanah dikarenakan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pemanasan matahari yang terus menerus.
b. Batuan yang sudah retak-retak dipercepat pelapukannya oleh air.
c. Akar tumbuh-tumbuhan dapat menerobos dan memecah bebatuan se-hingga hancur.
d. Binatang- binatang kecil, seperti cacing tanah dan rayap selalu mem-buat lubang didalam tanah dan mengeluarkan zat-zat yang dapat menghancurkan tanah.
Oleh karena itu, apabila penjelasan di atas dikaitkan dengan firman Allah swt. maka ditemukan korelasinya dalam QS. Al-Baqarah (2): 22 sebagai berikut;

الذى جعل لكم الارض فراشا والسماء بناء، وانزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم فلا تجعلوا لله اندادا وانتم تعلمون
Terjemahnya:
‘Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan dia menjadikan air hujan dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu meng-adakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui’.[34]
Kata lakum (لكم) dalam ayat di atas, menunjukkan arti manfaat. Maksudnya, untuk dimanfaatkan bagi setiap orang. Antara lain pemanfaatan itu, ada yang berhubungan dengan masalah makan dan ada pula yang berhubungan dengan masalah keperluan sehari-hari seperti pakaian, perumahan dan sebagainya.[35] Lebih lanjut al-Marâgiy me-nyatakan bahwa adanya hujan yang diturunkan Allah swt. mengakibat-kan hidupnya tumbuh-tumbuhan di tanah (sawah) tersebut. Dari tumbuh-tumbuhan yang hidup itu, membuahkan hasil yang sangat bermanfaat bagi manusia.[36] Adapun penjelasan dari iman al-Syaukani, beliau menyatakan bahwa; yang dimaksud pemanfaatan pada ayat di atas, bukan satu macam pemanfaatan saja, misalnya makan bahkan termasuk semua yang layak untuk dimanfaatkan dari segala seginya. Umpamanya, sekalipun menurut sunnah tanah itu haram dimakan, namun juga bermanfaat untuk hal-hal yang lain. Dan sebagai bekal pemanfaatan ini, manusia dibumi ini dan kekuatan yang dimilikinya serta pemanfaatan hasil bumi itu, selalu memerlukan penjagaan hidupnya, kekuatannya dan keaktifannya dengan makanan, obat-obatan, pakaian tempat tidur dan perumahan, juga perlu sarana, alat dan sebagainya.[37]
Oleh karena itu, manusia berhak menguasai sebagian tanah untuk ditanami tumbuh-tumbuhan, mereka berhak menguasai pohon-pohonan, memproduksi tambang-tambangnya seperti minyak dan sebagainya. Atau mendirikan rumah, gedung, pertokoan, pabrik dan lain-lain. Yang demikian itu, karena Allahlah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya.
3. Tempat Tinggal
Bumi Allah itu luas maka apa yang diberikan oleh-Nya hendaknya dimanfaatkan. Dalam QS. al-Nisa (4): 97  Allah swt. ber-firman :
قَالُوْا اَلمَْ تَكُنْ اَرْضُ اللهِ وَاسِعًا فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا
Terjemahnya :
‘Para malaikat berkata; “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?’[38]
Ayat di atas, memberikan pemahaman bahwa bumi ini sangat luas dan bagi manusia adalah tempat mereka berhijrah dalam arti mereka dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk melangsungkan hidupnya.[39] Jadi, dengan informasi bahwa bumi ini sangat luas maka tentu manusia secara bebas berdiam dan beraktifitas di dalamnya.
Di samping itu, dapat pula dipahami bahwa menurut pengertian lahiriahnya, yaitu bahwa bumi ini memandang luas, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak berbuat baik dan berbakti kepada Allah hanya karena kebetulan tempat ia berdiam dan hidup tidak memungkinkan. Dengan perkataan lain, manusia dianjurkan untuk menjelajah bumi dan melihat kemungkinan yang ada di luar bumi itu sendiri.
Menurut Nurcholish Madjid, dengan berdiamnya manusia di bumi ini mereka digugat untuk tidak hanya menetap di satu atau di satu wilayah saja, melainkan mereka harus berpindah-pindah (transmigrasi) untuk berbuat sesuatu yang bakal mengangkat harkat dan martabatnya yang diperoleh dari iman dan bakti kepada Tuhan yang Maha Esa.[40]     
Para malaikat yang bertugas mematikan manusia nanti akan menggugat manusia, mengapa manusia itu tidak berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain jika memang ditempat itu mereka tidak dapat berbuat banyak untuk cita-cita-nya yang luhur seperti diajarkan oleh agama. Padahal sudah dikatakan sebelumnya bahwasannya bumi itu luas. Artinya secara moral sebetulnya dalam keadaan bagaimanapun manusia tetap dituntut bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan tidak dibenarkan dengan gampang mencari dalih untuk tidak mencari hal yang terbaik dalam hidup ini.
Sebab dengan adanya akal dan pikiran yang telah dikaruniakan Allah swt. kepada manusia, maka wajiblah atas manusia itu untuk selalu berikhtiar untuk mencari kemungkinan yang terbaik dalam hidup ini. Biarpun untuk itu manusia harus berhijrah dari tempat asal-nya dan ini menjadi sumber dinamika bagi mereka yang benar-benar beriman, yang tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah swt. Terkait dengan uraian ini, dalam QS. Fushshilat (41): 9 Allah swt. berfirman
كل ائنكم اتكفرون بالّذيخلق الارض في يومينوتجعلون له انداد اذلكربّ العلمين.
Terjemahnya:
‘Katakanlah sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya ? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.’[41]

Dalam firman-Nya yang lain, yakni QS. al-A’raf (7): 54 dinyatakn bahwa :
انّ ربّكم الله الّذي خلق السّموت والارض في ستّة ايّام.
Terjemahnya:
‘Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah men-ciptakan langit dan bumi dalam enam masa.’[42]

Dari dua ayat di atas, Ali Akbar menjelaskan dalam bukunya God and Man bahwa penciptaan mengalami frase-frase tertentu, yakni langit-langit dan bumi diciptakan dalam enam periode / masa dan juga enam hari. Ada orang-orang yang berpendapat lain tentang istilah ini, tapi dalam istilah yang umum pembicaraan tentang periode enam hari adalah periode waktu. Bedanya hanya bentuk satuan waktu / hari dalam perhitungan di bumi, tidak dapat disamakan dengan satuan perhitungan waktu menurut Allah dan ciptaan-Nya. Sedangkan menurut kitab suci Alquran, satu hari perhitungan dunia lima puluh tahun, bahkan sama dengan lima puluh juta tahun dalam perhitungan Tuhan.[43]

Dari uraian-uraian terdahulu, dapatlah dirumuskan bahwa bumi dibatasai dengan tiga konsep, yakni; dunia, tanah dan tempat manusia berdiam. Dunia meliputi segala jagad raya dan unsur terbanyaknya adalah tanah. Tanah inilah sumber utama dalam pemenuhan kebutuhan karena di dalamnya diproleh makanan, minuman dan fasilitas lainnya.   Dengan adanya fasilitas tersebut maka dengan mudah manusia mendiaminya dan melakukan aktifitas dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari.
[1]Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 1984), h. 20. Lihat juga Hussin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar Lengkap Arab-Indonesia (Cet. III; Surabaya: Yayasan Pesantren, t.th.), h. 279.
[2]Abu Husain Ahmad bin Faris Ibn Zakariyah, Maqayis al-Lughah, juz II (Cet.II; Mesir: Mustafa al-Baby al-Halabiy, 1971), h. 79.
[3]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 1984), h. 165.
[4]Ibid.
[5]Ibid.
[6]Muhammad Ramli, Ilmu Alamiah Dasar “Diktat” (Ujung Pandang: Fakultas Ushuluddin, 1993), h. 6.
[7]Hassan Shadily, Ensiklopedia Indonesia (Jakarta: Van Hoeve, 1980), h. 535
[8]Syaril Zain, Renungan Subuh (Cet. I; Siliwangi: Karya Dunia Pikir, 1997), h. 58
[9]Ibid.
[10]Ibid., h. 536
[11]Ibid.,
[12]Ibid. h. 537.
[13]Fachruddin Hs. Ensiklopedia Al-Quran, jilid I (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1952), h. 246
[14]Muhammad Ramli, op. cit., h. 11-12.
[15]Demikian uraian al-Farabiy sebagaimana yang dikutip Harun Nasution, Filsafat Mistisisme (Cet.II; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 32.
[16]Lihat Ali Audah, Konkordansi Qur’an; Panduan Kata Dalam Mencari Ayat Al-Quran (Cet.I; Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 1996), h. 11.
[17]Lihat QS. al-Zumar (39): 6
[18]Lihat QS. al-Nahl (16): 5
[19]Lihat QS. al-Mu’min (40): 41
[20]Lihat QS. al-A’raf (7): 57.
[21]Abd. Fatah, Kehidupan Manusia di Tengah-tengah Alam Materi (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 23
[22]Asharuddin Sahil, Indeks Al-Quran, Panduan Mencari Ayat Al-Quran Berdasarkan Kata Dasarnya (Cet. I; Bandung: Mizan, 1994), h. 174
[23]Louis Ma’luf, Al-Munjid Fiy Al-Lugah (T.t.: Dar al-Masyriq, 1977), h. 43.
[24]Ibn Zakariyah, loc. cit. Lihat pula Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), h. 277.
            [25]Fachruddin HS., op. cit., h. 3. 
            [26]Departemen Agama RI., op. cit., h. 373.
[27]Ibid., h. 451
            [28]Ibid., h. 492. 
[29]Ibid., h. 642
            [30]Khalil Mushawiy, Kaifa Tabniy al-Syahshiyah, diterjemahkan oleh Ahmad Subandi dengan Judul  Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Resep-resep Mudah dan Sederhana Membentuk Kepribadian Islam Sejati (Cet. II; Jakarta: Lentera, 1999), h. 9.   
[31]Lihat Muhammad Fu’ad Abd. al-Baqy, op. cit., h. 22. Lihat juga Hasan Sadili, Ensiklopedia Indonesia (G-SHI-VAJ), (t.c; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1984), h. 34-38.
[32] Khalil Mushawiy,  op. cit., h. 16
            [33]Hassan Shadiliy, loc. cit.
            [34]Lihat Departemen Agama RI, op.cit., h. 11.
[35]Lihat Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid I (Cet.II; Jakarta: Pustaka Panjimas, 1992), h. 121.
[36]Lihat Ahmad Mustafa al-Marâgiy, Tafsîr al-Marâgiy, juz I (Mesir: Mushtafa al-Baby al-Halabiy wa Awladuh, 1973), h. 101.
[37]Demikian penjelasan al-Syaukaniy yang dikutip oleh  Khalil Mushawiy,  loc. cit.
[38]Departemen Agama RI., op. cit., h. 137.
[39]Hamka, op. cit., jilid V, h. 222
            [40]Lihat Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan  (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1994), h. 106.  
            [41]Departemen Agama RI., op. cit., h. 774
            [42]Ibid., h. 230
[43]Ali Akbar, God and Man, diterjemahkan oleh Ahmad Rais dengan judul  Allah dan Manusia Akar Kejadian dan Hari Akhirat al-Quran dan Sains Modern (Cet. I; Surabaya: Bina Ilmu, 1989), h. 77
BAB III
AYAT-AYAT TENTANG AL-ARDH DAN ANALISISNYA
Untuk mengetahui dan memahami eksistensi al-ardh menurut Alquran, maka dalam bab ini akan dikemukakan ayat-ayat tentang al-ardh dengan sub bahasan; ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah serta analisisnya.

Dalam menentukan kriteria ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam bahasan ini, digunakan beberapa pendekatan, yaitu;
1. Metode al-Sumâ’iy al-Naqliy, yakni pendekatan yang dilakukan dengan bersandar pada riwayat-riwayat yang sahih dari sahabat yang mengeluarkan wahyu (ayat) tersebut atau dengan menyaksikan secara langsung turunnya ayat, atau dari tabiin yang bertemu langsung dengan sahabat dan mendengarkan bagaimana cara turunnya ayat dan di mana tempatnya.
2. Metode al-Qiyâs al-Ijtihâdiy, yakni pendekatan yang di-dasarkan kekhususan-kekhususan ayat yang ada pada ayat Makkiyah dan Madaniyah sehingga jika didapatkan dalam surah Makkiyah yang menjadi kekhususan pada surah atau ayat Madaniyah, maka di-tetapkanlah bahwa surat atau ayat tersebut termasuk Madaniyah, demikian pula sebaliknya.[1]
A. Ayat-Ayat Makkiyah
Yang dimaksud ayat-ayat Makkiyah adalah surah atau ayat yang diturunkan sebelum Nabi saw. hijrah, sekalipun turunnya di luar wilayah Makkah.[2] Ciri-ciri ayat-ayat Makkiyah adalah; (a) dimulai dengan kalimat ياأيها الناس…  atau يابنى آدم… ; [3] (b) ayat-ayatnya pendek; (c) kebanyakan mengandung masalah tauhid, azab dan nikmat di hari kemudian serta urusan-urusan kebaikan;[4] (d) terdapat kata كلا ; (e) diawali dengan huruf-huruf “ن،ق، “ألمر; kecuali surah al-Baqarah dan Ali Imran; (f) terdapat ayat-ayat sajadah; (g) terdapat kisah-kisah nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali dalam surah al-Baqarah dan Ali Imran.[5]
Ayat-ayat tentang al-ardh yang tergolong Makkiyah, adalah sebagai berikut :
1. QS. QS. an-Naml (27): 62
ويكشف السوء ويجعلكم خلفاء الارض
Terjemahnya:
‘Dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi’.[6]

2. QS. al-Dzâriaat (51): 20
وفي الارض آيت للموقنين .
Terjemahnya:
‘Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.’[7]
3. QS. al-Ghâsiyah (88): 17-20
أفلا ينطرون إلى الأبل كيف خلقت (17) وإلى السماء كيف رفعت
(18) وإلى الجبال كيف نصبت (19) وإلى الأرض كيف سطحت (20)
Terjemahnya :
‘Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan. Dan langit bagaimana ia tinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia di-hamparkan’[8]
4.  QS. al-Burûj (85): 9
الذي له ملك السموت والارض، والله على كل شيئ شهيد
Terjemahnya :
‘Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah me-nyaksikan segala sesuatu.’[9]
Keempat surah atau ayat di atas, menerangkan tentang al-ardh. Itu disebabkan karena setiap rangkaian kalimatnya termaktub term-term الأرض . Menurut Mannâ’ al-Qaththân keempat surah atau ayat di atas tergolong Makkiyah.[10] Demikianlah ayat-ayat tentang al-ardh yang tergolong Makkiyah.

B. Ayat-Ayat Madaniyah
Yang dimaksud ayat-ayat Madaniyah adalah surah atau ayat yang diturunkan sesudah Nabi saw. hijrah, sekalipun turunnya di luar wilayah Madinah.[11] Ciri-ciri ayat-ayat Madaniyah adalah; (1) dimulai dengan kalimat ياأيها الذين آمنوا;[12] (2) ayat-ayatnya agak panjang; (3) kebanyakan mengandung mu’amalah, amalan-amalan sosial ke-masyarakatan, umum dan ilmu pengetahuan serta yang lain-lainnya.[13] Termasuklah di sini masalah bumi (الأرض) yang secara substansial ter-masuk masalah umum dan ilmu pengetahuan. Berikut ini, dikemukakan ayat-ayat yang dimaksud.
1. QS. al-Baqarah (2): 11
واذا قيل لهم لا تفسدوا فى الارض قالوا انما نحن مصلحون .
Terjemahnya:
‘Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kamu membeuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: sesungguhnya kami orang-orang mengadakan perbaikan’.[14]

2. QS. al-Baqarah (2): 22
الذى جعل لكم الارض فراشا والسماء بناءا .
Terjemahnya:
‘Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap”.[15]

3. QS. al-Baqarah (2); 27
ويقطعون ما امر الله به ان يوصل ويفسدون فى الارض اولئك
هم الخاسرون .
Terjemahnya:
‘Dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah yang merugi”[16]
4. QS. al-Baqarah (2): 30
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ اِنِّى جَاعِلٌ فىِ اْلاَرْضِ خَلِيْفَةً .
Terjemahnya:
‘Ingatlah ketika Tuhan berfirman kepada para malaikat, se-sungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’.[17]

5. QS. al-Baqarah (2): 33
قَالَ اَلمْ اَقُلْ لَكُمْ اِنِّى اَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ
Terjemahnya:
‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi’.[18]

6. QS. al-Baqarah (2): 36
قَلْنَا اِهْبِطُوْا بَعضَكُمْ لِبَعْضِ عَدُوَّ وَلَكُمْ فىِ اْلاَرْضِ مُسْتَقَرُّ وَمَتَاعُ
اِليَ حِيْنَ
Terjemahnya:
‘Kami berfirman “turunlah kamu ! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan’.[19]

7. QS. al-Baqarah (2): 107:
اَلمَ ْتَعْلَمْ اَنَّ اللهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَالَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ
مِنْ وَلِىٍّ وَلاَ نَصِيْر.
Terjemahnya:
‘Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong’[20]

8. QS. al-Baqarah (2): 164
اِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاْختِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَاْلفُلْكِ
الَتىَّ تَجْرِىْ فىِ اْلبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسُ .
Terjemahnya:
‘Dan apa-apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu, Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya), dan dia sebabkan di bumi itu segala jenis hewan.’.[21]

9. QS. al-Baqarah (2): 168
يَااَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الاَرْضِ حَلاَلاً طَيَّبَا وَلاَ تَتَّبِعُوْا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانُ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوُّ مُبِيْنَ
Terjemahnya:
‘Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan itu musuh musuh yang nyata bagimu’.[22]

10. QS. Ali Imran (3): 190
اِنَّ فىِ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاَيَاتِ
لِلاُوْلِ الْلاَلْبَابِ
Terjemahnya:
‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.’[23]

11. QS. ali-Imran (3): 133
وسارعوا الى مغفرة من ربكم وحنة ارضها السموات والارض
اعدت للمتقين
Terjemahnya:
‘Dan bergegaslah kamu kepada ampunan Tuhanmu, dan kepada syurga yang seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.’[24]

12. QS. al-Maidah (5): 97
قالو الم تكن ارض الله واسعة فتهاجر فيها
Terjemahnya:
‘Para malaikat berkata, “bukankah bumi Allah itu luas, se-hingga kamu dapat berhijrah di bumi itu”.[25]

13. QS. al-An’âm (6): 73
وهو الذى خلق السموات والارض بالحق ويوم يقول كن فيكون
 قوله الحق
Terjemahnya:
‘Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “jadilah ! maka jadilah.’[26]

Menurut jumhur al-mufassirûn; semua ayat yang termaktub dalam QS. al-Baqarah (2); Âli Imrân (3); QS. al-Nisâ (4); QS. al-Mâidah (5); QS. al-An’âm (6):74 … ; adalah Madaniyah.[27] Dengan demikian, surah-surah atau ayat-ayat yang mengungkap term-term al-ardh di atas tergolong Madaniyah.
C. Kandungan Ayat dan Sebab Turunnya
1. Ayat-ayat Makkiyah
Telah dikemukakan terdahulu bahwa ayat-ayat tentang al-ardh yang tergolong Makkiyah adalah;
a. QS. al-Naml (27): 62, menerangkan bahwa yang bertugas sebagai khalifah di bumi adalah manusia.
b. QS. al-Dzâriyah (51): 20, menerangkan bahwa dengan adanya bumi merupakan indikasi atas kekuasaan Allah swt.
c. QS. al-Ghâsiyah (88): 20 menerangkan bagaimana bumi itu di-hamparkan oleh Allah swt.
d. QS. al-Burûj (85): 9 menerangkan bahwa bumi itu di bawah ke-kuasaan dan kendali Allah swt.
Dari keempat ayat di atas, dua di antaranya yang tidak memiliki asbâb al-nuzûl.[28] Itu disebabkan karena tidak semua ayat Alquran memiliki asbâb al-nuzûl.[29] Kedua ayat tentang al-ardh tersebut yang tidak memiliki asbâb al-nuzûl adalah;  QS. al-Naml (27): 62 dan QS. al-Burûj (85): 9. Dengan demikian, dua ayat lainnya yang memiliki asbâb al-nuzûl adalah QS. al-Zdariyah (51): 8 dan QS. al-Ghâsyiah (88): 20.
Asbâb al-nuzûl QS. al-Dzâriyah (51): 8 adalah berdasarkan riwayat dari Ibn Jarîr dan Ibn Abi Hatim dari al-Hasan bin Muhammad bin al-Hanafiah bahwa ketika Nabi saw. dalam berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Di antara mereka ada yang bertanya tentang ke Maha Kuasaan Allah swt. … dalam keadaan demikian turunlah ayat : للسائلين والمحروم، وفي الأرض آيت للموقنين، وفي أنفسكم أفلا تبصرون . [30] Sedangkan asbâb al-nuzûl QS. al-Ghâsiyah (88): 17-20,  berdasarkan riwayat dari Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Qatadah berkata; ketika Nabi saw. berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya tentang alam semesta, maka kaum dhalim (ketika itu di Mekkah) keheranan. Dari kasus ini, maka turunlah ayat وإلي الأرض كيف ستحت … .[31]

2. Ayat-Ayat Madaniyah
Pada sub bahasan terdahulu (sub B), ayat-ayat tentang al-ardh yang dikutip berjumlah tiga belas ayat. Yakni;

Al-Baqarah (2): 11, Allah swt. melarang untuk berbuat kerusakan di bumi. Kandungan ayat tersebut, memiliki munâsabah[32] dengan QS. al-Rad (13): 25; QS. al-Hijr (15): 19; QS. al-Kahfi (18): 19; QS. Taha (20): 53; QS. Qaaf (50): 7; QS. al-Ma’arij (70): 14; QS. Nuh (71): 19; QS. al-Naazi’aat (79): 30; dan QS. al-Ghasyiyaah (88): 20.

QS. al-Baqarah (2): 22, menerangkan bahwa bumi dihamparkan. Kandungannya, memiliki munâsabah dengan QS. al-Ghâsiyah (88): 20 yang tergolong sebagai ayat Makkiyah sebagaimana disebutkan ter-dahulu.

QS. al-Baqarah (2): 27, menerangkan bahwa mereka berbuat ke-rusakan di bumi termasuk orang-orang yang merugi. Dengan demikian, kandungan ayat ini memiliki munâsabah dengan penjelasan ayat pada point b di atas.

QS. al-Baqarah (2): 30, menerangkan bahwa manusia lah yang berhak menjadi khalifah di bumi. Kandungannya, memiliki munâsabah dengan QS. al-Naml (27): 62 yang tergolong sebagai ayat Makkiyah sebagaimana disebutkan terdahulu.

QS. al-Baqarah (2): 33, menerangkan bahwa semua rahasia dan hal ihwal di bumi hanya Allah swt. yang mengetahuinya. Kandungannya, memiliki munâsabah dengan QS. Ali Imrân (3): 29 dan 35; QS. al-Maidah (5): 97; QS. al-Haj (22): 70; QS. al-Hujurât (49): 16 dan 18; QS. Qaf (50): 4; QS. al-Mujâdalah (58): 7 dan QS. al-Thagabûn (64):4.

QS. al-Baqarah (2): 36, menerangkan bahwa di bumi merupakan tempat kediaman yang dipenuhi dengan kesenangan. Kandungannya, memiliki munâsabah dengan QS. al-A’râf (7): 10 dan 24.

QS. al-Baqarah (2): 107, menerangkan bahwa bumi adalah ke-punyaan Allah swt. Kandungannya, memiliki munâsabah dengan QS. Ali-Imrân (3): 109, 129, 180, 189; QS. al-Nisâ (4): 126, 131, 132, 170, 171; QS. al-Mâidah (5): 17, 18, 40; QS. al-‘An’âm (6): 12; QS. al-Taubah (9): 116; QS. Yûnus (10): 55, 66, 68;  QS. Hud (11): 123; Thaha (20): 6; QS. al-Anbiya (21): 19; QS. al-Mu’minun (23): 84; QS. al-Nûr (42): 12, 3; QS. al-Zukhruf (43): 82, 85; QS. al-Jâtsiyah (45): 27; QS. al-Fath (48): 4, 7, 14; QS. al-Najm (53); 31; QS. al-Hadîd (57): 2, 5; QS. al-Munafiqun (63): 7; dan QS. al-Buruuj (85): 9.

QS. al-Baqarah (2): 164, menerangkan bahwa adanya tanda-tanda kehidupan di bumi disebabkan adanya hujan yang turun dari langit. Kandungannya, memiliki munâsabat dengan QS. Yûnus (10): 24; al-Nahl (16): 65; QS. al-Ankabût (29): 63; dan QS. al-Hadîd (57): 17.

QS. al-Baqarah (2): 168, menerangkan bahwa isi bumi dipenuhi dengan makanan yang lezat dan diperintahkan untuk memakannya yang tergolong halal. Makanan yang lezat tetapi haram, misalnya babi sebagai-mana dalam QS. al-Baqarah (2): 173; QS. al-Mâidah (5): 3;  al-An’âm (6): 45 dan QS. al-Nahl (16): 115.
QS. Âli Imrân (3): 190, menerangkan bahwa rotasi bumi yang mengelilingi matahari menyebabkan adanya pergantian siang dan malam. Kandungannya, memiliki munâsabat dengan QS. an-Naml (6): 75; QS. Yûsuf (12): 105; QS. Fushshilat (41):39; dan QS. al-Syûra (42): 31.

QS. Âli Imrân (3): 133, menerangkan bahwa bumi sangat luas. Kandungannya, memiliki munâsabat dengan QS. Huud (11):108 dan QS. al-Anbiya (21): 105.

QS. al-Mâidah (5): 97, menerangkan bahwa dengan luasnya bumi, maka manusia leluasa untuk berhijrah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kandungannya, memiliki munâsabat dengan ayat yang dikemukakan pada point k di atas.
D. Analisis Ayat
Dari ayat-ayat yang menggunakan term al-ardh di atas, baik Makkiyah maupun Madaniyah, jika ditelusuri kembali kandungan dan beberapa asbâb nuzûl-nya serta munâsabah-nya maka dapat dirumus-kan bahwa secara substansial ayat-ayat tersebut secara umum meng-ungkap tentang eksistensi bumi diciptakan.

Dalam berbagai ayat dijelaskan bahwa salah satu tanda kekuasaan Allah swt. adalah diciptakannya bumi ini. Karena demikian halnya, maka sungguh akan merangsang manusia untuk merenungkan dan memikirkannya. Mereka dirangsang untuk memikirkan bagaimana langit-langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan dan bagaimana bumi dihamparkan. Dari hasil pemikiran mereka tentu akan melahirkan kesimpulan bahwa Allah swt. benar-benar berkuasa atas segala-segalanya.

Dengan terciptanya bumi ini, maka manusia lah sebagai khalifah-nya. Maksudnya, manusia dengan segala potensinya diberi amanat untuk mengelolah bumi dengan sebaik-baiknya. Itu pula lah sebabnya sehingga ada pelarangan untuk berbuat kerusakan di bumi ini. Pelarangan ini, ditujukan kepada segenap manusia demi terhindarnya dari malapetaka. Sebagai konsekuensi pelarangan ini dikhususkan kepada manusia disebabkan adanya kenyataan bahwa kerusakan di darat dan dilautan adalah ulah manusia itu sendiri.

Sebagai hikmah terbesar dari penciptaan bumi ini, adalah sebagai tempat manusia dan makhluk Allah swt. lainnya beraktivitas. Mereka dapat berpindah tempat dan bercocok tanam di dalamnya. Untuk mendukung semua itu, maka berjalanlah sunnatullah di bumi, misalnya adanya hujan yang turun dari langit untuk menumbuhkan tanam-tanaman sebagai kebutuhan pokok bagi manusia dan makhluk Allah swt. lainnya.

Untuk mengenai bagaimana eksistensi bumi dan analisis tentangnya lebih lanjut, akan dikaji secara tematik (tafsîr bi al-mawdhu’iy) dalam pembahasan selanjutnya.
[1]Mannâ’ al-Qaththân, Mabâhits Fiy ‘Ulûm al-Qur’ân (Beirut: Mansyûrat Liy al-Ashr al-Hadîts, 1973), h. 61.
[2]Muhammad Bakri Ismail, Dirâsat Fiy ‘Ulûm al-Qur’ân (Cet.I; Kairo: Dâr al-Manâr, 1991), h. 49.
[3]M. Ali Hasan dan Rifa’at Syauqi Nawawi, Pengangar Ilmu Tafsir (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 100
[4]M. Hasbi Ash-Siddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Cet.III; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 56-57.
[5]Muhammad Bakri Ismâ’il, op. cit., h. 52-53.
[6]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 601
[7]Ibid., h. 859
[8]Ibid., h. 1055
[9]Ibid., h. 1044.
[10]Demikian pernyataan Mannâ’ al-Qaththân, op. cit., h. 55.
[11]Lihat Muhammad Bakri Ismail, loc. cit.
[12]M. Ali Hasan dan Rifa’at Syauqi Nawawi, Pengangar Ilmu Tafsir (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 101
[13]M. Hasbi Ash-Siddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Cet.III; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 57.
[14]Departemen Agama RI, op. cit., h. 10.
[15]Ibid., h. 22
[16]Ibid., h. 13
[17]Ibid., h. 13
[18]Ibid., h. 14.
[19]Ibid., h. 15.
[20]Ibid., h. 29.
[21]Ibid., h. 40.
[22]Ibid.
[23]Ibid., h. 109.
[24]Ibid., h. 189.
[25]Ibid., h. 139.
[26]Ibid., h. 198.
[27]Mannâ’ al-Qatthân, op. cit., h. 55.
[28]Asbâb al-Nuzûl adalah sesuatu yang melatar belakangi turunnya suatu ayat atau lebih, sebagai jawaban terhadap suatu peristiwa atau menceritakan suatu peristiwa, atau menjelaskan hukum yang terdapat dalam peristiwa itu. Lihat Dawud al-Attâr, Mu’jaz ‘Ulûm al-Qur’ân diterjemahkan oleh Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad dengan judul Perspektif Baru Ilmu Al-Quran (Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 127.
[29]Demikian pendapat jumhur mufassirun sebagaimana yang dikemukakan Abû Husain Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naysabûriy, Asbâb al-Nuzûl (t.t.: Maktabah al-Halabiy, t.th.), h. 71.
[30]Lihat Jalâl al-Dîn al-Suyûtiy, Lubâb al-Nuqûl Fi Asbâb al-Nuzûl. Dalam Jalâl al-Dîn Abd. Rahman bin Abi Bakar dan Jalâl al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahally, Tafsîr al-Qur’ân al-Azim al-Musamma tafsîr al-Jalâlayn, jilid II (Bairut: Dâr al-Fikr, 1981), h. 325.
[31]Lihat ibid., h. 369.
[32]Term munâsabah berasal dari akar kata ناسب – يناسب – مناسبة   yang berarti kedekatan. Lihat Lihat al-Thahit Ahmad al-Zawiy, Al-Tartîb al-Qamûs al-Muhît Ala Tariq al-Misbah al-Munîr Wa Asas al-Balagah, juz IV (Cet.III; Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.), h.360. Dari aspek terminologi munâsabah al-ayah adalah ; segi-segi hubungan antara satu kalimat lain dalam satu ayat, antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam banyak ayat, atau antara satu ayat dengan surah yang lain. Lihat Mannâ’ al-Qatthân, op. cit., h.97.



Response on "Bumi (Al-Ardh) dalam Al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Tematik)"

Muhammad Risalon Google+