Wednesday, 30 July 2014

Infak Dalam Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Artikel Bagus – Infak Dalam Alquran(Suatu Kajian Tafsir Tematik)

Infak Dalam Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik) meruapakan judul skripsi yang akan kembali dipublikasikan artikel bagus. Mudah-mudahan skripsi pendidikan agama Islam Infak Dalam Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik) dapat bermanfaat.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alquran adalah kitab suci umat Islam yang merupakan firman-firman Allah (kalam Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Di antara tujuan utama diturunkannya adalah untuk menjadi pedoman dalam menata kehidupan mereka agar memperoleh ke-bahagiaan di dunia dan di akhirat.
Guna terwujudnya maksud itu, Alquran memuat berbagai pe-tunjuk, keterangan, uraian, prinsip, hukum, nilai, perumpamaan dan konsep. Hal itu, terkadang di ungkapkannya dalam bentuk global atau detail, tersurat dan tersirat.
Dalam pada itu, Alquran sendiri menamakan dirinya sebagai hudan (petunjuk)[1] bagi manusia pada umumnya dan bagi orang bertakwa pada khususnya. Dalam upaya menggali dan memahami petunjuk tersebut diperlukan upaya maksimal sehingga kita dapat menyingkap makna-makna yang dikandungnya.
Salah satu konsep penting yang perlu mendapat perhatian serius dewasa ini sehubungan dengan krisis yang menerpa bangsa Indonesia di segala lini kehidupan, termasuk masalah ekonomi adalah masalah membelanjakan harta dengan tujuan mendapat ridha Allah atau dengan kata lain memberikan harta tanpa konpensasi apapun yang ada dalam bahasa Alquran dinamakan infak (إنفاق)
Lewat kitab suci Alquran Allah swt. memerintahkan hamba-hambanya supaya senantiasa peduli terhadap sesamanya. Bentuk kepedulian ini dapat diwujudkan dengan melakukan infak dengan membelanjakan sebagian harta yang dilimpahkan-Nya kepada para fakir, miskin, orang-orang yang sangat memerlukannya dan untuk kebaikan dan kemanfaatan orang banyak.
           
Infak atau belanja yang dikeluarkan seorang hamba dengan tujuan mencari ridha Allah swt. semata pasti akan memperoleh balasan yang berlipat ganda.  Allah swt. akan membalasnya dengan caranya sendiri, baik disadari oleh hambanya itu, ataukah dengan tudak disadarinya.  Semua ini menunjukkan bahwa rezeki yang dibelanjakan  di jalan  Allah akan dikembalikan, bahkan digantikan olehnya dengan yang lebih baik dan berlipat ganda.
           
Dalam menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugrahkan oleh Allah swt. kepada hamba-hambaNya hendaklah memilih yang baik-baik dan bermanfaat.  Di antara ayat yang membicarakan masalah tersebut adalah seperti dalam QS. al-Baqarah (2) : 267
يا ايها الذين آمنوا انفقوا من طيبات ما كسبتم ومما اخرجنا لكم من الارض ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون ولستم بأخذيه إلا أن تغمضوا فيه و علموا أن الله غنى حميد .
Terjemahnnya:
‘Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.[2
Seperti diketahui, persoalan infak memang dibahas secara sistematis dalam kitab-kitab Fiqh Islam, namun Alquran sendiri mempunyai perhatian khusus terhadap masalah ini, yang dijelaskan dalam sejumlah ayat-ayatnya sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, sudah tentu penjelasan Alquran tentang infak harus dipahami dan selanjutnya diamalkan guna mencapai tingkat dan kualitas manusia yang mendapat ridha Allah swt.
          
Untuk maksud tersebut di atas, kajian tafsir Alquran mutlak dibutuhkan, sehingga maksud Allah swt. yang terdapat di dalam perintah infak yang telah ditetapkan bagi hamba-hambaNya dapat diketahui.
           
Di samping itu, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang dikandung oleh Alquran tentang infak akan dapat dipahami secara jelas.  Dengan pemahaman ini, seseorang dapat merasakan bahwa Alquran memuat konsep-konsep ajaran yang berhubungan erat dengan sistem politik, sosial dan perilaku moral.
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan uraian terdahulu, pembicaraan akan dititik beratkan pada penelitian ayat-ayat Alquran tentang infak. Oleh karena itu, pokok masalah yang akan dijadikan landasan pembahasan dalam skripsi ini adalah bagaimana konsep infak dalam Alquran. Dari pokok masalah tersebut, dapat dirinci ke dalam beberapa sub masalah yakni :
  1. Apa yang dimaksud infak dan apa tujuan serta fungsinya ?
  2. Bagaimana eksistensi infak dalam Alquran
  3. Bagaimana peranan infaq dalam kehidupan?

Dari pokok masalah dan tiga sub masalah tersebut di atas penulis akan membahasnya dalam skirpsi ini secara akurat dan argumentatif.
C. Pengertian Judul
Skripsi ini berjudul INFAK DALAM ALQURAN dengan sub judul Suatu Tinjauan Tafsir Tematik. Untuk memahami maksud judul di atas, berikut ini dikemukakan beberapa batasannya yang dianggap penting.
Kata infak berasal dari bahasa Arab. Kata ini merupakan bentuk masdar  dari  anfaqa, yanfiqu, infâqan.  Secara  leksikal,  kata  ini berakar kata dari huruf-huruf nun, fa dan qaf  yang berarti terputusnya sesuatu dan hilangnya sesuatu.[3] Selain itu kata tersebut mempunyai makna habis atau mati.[4]  Dikatakan demikian, karena sesuatu yang diinfakkan (didermakan atau dikeluarkan) kepada orang lain akan habis atau hilang dengan terputus dari kepemilikannya. Atau dengan kata lain, sesuatu tersebut pindah ke tangan orang lain atau menjadi milik orang lain. 
Kata infak ini, merupakan suatu istilah yang telah tersosialisasi dalam masyarakat Indonesia yang sering diartikan dengan pemberian sumbangan harta dan sedekah.[5] Infak berarti sesuatu yang diberikan oleh seseorang guna menutupi kebutuhan orang lain, baik berupa uang, makanan, minuman, dan sebagainya.  Mendermakan atau memberi rezeki (karuia) atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan keikhlasan dan karena Allah Swt. semata.[6]
Berdasarkan batasan-batasan di atas, maka istilah infak dalam judul skripsi ini dimaksudkan sebagai suatu amal sosial dengan bentuk mengeluarkan atau membelanjakan sebagian harta yang dimiliki dengan maksud untuk mencapai ridha Allah. Adapun kata Alquran yang terangkai dengan infak dalam judul ini, dimaksudkan sebagai firman Allah swt. yang termakstub dalam kitab suci yang merupakan pedoman bagi umat Islam.
Sedangkan rangkaian kalimat dalam sub judul skripsi ini, dimaksudkan sebagai operasionalisi yang terpakai dalam mengkaji konsep infak dalam Alquran. Yakni, kajian berdasarkan tafsir tematik.
D. Tinjauan pustaka
Sepanjang telaahan penulis terhadap beberapa karya ilmiah berupa buku atau laporan-laporan hasil penelitian yang membahas secara khusus tentang infak dalam Alquran, ditemukan di antara karya-karya tersebut yang membahas tentang infak. Tetapi jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata pembahasannya belum tuntas, bahkan masalah infak yang dimaksud tidak dijadikan sebagai pokok pembahasan, karena ia tertuang dalam salah satu bab atau bahkan ada yang tertuang dalam sub bab. Karya-karya ilmiah yang dimaksud antara lain ;
Qaddiyat al-Awdât ilâ al-Islâm fiy al-Dawlât Wa al-Mujtama, karya DR. Jamal al-Dîn Muhammad Mahmud. Penulisnya menandaskan, bahwa perekonomian  Islam berdiri di atas kaidah bahwa infak diperuntukkan di jalan Allah.  Sedang infak al-Daulat dibatasi oleh kemaslahatan yang kembali kepada kebutuhan umat.  Infak senacam ini harus disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam melangsungkan kehidupannya.[7]

al-Mabâdi al-Iqtishâdiyyat fiy al-aslâm wa al-Bina al-Iqtishadi liy al-Daulat al-Islamiyyah, karya DR. Ali Abd al-Rasul yang hanya menyajikan pembahasan infaq pada pasal II. Pembahasannya difokuskan pada ayat Alquran yang mengatur tentang infak.[8]

Al-Nudzûm al- Maliyat fi al-Islâm, karya Qutb Ibrahim Muhammad. Pembahasan tentang infak di dalamnya terletak pada bab tiga yang mengemukakan rukun-rukunnya.[9]

Tauhid Sosial, karya Amin Rais. Di dalamnya, ditemukan satu sub bab tentang Membudayakan Infak dan Kesediaan Ber-korban. Pembahasannya berkisar masalah gambaran perekonomian di Indonesia.[10]

Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, Sedekah, karya Didin Hafidhuddin. Di dalamya ditemukan secara luas mengenai zakat. Tetapi masalah infak, hanya ditemukan pada bagian pendahuluan, itupun yang dijelaskan cuma pengertian infak dan perbedaannya dengan zakat dan sedekah.[11]
Sistem Ekonomi Islam, karya Mohammad Ali. Di dalamnya ditemukan pembahasan tentang infak pada sub bab khusus yang menerangkan tentang infak. Tetapi, hanya berkisar pada definisi dan operasional infak saja.[12]

Dari keenam karya ilmiah (literatur) di atas, mungkin masih ditemukan karya-karya lainnya dan kemungkinan besar pembahasannya hampir sama dengan daftar literatur di atas.

Harus pula diakui bahwa karya-karya ilmiah yang disebutkan di atas, pembahasannya tentang infak masih bersifat parsial karena tidak dijadikannya infak sebagai variabel utama, apalagi menjadikan Alquran sebagai dasar kajiannya. Atas dasar pertimbangan seperti itulah, maka skripsi ini akan mengungkap dan membahas secara utuh dan menyeluruh tentang konsep infak, dengan menjadikan Alquran sebagai obyek kajian utama.
Karena itu, literatur utama yang dijadikan rujukan dalam skripsi ini adalah kitab-kitab Tafsir dan penulis menganggapnya sebagai kitab primer. Tetapi, beberapa karya ilmiah yang disebutkan di atas dijadikan pula sebagai literatur tambahan yang bersifat skunder.
E. Metodologi Pembahasan
Pembahasan dalam skripsi ini, bersifat kepustakaan karena sumber datanya terdiri atas kitab-kitab tafsir dan literatur-literatur yang terkait langsung atau (sebagian) tidak langsung dengan obyek pembahasan. Adapun metodologi pembahasannya, digunakan beberapa metode sebagai berikut:
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan adalah, pendekatan eksegesis dengan berfokus pada tafsir tematik. Yakni; menghimpun ayat-ayat Alquran yang memiliki tujuan yang sama, menyusunnya secara kronologis selama memungkinkan dengan memperhatikan sebab turunnya, menjelasknnya, mengaitkannya, dengan surah tempat ia berada, menyimpulkannya dan menyusun kesimpulan tersebut ke dalam kerangka pembahasan sehingga tampak dalam segala aspeknya dan menilainya dengan kriteria pengetahuan yang shahih.[13] 
Metode ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu rumusan Alquran terhadap masalah infak.  Dalam metode tafsir tematik ini, ayat-ayat yang memiliki materi dan persoalan tentang infak, dikumpulkan untuk diolah sehingga rumusannya dapat melahirkan jawaban yang utuh terhadap suatu masalah.
Adapun langkah-langkah yang akan dilalui dalam menelusuri pembahasan nanti adalah megumpulkan ayat-ayat tentang infak, kemudian mengklasifikasi ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, latar belakang turunnya ayat (asbâb al-nuzû al-âyah), munasabah ayat, ditambah dengan hadis-hadis Nabi saw. jika memungkinkan pembahasan lebih lanjut.
2. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data, digunakan studi kepustakaan  (library research). Yakni, menelaah literatur dan referensi yang terkait dengan pembahasan, baik yang berbahasa Asing maupun yang berbahasa Indonesia. Literatur yang berbahasa Asing, misalnya; Tafsîr al-Thabariy, Tafsîr Ibn Katsîr, Tafsîr al-Marâgiy dan sejenisnya yang mudah didapatkan. Sedangkan literatur yang berbahasa Indonesia, misalnya; Tafsîr Al-Azhar karya Hamka, Tafsîr Bayân karya Hasbi Ash-Siddieqy dan beberapa kitab tafsir yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Data-data sejenis istilah dan makna kata, merujuk pada kitab-kitab kamus atau mu’jam, Ensiklopedia dan lain-lain. Sedangkan penelusuran terhadap ayat-ayat Alquran, digunakan Al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfâzh al-Qur’ân karya Muhammad Fû’ad Abd. al-Baqy. Dan untuk penulisan ayat-ayat Alquran dan terjemahnya merujuk pada AlQuran dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh Departeman Agama RI.
3. Metode Pengolahan dan Analisis Data   
Agar data yang diperoleh dapat dijadikan sebagai bahasan yang akurat, maka penulis menggunakan metode berfikir sebagai berikut;
  • Deduktif, yakni menganilis data yang bersifat umum untuk sampai kepada kesimpulan yang bersifat khusus.
  • Induktf, yakni menganalisis data yang bersifat khusus untuk mem-peroleh rumusan yang bersifat umum.
  • Komparatif, yakni membandingkan data yang satu dengan data yang lain, untuk memperoleh data yang lebih akurat dan lebih kuat argumentasinya.

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Pembahasan dalam skripsi ini, bertujuan untuk merumuskan konsep infak menurut perspektif Alquran, sehingga akan berdampak positif terhadap ;
  • Pemahaman yang akurat terhadap petunjuk Alquran mengenai eksistensi infak yang harus tetap ditumbuh kembangkan guna terealisasinya aspek-aspek nilai moral.
  • Aspek nilai infak sebagai salah satu ibadah yang juga berniali sosial dan tampaknya akan memberikan kesempatan yang begitu luas kepada setiap orang untuk beramal, baik secara pribadi maupun kelompok.
  • Penulis sebagai mahasiswa yang berkonsentarsi pada kajian tafsir dan hadis dengan harapan agar skripsi ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pengkajian selanjutnya, khususnya yang berkenaaan dengan tafsir tematik dalam upaya menggali nilai-nilai Alquran.

Adapun hasil pembahasan nantinya, diharapkan berguna secara ilmiah dan praktis ;
  • Kegunaan secara ilmiah yang dimaksud di sini adalah sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu keislaman pada khususnya serta dapat dijadikan sebagai daftar literatur dalam penulisan karya ilmiah atau bahan ceramah, diskusi dan lain-lain yang terkait dengan infak.
  • Kegunaan secara praktis yang dimaksud di sini adalah sebagai masukan bagi mereka yang terlibat dalam masalah pengembangan sosial ekonomi, seperti BAZIS dan LSM serta mereka yang bekecimpung dalam usaha soail kemasyarakatan, baik lembaga pemerintah maupun swasta.

G. Garis-garis Besar Isi Skripsi
Untuk lebih runtut dan sistematisnya pembahasan dalam skripsi ini, berikut akan dikemukakan garis besar isi pembahasan yang terdiri dari lima bab  yakni;

Bab I, merupakan bab pendahuluan sebagai prolog dan kerangka teoritis untuk pembahasan selanjutnya. Pada bab ini, terdiri dari tujuh sub bab dengan sistematika; (1) Latar Belakang, merupakan alur pemikiran yang melahirkan obyek pembahasan; 2) Rumusan dan Batasan Masalah, merupakan obyek pembahasan yang terdiri atas pokok masalah dan beberapa sub masalah; 3) Pengertian Judul, merupakan batasan obyek pembahasan yang meliputi ruang lingkup dan definisi operasional skripsi; 4) Tinjauan Pustaka, mencakup tentang pengidentifikasian literatur yang dijadikan pembahasan; 5) Metodologi Pembahasan, merupakan patokan kerja yang digunakan dalam skripsi ini; 6) Tujuan dan Kegunaan, mencakup sasaran yang akan dicapai dalam pembahasan dan bermuara pada rumusan kemanfaatan pembahasan;  dan 7) Garis-garis besar Isi Skripsi, mencakup tentang muatan-muatan pembahasan selanjutnya.
Bab II, membahas tentang infak dan masalahnya. Yang terdiri atas dua sub bab. Yakni; 1) Pengertian Infak, ditinjau dari aspek etimologi dan terminologi, kemudian mengungkap batasan infak yang sebenarnya; 2) Tujuan dan fungsi infak, ditinjau dari realitas individu bagi merupakan beribfak dan dampaknya terhadap masyarakat.
Bab III, menguraikan tentang eksistensi infak dalam Alquran. Dalam bab ini, akan dikemukakan term-term infak dan derifasinya yang termaktub dalam Alquran, kemudian diberi pengklasifikasian tentang; Ayat-ayat Makkiyah dan Ayat-ayat Madaniyah. Dalam pengklasifikaaian ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah disertai dengan pembahasan asbâb al-nuzû al-âyah dan hal-hal yang terkait dengannya. Selanjutnya, adalah sub bab terakhir, yakni analisis tentang ayat-ayat infak.
Bab IV, merupakan inti pembahasan sebagai lanjutan analisis dari bab terdahulu. Pada bab ini, dikemukakan tentang peranan infak terhadap tatanan kehidupan yang meliputi sub bahasan tentang; 1) Pengaruh Infak Secara Intern; 3) Pengaruh Infak secara Ekstern. Kedua sub bahasan yang dimaksud terdiri atas beberapa bagian sub bab yang terwujud berdasarkan interpretasi ayat dan analisis penulis terhadapnya.
Bab V, adalah penutup pembahasan yang terdiri atas dua sub bahasan, yakni; 1) Kesimpulan, yang merangkum pembahasan sekaligus jawaban atas pokok masalah dan beberapa sub masalah terdahulu; 2) Implikasi, yang merupakan rekomendasi konstruktif kepada semua pihak atas hasil pembahasan yang telah dicapai.
[1]Lihat QS. al-Baqarah (2): 2
[2]Lihat Departemen Agama RI, Al-Quraan dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h.
[3]Lihat Ibn Fâris Abû al-Husayn Ahmad bin Zakariyah, Mu’jam al-Maqâyis al-Lughah, juz I (Cet.I; Beirut: Dâr al-Jail, 1991), h. 454.
[4]Ibid.
[5]Lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 330.
[6]Ibid.
[7]Uraian lebih lanjut, lihat Jmâl al-Dîn Muhammad Mahmûd, Qadiyat al-Awdât Ilâ al-Islâm Fiy al-Dawlât al-Mujtama’ (Kairo: Dâr al-Nahdat al-‘Arabiyah, t.th.), h. 275.
[8]Uraian lebih lanjut, lihat Ali Abd. al-Rasûl, Al-Mabâdi’ al-Igtishadiyat fiy al-Islâm Wa Binâ al-Isqtishâdi Liy al-daulat al-Islâmiyah (Cet.II; Mesir: Dâr al-Fikr, 1980), h. 171-172.
[9]Lihat Qutb Ibrâhim Muhammad Mahmûs, Al-Nuzdûm al-Mâliyat Fiy al-Islâm (t.d.), h. 125.
[10]Lihat Amin Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan (Cet.II; Bandung: Mizan, 1988), h. 141
[11]Lihat Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Infak (Cet.I; Jakarta: 1998), h. 14-15
[12]Lihat Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam (Cet.I; Jakarta: UI-Press 1988), h. 23.
[13]Demikianlah yang dimaksud dengan tafsir tematik atau tafsîr bi al-mawdhûiy. Uraian lebih lanjut, lihat Abû al-Hayy al-Farmâwiy,  Al-Bidâyah Fiy Tafsîr al-Mawdû’iy (Mesir: Maktabat al-Jumhuriyah, 1977), h. 52.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG INFAK
A. Pengertian Infak
1. Pengertian Etimologi
Term infak, kini telah dibahasa Indonesiakan yang berarti; pemberian (sumbangan) harta dan sebagainya untuk kebaikan.[1] Term infak tersebut, berasal dari bahasa Arab (infâq/إنفاق). Akar kata dan tashrif-nya adalah نفق-ينفق-نفقا أو نفاقا و إنفاق  yang berarti sesuatu yang habis.[2] Dalam Al-Munjid, dikatakan bahwa نفق-نفاق boleh juga berarti dua lubang atau berpura-pura dan didalam agama ia dikenal dengan istilah munâfiq.[3]
Menurut Ibn Fâris ibn Zakariyah, term infâq secara etimologi mempunyai dua makna pokok. Yakni, (1) terputusnya sesuatu atau hilangnya sesuatu, (2) tersembunyinya sesuatu atau samarnya sesuatu.[4] Karena demikian halnya, maka makna yang relevan dengan pengertian infâq di sini adalah makna yang pertama di atas. Sedangkan makna yang kedua lebih relevan dipergunakan untuk pengertian munâfiq. Alasan penulis untuk pemaknaan pertama adalah; seseorang yang menafkahkan hartanya secara lahiriyah, akan hilang hartanya di sisinya dan tidak ada lagi hubungan antara harta dengan pemiliknya. Adapun makna kedua adalah; seorang munâfiq senantiasa menyembunyikan kekufurannya dan atau tidak ingin menampakkan keingkarannya terhadap Islam.
Dari penjelasan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa infak menurut pengertian etimologi adalah pemberian harta benda kepada orang lain yang akan habis atas hilang dan terputus dari pemilikan orang yang memberi. Dengan ungkapan lain, sesuatu yang beralih ke tangan orang lain atau akan menjadi milik orang lain.
2. Pengertian Terminologi
Secara terminologi infak memiliki beberapa batasan, sebagai berikut :
  • Infak adalah mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan / penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.[5]
  • Infak berarti mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan ke-manusiaan sesuai dengan ajaran Islam.[6]
  • Mohammad Daud Ali menyatakan bahwa infak adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan setiap orang, setiap kali ia memperoleh rezeki, sebanyak yang dikehendakinya sendiri.[7]

Dari batasan-batasan di atas, diketahui bahwa substansi infak terletak pada masalah harta benda atau materi. Dalam Alquran dikatakan bahwa harta yang diinfakkan disebut dengan nafkah.[8]
Berdasar dari keterangan di atas, dapat dibatasai bahwa infak adalah mendermakan sebagian harta benda di jalan Allah swt. atau kepada orang lain sesuai dengan keinginan dengan mengharap pahala dari Allah swt.
Terkait dengan pengertian infak di atas, maka eksistensi infak, zakat dan shadaqah jelas memiliki perbedaan. Jika zakat ada nisabnya[9] sedangkan infak tidak mengenal nisab. Adapun shadaqah di samping tidak ditentukan nisabnya juga bukan dalam bentuk materi saja[10] sedangkan infak khusus dalam bentuk materi finansial.
B. Tujuan dan Fungsi Infak
Yang dimaksud dengan tujuan infak adalah sasaran praktis akibat direalisasikannya, sedangkan fungsi infak dimaksudkan di sini adalah sasaran praktis akibat pemanfaatannya.
1. Tujuan Infak
Secara tegas dan jelas dikatakan dalam QS. al-Baqarah (2): 195 bahwa ;
وَانْفِقُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيَكُمْ إِلىَ التَّهْلُكَةِ وَاْحسِنُوْا،
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ.
Terjemahnya :
‘Dan berinfaklah (dengan harta bendamu) di jalan Allah, dan jangalah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungghnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.’[11]
Ayat di atas mengandung perintah untuk berinfak. Perintah yang dimaksud di sini merupakan kewajiban, karena redaksi yang digunakan Allah swt. dalam ayat tersebut adalah sighat al-amr[12] dengan kalimat وانفقوا … dan rangkaiannya disambung dengan sighat al-nahy[13] dengan kalimat ولا … . Ini menandakan bahwa berinfak memiliki tujuan ganda, yakni internal dan eksternal.
a. Tujuan Internal
Dari aspek internal, dimaksudkan sebagai ibadah individual yang status hukumnya wajib, dengan tujuan menghindarkan seseorang untuk tergelincir dalam ke-mafsada-tan (التهلكة). Dalam kaitan ini dalam QS. al-Baqarah (2): 272 dinyatakan ;
… وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ، وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلاَّ اِبْتِغَاءَ
مِنْ خَيْرٍ يُوَفىَّ اِلَيْكُمْ وَانْتُمْ لاَ تُظْلَمُوْنَ.
Terjemahnya :
‘… dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mecari keridha-han Allah dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dirugikan.’[14]
Maksud ayat di atas, dijelaskan dalam kitab Tafsîr Ibn Katsîr bahwa nafkah yang dikeluarkan oleh orang mu’min mendapat imbalan pahala untuk dirinya sendiri dan Allah swt. redha atasnya serta mendapat keberkatan dari hartanya itu.[15] Jadi, tujuan internal yang dimaksud di sini adalah yang bermanfaat di dalam diri sendiri (pribadi), yakni adanya pahala dari Allah swt.
Jadi, anggapan bahwa berinfak dapat mengurangi kekayaan dan dapat menyebabkan kefakiran adalah tidak benar. Islam menganggap bahwa kedermawanan merupakan jalan penyempurnaan dan pe-ngembangan harta itu sendiri yang diistilahkan dengan harta yang berkah. Dengan berkah yang diperolehnya, seseorang senantiasa berpeluang mendapatkan keredhahan Allah swt. baik di dunia, maupun di akhirat kelak.
b. Tujuan Eksternal
Dari aspek eksternal, infak bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam Undang-Undang RI. Nomor 38 Tahun 1999, dikatakan bahwa tujuan pengelolaan zakat mencakup juga tujuan pengelolaan infak.[16] Yakni, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial, serta meningkatnya hasil guna dan daya guna dana.[17]
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa infak bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dengan cara memberikan bantuan berupa infak kepada orang-orang yang memerlukan.

Dengan tujuan ini, infak lebih terasa peranannya terutama pada masyarakat yang tingkat kemiskinannya lebih tinggi, dan dengan sendirinya pula kepentingan-kepentingan sosial lainnya akan sulit terpenuhi tanpa ada uluran tangan dari yang punya harta. Dalam kaitan ini, Amin Rais menyatakan bahwa ;

‘Salah satu masalah besar yang dihadapi umat Islam untuk mem-bangun masa depan yang lebih baik adalah kelemahan di bidang pendanaan. Kita semua masih harus bekerja keras untuk me-lakukan pengerahan dana atau yang lazim disebut fund raising. Kita semua masih lemah dalam persoalan penggalangan dana, padahal, masalah penggalangan dana tidak sulit sama sekali andaikata di antara kita yang mampu bersedia membayar infak.’[18]

Jelaslah bahwa menunaikan infak adalah anjuran agama yang harus direalisasikan karena memiliki tujuan suci, bukan saja berakibat baik untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan umum.
2. Fungsi Infak
Dari tujuan infak sebagaimana diuraikan terdahulu, akan ber-muara pada rumusan fungsinya dengan landasan filosofis sebagai berikut;
a. Fungsi Istikhlâf
Menurut Alquran, Allah swt. pemilik dan penguasa jagad raya termasuk harta benda. seseorang yang beruntung mendapatkan sejumlah harta, pada hakekatnya hanya menerima dan bertugas sebagai khalifah (pengembang amanah).[19] Bahkan ia mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan infak, jika hal tersebut dibutuhkan. Dengan meresalisasi-kan tugas  yang dibebankan Allah swt. kepada manusia ini, berarti salah satu fungsi kekhalifahan manusia telah terealisasi, sebab Allah swt. menjadikan harta benda sebagai alat dan sarana pirimer untuk kehidupan seluruh manusia.
Dalam mengembang misi berinfak, setiap orang dituntut untuk melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi, sesuai dengan ke-mampuannya.
Untuk tetap menyandang fungsi kekhalifahan dengan cara ber-infak, akan mengikis habis sifat-sifat kikir di dalam jiwa seseorang serta melatihnya memiliki sifat-sifat dermawan dan mengantarnya mensyukuri nikmat Allah.
b. Fungsi Sosial
Menurut pandangan Alquran, bahkan kenyataan yang disadari oleh semua pihak bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan sesamanya. Dalam bidang ekonomi, betapa pun seseorang memiliki keahlian, namun hasil-hasil material yang diperolehnya adalah berkat bantuan pihak-pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.    
Seorang petani dapat berhasil karena adanya irigasi, alat-alat, makanan, pakaian, stabilitas keamanan, yang kesemuanya tidak mungkin dapat diwujudkan secara mandiri. Karena demikian halnya, maka wajar jika Allah swt. memerintahkan kepada setiap orang untuk berinfak demi kepentingan orang lain.[20]
c. Fungsi persaudaraan
Kebersamaan dan persaudaraan akan mengantar kepada adanya kewajiban memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Hal ini didasari oleh adanya jalinan hubungan persaudaraan dan pertalian darah, karena manusia berasal dari satu keturunan, yaitu Adam dan Hawa.[21]
Sebagai fungsi kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian harta kekakayaan khususnya kepada mereka yang butuh. Yang jelas, membina persaudaraan tidak mungkin diusahakan oleh manusia secara sendiri-sendiri. Untuk itu mereka perlu bekerja sama dalam berbagai kegiatan guna menegakkan kemakmuran dalam bidang ekonomi.
BAB III
EKSISTENSI INFAK DALAM ALQURAN
Dalam Alquran, ditemukan derivasi term-term infak dengan pencirian sebagai berikut: Term anfaqa terdapat dalam QS. al-Kahfi (18): 42; QS. al-Hadîd (57): 10. Term anfaqta terdapat dalam QS. al-Anfâl (8): 63. Term anfaqtum terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 215; QS. Saba’ (34): 39 dan QS. Mumtahanah (60): 10. Term anfaqû terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 262; QS. al-Nisa (4): 34, 39; QS. al-Ra’d (13): 22; QS. al-Furqân (25: 67; QS. Fâthir (35): 29; QS. al-Hadîd (57): 10 dan QS. al-Mumtahanah (60): 10, 11. Term tunfiqû terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 272, 273; QS. Ali Imrân (3): 92; QS. al-Anfâl (8): 60; QS. Muhammad (47): 38; QS. al-Hadîd (57): 10 dan QS. al-Munâfiqûn (63):7. Term tunfiqûna terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 267, 272. Term yunfiqu terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 264; QS. al-Mâidah (5): 64: QS. al-Tawbah (9): 98, 99; QS. al-Nahl (16): 75; QS. al-Thalaq (65): 7. Term yunfiqûna terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 3, 215, 219, 261, 262, 265, 274; QS. Âli Imrân (3): 117, 134; QS. al-Nisâ’ (4): 38; QS. al-Anfâl (8): 3, 36; QS. al-Tawbah (9): 54, 91, 92, 121; QS. al-Haj (22): 35; QS. al-Qashash (28): 54; QS. al-Sajadah (32): 16; QS. al-Syûrah (42): 38. Term yunfiqûnaha terdapat dalam QS. al-Anfâl (8): 36; QS. al-Tawbah (9): 34. Term anfiqû terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 190, 254, 267; QS. al-Tawbah (9): 53; Yâsin (36): 47; QS. al-Hadîd (57): 7; QS. al-Munâfiqûn (63): 10; QS. al-Taghabûn (64): 16; QS. al-Thalaq (65): 6. Term nafqah terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 270; QS. al-Tawbah (9): 121. Term nafaqâtuhum terdapat dalam QS. al-Tawbah (9): 54 dan term al-infâq terdapat dalam QS. al-Isrâ’ (17): 100.[22] Dengan demikian, derivasi term-term infak dalam Alquran terulang sebanyak 74 kali.
Akan tetapi, tidak semua derivasi term-term infak di atas bermakna membelanjakan harta di jalan Allah swt atau mendermakannya kepada orang lain. Misalnya saja; term ينفق  dalam QS. al-Mâidah (5): 64 bermakna “terbuka”;[23] term الإنفاق dalam QS. al-Isrâ’ (17):100 ber-makna “kekurangan”, term انفقوا dan انفقتم dalam QS. al-Mumtahanah (20): 10.[24] Dalam sub bahasan berikut, hanyalah dikaji ayat-ayat tentang infak dalam arti membelanjakan harta di jalan Allah swt. atau men-dermakannya kepada orang lain.
Untuk mengetahui eksistensi ayat-ayat tentang infak yang di-maksud, maka terlebih dahulu disoroti klasifikasinya; apakah ia Makkiy atau Madaniy. Di samping itu, dikemukakan pula hal-hal yang melatar belakangi turunnya ayat yang diistilahkan dengan asbâb al-nuzûl al-âyah.[25] Tetapi, tidak semua ayat Alquran memiliki asbâb al-nuzûl.[26] Karena demikian halnya, maka tidak semua ayat-ayat tentang infak yang dikemukakan berikut disertai dengan asbâb al-nuzûl-nya.
Adapun metode yang terpakai dalam menentukan kriteria ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam bahasan ini, digunakan beberapa pendekatan, yaitu;
  • Metode al-Sumâ’iy al-Naqliy, yakni pendekatan yang dilakukan dengan bersandar pada riwayat-riwayat yang sahih dari sahabat yang mengeluarkan wahyu (ayat) tersebut atau dengan menyaksikan secara langsung turunnya ayat, atau dari tabiin yang bertemu langsung dengan sahabat dan mendengarkan bagaimana cara turunnya ayat dan di mana tempatnya.
  • Metode al-Qiyâs al-Ijtihâdiy, yakni pendekatan yang didasarkan kekhususan-kekhususan ayat yang ada pada ayat Makkiyah dan Madaniyah sehingga jika didapatkan dalam surah Makkiyah yang menjadi ke-khususan pada surah atau ayat Madaniyah, maka ditetapkanlah bahwa surat atau ayat tersebut termasuk Madaniyah, demikian pula sebaliknya.[27]

Jadi, pendekatan yang digunakan terdiri atas dua. Yakni, naqliy dan aqliy. Berikut ini, dikemukakan klasifikasi ayat-ayat infak yang di-maksud :

A. Ayat-Ayat Makkiyah
Makkiyah adalah surah atau ayat yang diturunkan sebelum Nabi saw. hijrah, sekalipun turunnya di luar wilayah Makkah.[28] Ciri-ciri ayat-ayat Makkiyah adalah; (1) dimulai dengan kalimat ياأيهاالناس  atau يابنىآدم… ; [29] (2) ayat-ayatnya pendek; (3) kebanyakan mengandung masalah tauhid, azab dan nikmat di hari kemudian serta urusan-urusan kebaikan;[30] (4) terdapat kata كلا ; (5) diawali dengan huruf-huruf “ن،ق،ألمر; kecuali surah al-Baqarah dan Ali Imran; (6) terdapat ayat-ayat sajadah; (7) terdapat kisah-kisah nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali dalam surah al-Baqarah dan Ali Imran.[31]
Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan ayat-ayat tentang infak yang tergolong Makkiyah.

1. QS. al-Ra’d (13): 22
(22) والذين صبروا ابتغاء وجه ربهم واقاموا الصلوة وانفقوا مما رزقناهم
سرا وعلانية ويدرءون بالحسنة السيئة الئك لهم عقبى الدار
Terjemahnya :
’22. Dan orang-orang yang shabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secar sembunyi-sembunyi atau terang terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat keindahan (yang baik).[32]
Ayat di atas, diturunkan di Mekkah.[33] Dengan demikian, ia ter-golong sebagai ayat Makkiyah. Kandungannya mencakup tentang sikap orang-orang beriman dan amalan-amalan yang al-shâlihât, di mana Allah menjelaskan bahwa sikap orang beriman adalah senantiasa bersabar dan melaksanakan ibadah wajib, yakni shalat. Adapun amal shaleh dalam ayat tersebut adalah menafkahkan rezki dengan ikhlas, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dengan melaksanakan amalan ter-sebut Allah swt. memberikan imbalan syurga yang kelak diperoleh di hari kemudian.
Khusus amalan berinfak dalam ayat di atas, Sa’îd Hawwa meng-iterpretasikannya bahwa berinfak tidak dibatasi oleh ruang waktu.[34] Maksudnya, amalan seperti ini boleh saja dilakukan siang atau malam hari.

2. QS. al-Kahfi (18): 42.
(42) واحيط بثمره فاصبح يقلب كفيه على ما انفق فيها وهي خاوية
 عرشها ويقول يليتنى لم اشرك بريى احدا
Terjemahnya :
‘42. Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) karena biaya yang telah dibelanjakannya untuk itu, sedang pohon anggur itu robih, bersama para-paranya dan dia berkata; “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.’[35]
Ayat di atas, turun di Mekkah yang kandungannya berkenaan dengan penyesalan orang-orang kafir terdahulu yang dibinasakan harta-nya bahkan penyesalannya terbawa sampai di akhirat nanti.[36] Karena ayat di atas merupakan pemberitaan masa lampau maka term infak di dalam-nya berbetuk fi’il mâdhi, yakni mâ anfaqa.
3. QS. al-Furqân (25): 67.
(67) والذين انفقوا لم يسرفوا ولم يقتوا وكان بين ذلك قواما
Terjemahnya :
’67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.’[37]
Ayat di atas, juga tergolong Makkiyah[38] dan ayat di atas memberi-kan informasi bahwa dalam berinfak tidak boleh dengan cara yang berlebih-lebihan.
Demikianlah penjelasan singkat tentang infak yang termaktub dalam ayat-ayat Makkiyah. Mengenai interpretasi dan analisis secara mendalam dari ketiga ayat-ayat Makkiyah di atas akan diuraikan pada bahasan terakhir dari bab ini.
B. Ayat-Ayah Madaniyah
Madaniyah adalah surah atau ayat yang diturunkan sesudah Nabi saw. hijrah, sekalipun turunnya di luar wilayah Madinah.[39] Ciri-ciri ayat-ayat Madaniyah adalah; (1) dimulai dengan kalimat ياأيها الذين آمنوا; (2) ayat-ayatnya agak panjang; (3) kebanyakan mengandung mu’amalah dan amalan-amalan sosial kemasyarakatan lainnya; termasuklah di sini masalah infak yang secara substansial termasuk amalan sosial.
Menurut jumhur al-mufassirûn; semua ayat yang termaktub dalam QS. al-Baqarah (2); Âli Imrân (3); QS. al-Nisâ (4); … QS. al-Anfâl (8); adalah Madaniyah.[40] Ketiga surah yang disebutkan di atas, banyak mengungkap masalah infak. Dalam QS. al-Baqarah (2), ditemukan 15 ayat, dalam QS. Ali Imrân (2), ditemukan 1 ayat, dalam QS. al-Nisa (4), ditemukan 2 ayat dan dalam QS. al-Anfâl (8), ditemukan 1 ayat. Berikut ini, dikemukakan ayat-ayat yang dimaksud.
1. QS. al-Baqarah (2):3
(3) الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون
Terjemahnya :
‘3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.’[41]
Ayat di atas, diturunkan secara khusus kepada orang-orang ber-iman.[42] Menurut al-Marâgiy term yunfiqûn pada ayat di atas tidak berarti infâdz yang berarti hilang secara keseluruhan. Tetapi, infâdz di sini berarti mencakup nafkah wajib, baik terhadap isteri, anak dan sanak keluarga.[43]
2. QS. al-Baqarah (2): 215
(215) يسئلونك ماذا تنفقون، قل ماانفقتم من خير فللوالدين والاقربين
واليتمى والمسكين وابن السبيل، وما تفعلوا من خير فإن الله به
عليم
Terjemahnya :
‘215. Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.’[44]
Ayat di atas, turun berkenaan dengan datangnya salah seseorang sahabat dari kaum Anshâr yang bernama Umar bin al-Jumûh kepada Nabi saw. yang menyatakan bahwa; Ya rasul ! aku me-miliki satu dinar, lalu Nabi saw. menjawab nafkahkanlah untuk dirimu sendiri. Lalu ia berkata lagi, kalau aku punya dua dinar ? Nabi saw. menjawab; nafkahkanlah sebagian untuk keluargamu. Lalu ia berkata lagi, kalau aku punya tiga dinar ? Nabi saw. menjawab: nafkahkanlah sebagian untuk kerabatmu ….[45] lalu turunnya ayat يسئلونك ماذا ينفقون … Dari keterangan sebab turunnya ayat ini, dapat dipahami bahwa dalam berinfak ternyata memiliki kriteria-kriteria tertentu. Dalam pengertian bahwa bagi mereka yang berharta sedikit cukuplah ia berinfak untuk dirinya sendiri atau keluarganya dan bagi mereka memiliki harta banyak di samping berifak kepada keluarganya, juga kepada orang lain.
3. QS. al-Baqarah (2): 219
(219) … ويسئلونك ماذا ينفقون، قل العفو كذالك يبين الله لكم
     الآيت لعلكم تتفكرون.
Terjemahnya :
219. … Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah; “yang lebih baik dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.’53.
Dalam Tafsîr al-Marâgiy dijelaskan bahwa; ketika Nabi saw. datang di Madinah, beliau melihat para sahabat sedang minum-minum khamar dan bermain judi, kemudian mereka menanyakannya kepada Nabi saw. Dengan kasus ini, turunlah ayat يسئلونك عن الخمر والميسر قل فيهما اثم كبير ومنافع للناس …   yang terangkai dengan ayat ويسئلونك ماذا ينفقون قل العفو كذالك يبين الله لكم …    .[46] Jadi, ayat tentang infak yang dikutip ini turun bersamaan dengan ayat tentang tahapan pengharaman khamar.
Berdasarkan keterangan di atas dapat dijelaskan bahwa khamar memiliki tahapan-tahapan tentang pengharamannya. Karena demikian halnya, maka infak dalam ayat juga memiliki tahapan-tahapan. Yakni; tahap I, untuk diri sendiri; tahap II, untuk keluarga; tahap III, untuk kerabat dan seterusnya sebagaimana dijelaskan pada QS. al-Baqarah (2): 215 terdahulu.
4. QS. al-Baqarah (2): 254
(254) يآايها الذين آمنوا انفقوا مما رزقناكم من قبل ان يأتى يوم
  لا بيع ولا خلة ولا شفاعة.
Terjemahnya :
‘254. Hai orang-orang yang beriman belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian rezki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak lagi persahabatan yang akrab dan tidak lagi syafa’at.’[47]
Ayat di atas, penulis menemukan asbâb al-nuzul-nya. Tetapi dapat dijelaskan bahwa ayat tersebut merupakan seruan kepada orang-orang beriman untuk berinfak. Dalam kaidah Ushul al-Tafsîr dikatakan, semua seruan yang dimulai dengan kalimat ياايها الذين آمنوا …   me-nandakan suatu kewajiban bagi orang-orang beriman, sehingga jelaslah bahwa ayat ini menjelaskan tentang syariat infak.

5. QS. al-Baqarah (2): 261-265 dan 267.
(261) مثل الذين ينفقون اموالهم فى سبيل الله كمثل حبة انبتت سبع سنابل فى كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم.
(262) الذين ينفقون اموالهم فى سبيل الله ثم لايتبعون ماانفقوا منا ولا اذى لهم اجرهم عند ربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون.
(263) قول معروف خير من صدقة يتبعها اذى والله غني حليم
(264) ياايها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقتكم بالمن والاذى كالذي ينفق ماله رئاء الناس ولا يؤمن بالله واليوم الآخر فمثله كمثل صفوان عليه تراب فاصابه وابل فتركه صلدا، ليقدرون عللا شيئ ومما كسبوا والله لايهد القوم الكافرين.
(265) ومثل الذين ينفقون اموالهم ابتغاء مرضات الله وتثبيتا من انفسهم كمثل جنة بربوة اصابها وابل فاتت اكلها ضعفين فإن لم يصيبها وابل فطل، والله بما تعملون بصير.
……………………………………………………………………
(267) ياايها الذين آمنوا انفقوا من طيبات ما كسبتم ومما اخرجنا لكم من الارض ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون ولستم بآخذيه الا ان تغمضوا فيه واعلموا ان الله غني حميد.
Terjemahnya :
‘261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir; seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurniah-Nya) lagi Maha mengetahui.
262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’
263. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meng-hilankan (pahala) sedekahamu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang me-nafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
265. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan grimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
……………………………………………………………………………………………………..
267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicinkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[48]
Rangkaian ayat di atas cukup panjang dan sebab turunnya di-klasifikasi atas dua kasus yakni ;
1. Ayat 262-266 turun berkenaan dengan datangnya Utsmân bin ‘Affân dan Abdurrahman bin ‘Auf, kepada Nabi saw. membawa dirham untuk dinafkahkannya kepada pejuang yang terlibat dalam perang Tabuk.[49] Abdurrahman bin ‘Auf membawa 4.000 dirham dan berkata ke-pada Nabi saw.; aku memiliki 8.000 dirham lalu seperduanya ini aku per-sembahkan kepada Allah. Sedangkan Utsmân bin Affân membawa 1.000 unta. Sikap kedermawanan kedua sahabat tersebut disambut baik oleh Nabi saw. lalu turunlah ayat الذين ينفقون اموالهم في سبيل الله …  dan se-terusnya. [50]
2. Ayat 267, turun berkenaan adanya ketentuan Nabi saw. tentang jumlah zakat fitrah yang wajib dikeluarkan. Dalam situasi demikian, datanglah seorang sahabat membawa zakatnya berupa buah tamar yang sudah usang, lalu turunlah ayat  ياايها الذين آمنوا انفقوا من طيبات ما كسبتم … . [51]
Pada ayat 261, Allah swt. menginformasikan bahwa nafkah yang diinfakkan di jalan-Nya akan dibalas dengan imbalan pahala yang berlipat ganda bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan terus ber-kembang dan berlimpa ruah.
Pada ayat 262-264, dijelaskanlah bahwa untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda itu, hendaklah dalam berinfak tidak sertai dengan riya’.
Pada ayat 265-266, kembali dijelaskan bahwa bagi mereka yang telah berinfak akan mendapatkan keridhaan dan baginya masih diberikan pahala yang lebih banyak jika dibandingkan pahala yang telah diperoleh-nya sebagaimana dalam ayat 261 di atas.
Pada ayat 267, merupakan penjelasan tentang wujud dan ciri khas harta benda yang layak untuk dizakatkan dan diinfakkan.
6. QS. al-Baqarah (2): 270
(270) وما انفقتم من نفقة او نذرتم من نذر فإن الله يعلمه وما
للظالمين من انصار
Terjemahnya :
‘270. Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya.’[52]
Ayat di atas, merupakan motifasi bagi orang-orang beriman untuk senantiasa berinfak secara ikhlas dalam arti menghindari sikap riya’ yang tidak mengharap sanjungan manusia.[53] Itu disebabkan, karena apa saja yang diinfakkan Allah swt. pasti mengetahuinya dan akan membalasnya sesuai dengan ketentuan-Nya.
7. QS. al-Baqarah (2): 272-274
(272) … وما تنفقون من خير فلانفسكم، وما تنفقون اى ابتغاء وجه الله وما تنفقون من خير يوفى اليكم وانتم تظلمون.
(273) للفقراء الذين احصروا فى سبيل الله لا يستطيعون ضربا فى الارض يحسبهم الجاهل اغنياء التعفف تعرفهم بسيماهم، لا يسمعون الناس الحاف وما تنفقون من خير فان الله به عليم.
(274) الضين ينفقون اموالهم بالليل والنهار سر وعلانية فلهم اجرهم عند ربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون.
Terjemahnya :
‘272. … Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dirugikan.
273. (berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang-orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu ketahui hal mereka dengan melihat keadaan mereka, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.’
274. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.[54]
Ayat di atas, turun bersamaan dengan sabda Nabi saw. yang menyatakan ; لاتصدقوا الا على اهل دينكم (janganlah kalian bersedekah kecuali terhadap sesama orang Islam). Ketika hadis tersebut disabdakan, tiba-tiba turunlah ayat ليس عليك هداهم ولكن يهدي من يشاء وما تنفقون من خير فلأنفسكم وما تنفقون الا ابتغاء وجه الله … .  .[55]
Jika ayat-ayat di atas dikaitkan dengan sebab turunnya, maka berinfak kepada kaum kafir dibolehkan. Sebagai konsekuensi dengan turunnya ayat ini, maka yang tergolong ahlu kitab di khususnya yang bermukim di Madinah senantiasa mendapat bantuan nafkah dari orang-orang Islam.[56] Inilah tatanan kehidupan yang Madaniy diajarkan Islam dalam berbangsa dan bernegara. Tetapi, Islam mengharapkan  bahwa prioritas utama infak adalah terlebih dahulu bagi sesama agama khususnya mereka yang fakir sebagaimana dijelaskan dalam ayat 273-274 yang intinya; berinfak bagi sesama agama diprioritaskan.
Terkait dengan ayat di atas dan ayat-ayat terdahulu, dapatlah dirumuskan bahwa infak tetap diprioritaskan terlebih dahulu sesama Islam, khususnya kepada keluarga, orang-orang fakir dan mereka yang mem-butuhkannya. Setelah itu barulah kepada mereka yang non Islam. Jadi, pada aspek-aspek tertentu hadis yang disabdakan Nabi saw. tidak menjadi Mansûkh dengan adanya ayat ini.
8. QS. Âli Imrân (3):  92
(92) لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيئ، فإن
الله به عليم
Terjemahnya :
‘92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.’ [57]
Ayat di atas, penulis tidak menemukan sebab turunnya. Tetapi, akibat yang ditimbulkan setelah turunnya ayat tersebut menjadikan sahabat sangat antusias dalam berinfak. Salah satu sahabat dari kaum Anshâr yang bernama Abû Thalha mempunyai kekayaan satu-satunya yang amat dibanggakan berupa kebun yang letakknya tidak jauh dari mesjid Madinah. Nabi saw. kerap kali singgah di kebun itu dan meminum airnya yang sejuk. Karena pengaruh ayat ini, maka Abû Thalha mem-berikan kuasa kepada Nabi saw. untuk dinafkahkannya kepada Islam.[58] Dengan melihat sikap Abû Thalha ini, boleh jadi sebagai motifasi bagi segenap umat Islam untuk senantiasa berinfak.
9. QS. al-Nisâ (4): 34.
(34) الرجال قوامون على النساء بما فضل الله على بعض وبما انفقوا
من اموالهم، فالصلحت قنتت حفظت للغيب بما حفظ الله …
Terjemahnya :
’34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara (mereka)…. [59]
Ayat di atas, turun berkenaan dengan Sa’îd bin al-Rabi’, di mana beliau sebagai pemimpin dalam rumah tangganya sangat jarang memberi nafkah kepada isterinya. Maka Hubaib binti Zaidan (isteri Sa’îd bin al-Rabi’) mengadukan perihal suaminya di hadapan Nabi saw. Dalam ke-adaan demikian turunlah ayat الرجال قومون على الناساء … وما تنفقوا من اموالهم … [60]
Ayat di atas bukan saja menerangkan tentang keunggulan kaum laki-laki dalam meminpin, tetapi yang lebih penting adalah kewajibannya untuk mencarikan nafkah bagi kelangsungan hidup keluarganya.  Karena-nya, nantilah kaum laki-laki dianggap sebagai pemimpin jika mereka mampu membiayai kehidupan rumah tangganya.
10. QS. al-Nisa (4): 38
(38) والذين ينفقون اموالهم رئاء الناس ولا يؤمنون بالله باليوم لآخر
ومن يكن الشيطان قرينا فساء قرينا.
Terjemahnya :
‘38. Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil syaitan menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.’ [61].
Mengenai sebab turun ayat di atas, tidak ditemukan. Mengenai kandungannya terkait dengan ayat-ayat terdahulu yang menerangkan tentang cara berinfak yang baik, yakni berinfak bukan karena riya’.
11. QS. al-Anfâl (8): 3
(3) الذين يقيمون الصلاة ومما رزفناهم ينفقون
Terjemahnya :
‘3. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menfakahkan sebagian rezkinya yang Kami telah berikan kepada mereka’[62]
Ayat di atas, turun dengan rangkaian ayat 1-4 dalam QS. al-Anfâl (8). Yakni, banyaknya sahabat yang mati syahid dalam perang Badar[63] walaupun ketika itu pasukan Islam tetap menang dan mereka berebut dalam pembagian harta rampasan perang. Dalam kondisi demikian, turunlah ayat ini,[64] yang menerangkan bahwa harta rampasan perang adalah milik Allah swt dan bagi mereka harus tunduk dengan ketentuan Nabi saw dalam masalah pembagian rampasan perang. Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan ciri-cirinya antara lain adalah ومما رزقناهم ينفقون  . yaitu mereka yang menafkahkan hartanya.
Berdasar dari uraian-uraian terdahulu, penulis perlu kemukakan bahwa masalah infak dalam Alquran terklasifikasi dalam ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyah dengan perincian sebagai berikut ;
1) pada ayat Makkiyah, ditemukan dalam (a) QS. al-Ra’d (13): 22; (b) QS. al-Kahfi (18): 42 dan (c) QS. al-Furqân (25): 67.
2) pada ayat Makkiyah, ditemukan dalam (a) QS. al-Baqarah (2): 3; 215; 219; 254; 261; 262; 263; 264; 265; 267; 270; 272; 273; 274, (b) QS. Âli Imrân (3): 92, (c) QS. al-Nisâ (4): 34 dan 38, (d). al-Anfâl (8): 3.
Dengan demikian, masalah infak dalam kategori Makkiyah, sebanyak 3 ayat, sedangkan dalam kategori Madaniyah sebanyak 18 ayat. Jumlah keseluruhannya sebanyak 21 ayat.
C. Analisis Ayat
1. Ayat-ayat Makkiyah
Ayat-ayat tentang infak yang tergolong Makkiyah, memiliki nilai kerohanian yang sangat mendalam bagi setiap pribadi muslim. Hal tersebut sesuai dengan pokok kandungan Makkiyah tentang; (1) masalah keesaan dan keimanan kepada Allah; (2) masalah ancaman dan siksaan di dunia maupun di akhirat kelak; dan (3) masalah hal ihwal yang men-jalankan ritual keagamaan.

Jika ayat-ayat infak yang tergolong Makkiyah, dianalisis secara cermat dan mendalam maka dapat dirumuskan bahwa ayat-ayat tersebut mengandung masalah keimanan dan masalah balasan.
Dalam QS. al-Ra’ad (13): 22, dijelaskan bahwa sikap keimanan itu meliputi; (1) sikap sabar menuntut ridha Allah (والذين صبروا اتبغاء (وجه الله ; (2) mendirikan shalat (واقاموا الصلاة); dan (3) berinfak (ومما (رزقناهم ينفقون  . Dikatakan demikian, karena ketiga sikap dan perilaku ini tergolong mulia dan lahir atas dasar keimanan.[65]
Sikap shabar yang dimaksud adalah menghindarkan diri dari segala macam yang diharamkan Allah dan perbuatan dosa yang telah ditentukan syariat. Sebagai konsekuensi kesabaran ini, akan menuntun seseorang untuk mendapat keridhaan Allah. Selanjutnya adalah me-laksanakan shalat. Yakni,  mendirikan shalat wajib dan sunnah sesuai dengan ketentuan syariat yang meliputi; ketepatan waktu dan rukun-rukunnya. Yang terakhir adalah berinfak terhadap keluarga, kerabat-kerabat dari kaum fakir dan miskin serta mereka yang kesulitan finansial.
Pada QS. al-Kahfi (18): 42, disebutkan bahwa ketidak berimanan mereka, termasuk di dalamnya enggang menafkahkan rezki ( يقلب كفيه (على ما انفق, mendorongnya untuk tetap terlarut-larut dalam kedurhakaan dan tidak mampu mencapai kebahagiaan. Padahal, sudah jelas dikatakan bahwa sikap dermawan akan mendapatkan kelapangan rezki yang ber-muara pada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Pada QS. al-Furqân (25): 67, disebutkan bahwa dengan keimanan seseorang ia terdorong untuk berinfak sesuai kesanggupannya, yang secara otomatis menghindarkan dirinya dari kekikiran. Dalam hal ini, Islam menganjurkan kepada pengikutnya agar memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang halal.[66] Dengan demikian, berinfak sesuai kesanggupan dalam ayat di atas tertuju kepada semua orang. 
Mengenai balasan bagi mereka yang berinfak, pada penghujung ayat 22 dalam QS. al-Ra’d (13), Allah menyata-kan الئك لهم عقبى الدار (mereka lah yang mendapat tempat keindahan). Selanjutnya, pada permulaan ayat dalam QS. al-Kahfi (18) Allah menyatakan واحيط بثمره (  dan harta kekayaannya dibinasakan).
Dengan keterangan di atas, diperoleh informasi bahwa bagi mereka yang senantiasa berinfak berinfak akan memperoleh kebahagiaan kelak, sedangkan bagi mereka yang enggang berinfak dibinasakan hartanya.
Jadi, ayat-ayat Makkiyah di atas di samping menjelaskan bahwa wujud keimaman seseorang adalah berinfak dan baginya diberikan kabahagiaan kelak, dijelaskan pula bahwa mereka yang enggang berinfak akan mendapat kecaman dan balasan berupa siksaan dari Allah swt. Demikianlah kandungan secara global ayat-ayat Makkiyah yang me-nerangkan tentang infak.
2. Ayat-ayat Madaniyah
Ayat-ayat infak yang tergolong Madaniyah di samping tetap mengandung masalah keimanan dan masalah balasan sebagaimana yang termuat dalam ayat-ayat Makkiyah terdahulu, juga mengandung masalah-masalah teknis.
Ayat-ayat infak yang tergolong Madaniyah dan memiliki ke-terkaitan dengan keimanan adalah; (1) QS. al-Baqarah (2): 3. Dalam ayat ini, secara jelas menyatakan bahwa orang beriman adalah mereka yang berinfak; الذين يؤمنون … ومما رزقناهم ينفقون .;  (2) QS. al-Baqarah (2) 254 yang secara jelas memerintahkan orang beriman untuk senantiasa berinfak ; ياايها الذين آمنوا انفقوا مما رزقنكم  ; (3) QS. QS. al-Baqarah (2): 267 yang secara jelas memerintahkan untuk berinfak dengan rezki yang baik ; ياايها الذين أمنوا انفقوا من طيبات …  ; (4) QS. al-Nisâ (4): 38 secara jelas menyatakan bahwa seseorang yang berinfak dengan riya tidak tergolong sebagai orang beriman ; والذين ينفقون اموالهم رئاء الناس ولا يؤمنون  ; dan (5) QS. al-Anfâl (8): 3 secara jelas menyatakan bahwa ciri-ciri orang beriman adalah mendirikan shalat dan senantiasa berinfak ; 

الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون      .إنما المؤمنون …
Dari keterangan-keterangan di atas, ditemukan bahwa term-term âmanû dan yu’minûn selalu bergandengan dengan term-term yunfiqûn. QS. al-Baqarah (2): 254 dan 267 memerintahkan orang beriman untuk berinfak, QS. al-Baqarah (2): 3, QS. al-Nisa (4): 38 dan QS. al-Anfâl (3) mengemukakan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah berinfak. Dengan demikian, diperintahkannya orang-orang beriman untuk berinfak karena salah satu tolok ukur keimanan itu adalah berinfak.

Mengenai balasan orang-orang yang berinfak, dalam QS. al-Baqarah (2): 262, dinyatakan bahwa balasan bagi mereka yang berinfak adalah pahala di sisi Allah swt.;  لهم اجرهم عند …ربهم  dan pada ayat 272 dinyatakan; إبتغاء وجه الله …   . Balasan pahala yang dimaksud syurga yang akan diperolehnya di akhirat nanti. Adapun balasan yang diperoleh di dunia adalah jaminan Allah swt. terhadap mereka bahwa dengan berinfak tidak mengakibatkan kefakiran dan kemiskinan.[67] Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa dengan berinfak akan mewujudkan balasan berupa kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dari uraian-uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa ayat-ayat tentang infak memiliki korelasi yang sangat erat. Yakni, ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah salaing ber-munâsabah[68] dari segi kandungan.
Adapun masalah lain yang terkandung khusus dalam ayat-ayat Madaniyah ini adalah masalah teknis. Yakni, dalam berinfak hendaknya tidak sertai riya’ atau pamer harta (QS. al-Baqarah (2): 261-262); tidak mengungkit-ngungkit kembali harta yang diinfakkan  sehingga menyakit-kan hati yang menerimnya (QS. al-Baqarah (2): 264; barang yang diinfakkan hendaknya yang baik-baik (QS. al-Baqarah (2): 267.
[1]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 330.
[2]Lihat Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), h. 463.
[3]Lihat Louis Ma’lûf, Al-Munjid Fiy al-Lughah (Bairût: Dâr al-Masyriq, 1977), h.  828
[4]Lihat Ibn Fâris bin Zakariyah, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, juz V (Cet.II; Mesir: Mustâfa al-Bâby al-Halaby Wa Awlâduh, 1972), h. 454.
[5]Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak dan Sedekah (Cet.I; Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 14-15
[6]Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedia Islam Indonesia (Jakarta: Djambatan, 1992), h.422
[7]Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam; Zakat dan Wakaf (Cet.I; Jakarta: UI-Press, 1988), h. 23
[8]Lihat QS. al-Baqarah (2): 270 dan QS. al-Taubah (7):121.
[9]Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. Republik Indonesia “Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 1999” tentang Pengelolaan Zakat,  (Ujungpandang: Kanwil Dep. Agama Prop. Sul-Sel, 1999), h. 3.
[10]Maksudnya, shadaqah boleh saja dalam bentuk non materil misalnya; membaca takbir, tahmid, tahlil dan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar. Lihat Didin Hafidhuddin, op. cit., h. 15.
[11]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 47.                                                
[12]Dalam kaedah Ushûl al-Fiqh dikatakan bahwa “كل امر للوجوب” artinya; segala bentuk perintah (Allah) adalah wajib. Lihat Abdul Hamid al-Hakim, Al-Bayân (Jakarta: al-Ma’arif, 1991), h. 7.
[13]Dalam kaedah Ushûl al-Fiqh dikatakan bahwa “كل نهى للتحريم” artinya; segala bentuk pelarangan (Allah) adalah haram untuk dilaksanakan. Lihat ibid.
[14]Departemen Agama RI., op. cit., h. 68.
[15]Abû al-Fidâ Ismâ’il bin Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm al-Musamma Tafsîr Ibn Katsîr, juz I (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 324
[16]Republik Indonesia, “Undang-Undang RI”, op. cit., h. 2.
[17]Ibid.
[18]M. Amin Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan (Cet. II; Bandung: Mizan, 1998), h. 139-140
[19]Lihat M. Quraish Shihab, Lentera Hati dan Hikmah kehidupan (Cet.I; Bandung Mizan, 1994), h. 293.
[20]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat  (Cet. XII; Bandung: Mizan, 1996), h. 324.
[21]Lihat M. Quraish Shihab, Tafsîr al-Amanah (Cet.I; t.tp. Pustaka Kartini, 1992), h. 209-210.
[22]Term-term yang dimaksud dapat dilihat dalam Muhammad Fû’ad Abd. al-Bâqy, Al-Mu’jam al-Mufahras Liy Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm (Cet. II; Kairo: Dâr al-Fikr al-Arabiy, 1980), h. 886-887.
[23]Lihat Muhammad bin ‘Âliy bin Muhammad al-Syaukâniy, Fath al-Qadîr; al-Jâmi’ Bayna Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsîr, juz I (Cet.I; Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1994), h. 450.
[24]Uraian lebih lanjut mengenai makna-makna yang berderivasi dari term infâq, lihat al-Râgib al-Ashfahâniy, Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (Cet. I; Damsyiq: Dâr al-Qalam, 1412 H./1992 M.),  h. 819
[25]Secara etimologi kata asbâb al-nuzûl terdiri dari dua suku kata. Yakni, asbâb dan al-nuzûl. Kata asbâb adalah bentuk jamak dari sabab, di mana kata ini berasal dari huruf sîn dan ba yang berarti memotong dan memaki. Jadi, sabab berarti tali atau setiap sesuatu yang dapat sampai pada lainnya. Lihat Ibn Mandzur al-Anshâriy, op. cit., jilid I; h. 440. Sedangkan kata nuzûl adalah bentuk masdar dari kata nazala-yanzilu-nuzûl yang berarti turunnya atau jatuhnya. Lihat Ibid., jilid XI; h. 48. Jadi, asbâb al-nuzûl di sini adalah sebab-sebab turunnya ayat dalam pengertian menunjukkan adanya hubungan kausalitas. Menurut terminologi, asbâb al-nuzûl adalah sesuatu yang melatar belakangi turunnya suatu ayat atau lebih, sebagai jawaban terhadap suatu peristiwa atau menceritakan suatu peristiwa, atau menjelaskan hukum yang terdapat dalam peristiwa itu. Lihat Dawud al-Attâr, Mu’jaz ‘Ulûm al-Qur’ân diterjemahkan oleh Afif Muhammad dan Ahsin Muhammad dengan judul Perspektif Baru Ilmu Al-Quran (Cet. I; Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 127.
[26]Demikian pendapat jumhur mufassirun sebagaimana yang dike-mukakan Abû Husain Ali bin Ahmad al-Wahidiy al-Naysabûriy, Asbâb al-Nuzûl (t.t.: Maktabah al-Halabiy, t.th.), h. 71.
[27]Disadur dari Mannâ’ al-Qaththân, Mabâhits Fiy ‘Ulûm al-Qur’ân (Beirur: Mansyûrat Liy al-Ashr al-Hadîts, 1973), h. 61.
[28]Lihat Muhammad Bakri Ismail, Dirâsat Fiy ‘Ulûm al-Qur’ân (Cet.I; Kairo: Dâr al-Manâr, 1991), h. 49.
[29]M. Ali Hasan dan Rifa’at Syauqi Nawawi, Pengangar Ilmu Tafsir (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 100
[30]M. Hasbi Ash-Siddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Cet.III; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 56-57.
[31]Muhammad Bakri Ismâ’il, op. cit., h. 52-53.
[32]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 372.
[33]Abû al-Fidâ Muhammad Ismâ’îl ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 498.
[34]Sa’îd Hawwa, Al-Asâs Fiy al-Tafsîr, jilid III (Cet.II; Mesir: Dâr al-Salâm, 1989), h. 2741
[35]Departemen Agama RI, op. cit., h. 450.
[36]Lihat Ahmad Musthâfa al-Marâgit, Tafsîr al-Marâgiy, jilid VII (Mesir: Musthâfa al-Bâby al-Halaby wa Awlâduh, 1973), h. 56.
[37]Departemen Agama RI., op. cit., h. 568.
[38]Demikian penjelasanan yang dikemukakan Tim Penerjemah dan Penafsir Alquran Departemen Agama RI., yang menyatakan bahwa QS. al-Furqân (25) tergolong Makkiyah. Dikatakan demikian karena ayat-ayatnya menerangkan tentang ke-esaan Allah, keimanan, kebathilan dan syirik. Ibid., h. 558.
[39]Lihat Muhammad Bakri Ismail, loc. cit.
[40]Mannâ’ al-Qatthân, op. cit., h. 55.
[41]Departemen Agama RI., op. cit., h. 8.
[42]Lihat Abiy al-Hasan ‘Âli bin Ahmad al-Wâhidiy al-Naysabûriy Asbâb al-Nuzûl (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t.th.), h. 12
[43]Al-Marâgiy, op. cit., jilid I; h. 66.
[44]Departemen Agama RI., op. cit., h. 52.
[45]Uraian secara sempurna dialog di atas, dapat dilihat dalam al-Wâhidiy, op. cit., h. 40.
[46]Al-Marâgiy, op. cit., h. 259.
[47]Departemen Agama RI., op. cit., h. 62.
[48]Ibid., h. 66-67.
[49]Perang Tabuk terjadi pada tahun 631 M. Terjadinya perang ini sebagai jawaban Nabi saw. atas serangan Heraclius yang terjadi di antara Madinah dan Damaskus. Ketika itu, Nabi saw. mengangkat Ali bin Abû Thâlib sebagai panglima perang yang memimpin pasukan + 30.000 orang sahabat dan mereka berhasil mengalahkan lawan yang jumlah jauh lebih banyak dari pasukan Islam. Uraian lebih lanjut, lihat Syed Mahmudunnasir, Islam; Its Concepts and History diterjemahkan oleh Adang Efendi dengan judul  Islam; Konsepsi dan Sejarahnya (Cet. IV; Bandung: Rosdakarya, 1994), 145-146.
[50]Lihat al-Wahidiy, op. cit., h. 55.
[51]Ibid.
[52]Departemen Agama RI., op. cit., h. 67.
[53]Demikian penjelasan tentang kandungan ayat di atas yang dikemukakan oleh Hamka, Tafsir al-Azhar, jus III (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), h.56
[54]Departemen Agama RI., op. cit., h. 68
[55]al-Wahidiy, op. cit., h. 91.
[56]Lihat Hamka, op. cit., h. 60.
[57]Departemen Agama RI., op. cit., h. 91.
[58]Lihat Syihâb al-Dîn al-Sayyid Khumûd al-Alûsiy, Rûh al-Ma’âniy Fiy Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm Wa al-Sab’u al-Matsâni, jilid II (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994 M./1414 H.), h. 318.
[59]Departemen Agama RI., op. cit., h. 123.
[60]Al-Wahidiy, op. cit., h. 155.
[61]Departemen Agama RI., op. cit., h. 124.
[62]Ibid., h. 360.
[63]Perang Badar terjadi pada tahun 624 M. Dilatar belakangi oleh kedengkian kaum kafir Quraish di Mekkah yang melihat kehidupan Islam di Madinah cukup maju.  Dengan kedengkian kaum kafir ini, mereka menghasut para umat Islam dan menawarkan untuk perang …. Maka terjadilah perang Badar. Uraian lebih lanjut, lihat  Mahmudunnasir, op. cit., h. 133.
[64]Al-Wahidiy, op. cit., h. 155.
[65]Demikian makna shabar dalam QS. al-Ra’d (13): 22. Uraian lebih lanjut lihat Sa’îd Hawwa, op. cit., h. 2740.
[66]Muhammad Sa’ami, Al-Mâl Fiy Al-Qur’ân Wa al-Sunnah diterjemahkan oleh Saleh Bahabazi dengan judul Harta dan Kedudukannya dalam Islam (Jakarta: Ama Press, 1990), h. 38.
[67]Lihat ibid., h. 35. Lihat pula Hamka, op. cit., h. 43. Bandingkan dengan Sa’îd Hawwa, op. cit., h. 613.
[68]Term munâsabah berasal dari akar kata ناسب – يناسب – مناسبة   yang berarti kedekatan. Lihat Lihat al-Thahit Ahmad al-Zawiy, Al-Tartîb al-Qamûs al-Muhît Ala Tariq al-Misbah al-Munîr Wa Asas al-Balagah, juz IV (Cet.III; Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.), h.360. Dari aspek terminologi munâsabah al-ayah adalah ; segi-segi hubungan antara satu kalimat lain dalam satu ayat, antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam banyak ayat, atau antara satu ayat dengan surah yang lain. Lihat Mannâ’ al-Qatthân, op. cit., h.97.
[69]Departemen Agama RI., op. cit., h. 283.
[70]
[71



Kata Kunci :

pengaruh infaq bagi kesejahteraan,perintah infak,sasaran infaq,Tafsir tematik tentang sedekah

Related Posts to "Infak Dalam Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik)"

Response on "Infak Dalam Alquran (Suatu Kajian Tafsir Tematik)"

Muhammad Risalon Google+
Jasa Like Fanpage Facebook Murah