Saturday, 01 November 2014

Peranan Akal Terhadap Iman Menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Studi Analisis Filosof)

Artikel Bagus – Peranan Akal Terhadap Iman Menurut Haji Abdul Malik KarimAmrullah (Studi Analisis Filosof)

Skripsi pendidikan agama Islam atau PAI yang akan dishare kali ini adalah Peranan Akal Terhadap Iman Menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Studi Analisis Filosof), mudah-mudahan ada faedahnya bagi kita semua.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Akal adalah sebagai upaya untuk berpikir yang khusus dimiliki oleh manusia, sedangkan iman adalah termasuk masalah yang banyak dibahas dalam teologi Islam, disamping membahas masalah ketuhanan, kenabian, maupun yang menyangkut sistem eskatologi (keakhiratan). Maka akal berperan sebagai alat berpikir dan iman sebagai penentu dalam mengeksplorasi sikap dan tingkah laku manusia di atas permukaan bumi ini. Oleh karena itu, setiap orang (Islam) yang ingin mempelajari Islam secara mendalam, harus memahami iman terlebih dahulu, agar dapat memantapkan kepercayaan yang dianutnya dengan melalui akal pikirannya untuk menghilangkan keraguan yang melekat dihatinya.

Permasalahan disekitar iman, semakin berkembang dan kompleks mulai sekitar  abad ke-2 Hijriyah dengan munculnya berbagai pendapat baik dari aliran atau golongan dikalangan para ulama. Para ulama kalam (Mutakallimin), memberikan batasan dan pengertian yang berbeda tentang iman. Perbedaan rumusan tentang iman dari para ulama, berkisar antara peranan akal dan bagaimana hubungan iman seseorang dengan amal perbuatan yang dilakukannya. Mu’tazilah misalnya, mengatakan bahwa iman tidak hanya tasdiq saja, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan, sementara al-Asy’ari mengatakan bahwa I iman hanya tasdiq dan bukan hanya pembenaran dalam hati, tetapi juga berbentuk pengalaman jasmani, dan tasdiq yang dimaksud al-Asy’ari adalah pembenaran tentang apa yang didengar dari wahyu.
Al-Maturidi berpendapat bahwa iman adalah tasdiq dan bukan lisan (ucapan). Tasdiq yang dipahami oleh Al-Maturidi adalah tasdiq sebagai hasil dari ma’rifah, yaitu tasdiq yang dihasilkan dari penjelajahan al-aql bukan semata-mata berdasarkan al-sam’u.[1]  Korelasi dari pendapat Al-Maturidi ditunjukkan dalam QS. al-Baqarah (2):260

وإذقال إبراهيم ارني كيف تحي الموت قال اولم تؤمن قال بلي ولكن ليتمئن قلبي
Terjemahnya:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim as. berkata: Ya, Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati. Allah berfirman: Apakah kamu belum percaya? Ibrahim menjawab saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tenang hati saya !”.[2]   

Jadi, iman itu tidaklah cukup hanya dengan perkataan semata-mata sementara hati tidak beriman. Apa yang diucapkan akan dicerna oleh akal budi, dan akan menjadi batal apabila hati tidak mengakui apa yang diucapkan itu. Oleh karena itu iman bukan saja sekedar pernyataan lidah semata, tetapi iman harus sampai pada tingkat yang kuat tanpa dipengaruhi oleh kebimbangan dan keraguan.[3]
Iman atau aqidah merupakan masalah yang fundamental dalam Islam dan akal merupakan salah satu anugrah Tuhan yang diberikan kepada manusia, yang dijadikan sebagai alat untuk berpikir mana yang baik dan mana yang buruk dengan berdasarkan iman kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah QS. al-Ra’d (13):4

إن في ذلك لآية لقوم يعقلون
Tejemahnya:
“Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) tanda-tanda bagi kaum yang berakal”.[4]
Akal digunakan untuk menelaah segala yang ada di alam ini, sehingga menamba keyakinan akan Yang Maha Kuasa dan eksistensi Tuhan. Karena itu, akan dapat memperkuat iman seseorang dan menjadikan segala perbuatan dengan tuntunan ajaran agama.
Iman menjadi titik tolak prikehidupan kaum muslim dalam menjalankan aktivitasnya di permukaan bumi ini sebagai khalifah. Koherensinya pembahasan tentang akal dan iman pada diri seseorang muslim akan berwujud pada tingkah laku serta kualitas hidup manusia. Oleh karena itu, iman dan akal adalah sesuatu yang teoritis, tetapi realistik dan ideal. Konsep ini merupakan sistim teologi yang dapat dipergunakan terhadap aliran-aliran teologi Islam yang berpendapat bahwa akal manusia bisa sampai pada Tuhan. Untuk mengetahui kadar iman dan kemampuan akal seseorang dapat dilihat pada realitas kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun dalam lingkup sosialnya.
Karena iman bukanlah sesuatu yang sifatnya tambahan dalam kehidupan ini, yang boleh diabaikan, diremehkan dan dipandang enteng, tetapi iman merupakan suatu elemen penting dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan. Iman sangat urgen dalam menata dan menghiasi bingkai kehidupan seorang muslim. Akal budi adalah suatu potensi dalam rohani manusia yang berkesanggupan untuk mengerti sedikit secara teoritis kosmos yang mengelilinginya dalam mana ia sendiri juga termasuk, dan untuk secara praktis  mengubah dan mem-pengaruhinya.[5] 
Kadar keimanan seseorang merupakan neraca yang membawa kita pada kebahagiaan abadi, atau sebaliknya. Sebagaimana manusia menuju kepada surga atau neraka. Jadi, merupakan suatu keharusan bagi yang memiliki akal pikiran yang sehat untuk mempertahankan dan memelihara iman itu dalam kualitas yang tinggi, dengan merealisasikannya dalan kehidupan sehari-hari, karena akal itu akan timbul setelah akal itu sendiri sampai pada ujung perjalanan yang masih dapat dijalaninya. Maka bertambah banyak alat pengetahuan yang dipakai dan pada akhirnya bertambah pulalah martabat dan iman seseorang.[6] Disini perlu dipertegas sedikit, bahwasanya iman dan akal mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan,  karena akal merupakan sentral dalam membentuk keimanan seseorang. Iman yang didasarkan pada akal, disebut ma’rifah atau mengetahui benar apa yang diyakininya.[7] Haji Abdul Malik Karim Amrullah (selanjutnya disebut Hamka) adalah salah seorang pemikir Islam yang mengemukakan bahwa akal merupakan anugrah Tuhan yang dimiliki oleh manusia, karena itu, manusia wajib beriman kepada Allah sesuai dengan kemampuan akalnya.
Akal merupakan suatu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia, yang dapat mengetahui  sesuatu yang halal dan haram serta baik dan buruk. Hamka berpendapat seperti itu berdasarkan teologi kalam yang membahas masalah akal dan wahyu, karena akal merupakan alat yang dimiliki oleh manusia sedangkan wahyu itu di imani oleh manusia yang menjadi sumber pengetahuan itu sendiri.[8]
Oleh sebab itu manusia wajib beriman  kepada Allah sebelum turunnya wahyu, karena manusia dengan kemampuan akalnya dapat mengetahui kekufuran itu haram. Karena kekufuran itu sesuatu yang dibenci oleh Allah, manusia mampu mengetahui bahwa beriman kepada Allah itu adalah wajib, juga dinyatakan bahwa terdapat perbedaan antara orang yang berakal dengan orang yang tidak berakal, seperti perbedaan antara orang yang buta dengan orang yang tuli.[9]
Hamka menegaskan dalam kitab tafsir al-Azhar, bahwa iman adalah ucapan (al-qawl) dan perbuatan (al-‘amal), sehingga didefinisikan  iman itu sebagai :

الإيمان قول وعمل فهو إذا يزيد وينقص
Terjemahnya:
“Iman itu adalah kata dan perbuatan, lantaran itu ia bisa betambah dan berkurang”.[10]
Dengan menyebut unsur perkataan dan pebuatan dalam mendefinisikan tentang iman, disini sangat jelas alur pemikiran Mu’tazilah sebagai aliran kalam rasional dalam islam. Mu’tazilah sangat mementingkan kekuatan akal dalam menentukan kualitas iman seseorang, bukan sekedar tasdiq (pembenaran tentang apa yang didengar) tetapi juga ma’rifah (mengetahui benar apa yang diyakininya), serta meningkat pada amal perbuatan.[11]
Dari ungkapan di atas, telah tampak bahwa iman yang dimaksud oleh Hamka, bukan hanya sekedar pengakuan dengan lidah seseorang atau yang diperkuat dengan pembenaran dalam hati, melainkan disertai dengan pelaksanaan, yang terbukti dengan pebuatan sebagaimana yang diucapkan oleh lidah, sekaligus menjadi keyakinan hidup manusia. Sedangkan akal memiliki kebebasan dan kehendak dalam berbuat. Olehnya itu, apapun yang terjadi pada manusia, merupakan kehendaknya, bahkan kafir dan mukminnya seseorang ditentukan oleh manusia itu sendiri, yang baik dan buruk, mana yang mudarat dan mana yang bermamfaat.
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Dari uraian yang penulis telah kemukakan pada latar belakang di atas, berikut ini penulis mengemukakan beberapa problematika sebagai rumusan masalah sekaligus sebagai gambaran umum dari skripsi ini. Adapun per-masalahan yang penulis maksudkan adalah sebagai berikut:
1. Apakah yang melatar belakangi timbulnya konsep iman Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) ?
2. Bagaimana corak pemikiran Hamka tentang iman ?
3. Bagaimana peranan akal terhadap iman ?
C. Hipotesis
Berangkat dari uraian yang diformulasikan dengan permasalahan seputar iman, maka akan ditarik suatu kajian yang mendasar dalam bentuk hipotesis atau jawaban sementara sebagai berikut : 
  1. Timbulnya konsep iman, yang dikemukakan oleh Hamka, banyak mendapat pengaruh dari pemikiran klasik Islam abad ke-2 H (aliran Mu’tazilah) yang diformulasikan dengan pemikiran moderen dari pembaharu Islam pasca wahabiah. Seperti diketahui bahwa pelopor pembaharu yang ada di Indonesia dimulai oleh kaum Paderi di Sumatera dan juga terilhami oleh gerakan  revivalisme Wahabiah.   
  2. Iman menurut pemikiran Hamka adalah ucapan dan perbuatan, dan tidak hanya sekedar pengakuan dengan lidah atau hanya diperkuat dengan hati, melainkan harus disertai dengan perbuatan. Perbuatan ini bukan saja mengerjakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah semata, tetapi juga meliputi perjuangan menegakkan kalimat Allah di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan akal menurutnya adalah pemberian Tuhan dan merupakan suatu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia, karena itu, manusia wajib beriman kepada Allah, sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sehingga kita dapat mengetahui sesuatu tentang baik dan buruk serta halal dan haramnya sesuatu itu.
  3. Peranan Akal dalam iman adalah akal merupakan suatu anugrah dari Tuhan, atau daya yang hanya dimiliki oleh manusia. Adapun iman yaitu kepercayaan atau keyakinan dalam bathin yang melahirkan niat suci dan kuat serta ketabahan dalam menghadapi ujian. Akal menjadi dasar yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, dengan akal inilah manusia mempunyai kecerdasan, sehingga dapat membedakan baik dan buruknya sesuatu perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama sebagai manifestasi dari iman. Peranan akal terhadap iman adalah memperkokoh iman, karena iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan atau ditunjang dengan akal yang sehat. Iman harus berdasar pada keyakinan bukan pada pendapat dan akal membantu memperkuat keyakinan tersebut.

D. Pengertian Judul
Sesuai dengan judul skripsi ini, mengenai “Peranan Akal Dalam Iman menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Studi Analisis Filsafat), agar menjadi kongkrit dan tidak terjadi interpretsi dari apa yang sesungguhnya dimaksudkan, maka perlu memberikan pengertian judul menurut arti harfiah dan istilah sebagai berikut: 
  1. Peranan; sesuatu yang jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa).[12]
  2. Iman yaitu kepercayaan (yang berkenaan dengan agama), yakni percaya kepada Allah swt.[13]
  3. Akal adalah alat berfikir; daya pikir (untuk mengerti dan sebagainya) pikian ingatan.[14]

Jadi skripsi ini membahas tentang peranan akal  dalam iman, menurut konsep Hamka sebagai seorang sosok reformis islam di Indonesia, dalam sebuah pembahasan yang bernuansa filsafat. Karena penulis berpendapat bahwa Hamka tidak dapat dipisahkan dengan panorama Islam di Indonesia.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam tinjauan pustaka ini, penulis merasa perlu memberikan penjelasan tentang relevansi antara masalah pokok yang akan dikaji dengan sejumlah teori dengan sejumlah referensi yang digunakan.
Setelah penulis meneliti dengan seksama masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini, penulis ber-kesimpulan bhwa judul ini belum pernah dibahas oleh penulis lain. Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis merujuk pada buku literatur seperti “Corak Pemikiran Kalam Tafsi Al-Azhar” karangan Yunan Yusuf, yang diterbitkan oleh Pustaka Panjimas, yang di dalamnya memuat pembahasan mengenai akal yang menjadi sumber pengetahuan manusia. Kemudian buku “Falsafah Hidup” karangan Hamka, yang diterbitkan oleh Pustaka Panjimas, yang memuat pembahasan seputar tentang akal dan iman. Selanjutnya buku “Tasawuf Moderen” karangan Hamka, diterbitkan oleh Pustaka Panjimas, yang memuat pembahasan tentang iman dan akal dalam Islam. Dan buku “Tafsir Al-Azhar” karangan Hamka, diterbitkan oleh Pustaka Panjimas, yang memuat konsep iman dan kekuatan akal dalam diri manusia, serta berbagai literatur lainnya yang banyak berhubungan dengan pembahasan judul skripsi ini.
F. Metode Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan  beberapa metode penelitian sebagai berikut:
1. Metode Pendekatan.
  • Pendekatan Filosofis, adalah metode yang digunakan untuk mendekati objek permasalahan secara mendalam dan dapat dijankau oleh pikiran yang logis.
  • Pendekatan historis, yaitu penyelidikan dengan menggunakan aplikasi metode pemecahan yang ilmiah dari perspektif historis suatu masalah.[15]
  • Pendekatan Teologis, adalah membahas suatu permasalahan berdasarkan pemikiran-pemikiran ajaran Islam (al-qur’an dan hadis).

2. Metode Pengumpulan Data.
Di dalam pengumpulan data, penulis hanya menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library research), yaitu dengan melakukan penelitian terhadap buku-buku kepustakaan serta bahan lainnya kemudian diambil intisari sebagai bahan penulisan yang ada hubugannya dengan masalah yang dibahas.[16]
3.Metode Pengolahan Data.
Dalam pengolahan data, penulis menggunakan Metode Kwalitatif; yaitu pengolahan data didasarkan pada kenyataan tau gejala-gejala sosial, diman fakta initidak dapat diukur dengan angka-angka, sehingga hanya berfokus pada kualitas nilainya.
4.Metode Analisis Data; Analisis data dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, menggunakan beberapa metode analisis sebagai berikut:
  • Metode Induktif, yaitu pengolahan data yang berangkat dari fakta-fakta yang bersifat khusus, kemudian dari peristiwa-peristiwa tersebut ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum.[17]
  • Metode Deduktif, yaitu metode analisis data bertolak dari pengertian yang bersifat umum, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
  • Metode Komparatif, yaitu metode yang untuk menetapkan kesimpulan yang telah ditetapkan terlebih dahulu dengan perbandingan terhadap fakta-fakta yang berbeda tentang suatu masalah.

G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penyususna skripsi ini adalah:
  1. Untuk memperjelas peranan akal terhadap iman oleh Hamka dalam kerangka analisis filsafat, agar akal yang dimiliki oleh umat manusia dapat dijadikan alat untuk memantapkan iman yang dimiliki.  Karena itu, penelitian ini bersifat pengembangan.
  2. Mencoba mengungkapkan hubungan yang terjadi diantara iman dan akal serta pengaruhnya terhadap diri manusia.

Dan adapun kegunaan dari penulisan karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:
  1. Secara teoritis, skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi dalam pengembangan agama, bangsa dan ilmu pengetahuan.
  2. Secara praktis, skripsi ini diharapkan dapat mengetahui pemikiran Hamka tentang peranan akal terhadap iman dan dapat dijadikan dasar dalam meningkatkan pengamalan terhadap ajaran Islam.

H. Garis-Garis Besar Isi Skripsi
Skripsi ini akan dibahas dalam lima bab, dengan menggunakan sisitematika sebagai berikut:
Bab I, merupakan bab pendahuluan yang sifatnya global yang memuat; latar belakang masalah, kemudian rumusan dan batasan masalah, hipotesis sebagai jawabab sementara, pengertian judul, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian, serta garis-garis besar isi skripsi.
Bab II, sebagai bab mengenai  Sekelumit Tentang Hamka yang mengemukakan tentang riwayat hidup, asal-usul, dan corak pemikiran hamka yang dilengkapi dengan karya-karyanya.
Bab III, sebagai bab mengenai Iman dan Akal dengan mengemukakan tentang pengertian akal  dan iman, Pandangan Mutakallimin tentang akal dan iman serta dasar-dasar tentang iman dan akal.
Bab IV, sebagai inti pembahasan skripsi ini, yang menguraikan pandangan Hamka Tentang akal dan iman, yang dibagi dalam tiga sub pembahasan; tentang pandangan Hamka tentang iman, latar belakang pemikirannya dan peranan akal terhadap iman.
BAB V, merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dari isi skripsi dan saran-saran sebagai rangkaian isi skripsi.
KOMPOSISI BAB
BAB    I           : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan dan Batasan Masalah
C. Hipotesis
D. Pengertian judul
E. Tinjauan Pustaka
F. Metode Penelitian
G. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
H. Garis-Garis Besar Isi Skripsi
BAB II : SEKELUMIT TENTANG HAMKA
A. Riwayat Hidup
B. Corak Pemikirannya
C. Karya-karyanya
BAB III            : AKAL DAN IMAN
A. Pengertian Akal dan Iman
B. Pandangan Mutakallimin tentang akal dan iman.
C. Dasar-Dasar Iman dan akal.
BAB IV           : PANDANGAN HAMKA TENTANG AKAL DAN IMAN
A. Pandangan Hamka tentang iman.
B. Latar belakang pemikirannya.
C. Peranan akal terhadap iman.
BAB V            : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA
  
BAB II
SEKELUMIT TENTANG HAMKA
A.Riwayat Hidup
Haji Abdul Malik adalah anak dari Haji Karim Amrullah lalu disingkat menjadi Hamka, beliau dilahirkan di Sungai Batang Maningau pada tanggal 17 Februari 1908 atau 14 Muharram 1325 H.[18] Di negeri Batang, yaitu suatu perkampungan kecil di tepi danau Maninjau Sumatra Barat.[19]
Adapun Ibunya bernama Safiah binti Baginda, sedangkan Ayahnya adalah Syekh Haji Abdul Karim Amrullah. Salah seorang ulama yang lebih dikenal dengan gelar Haji. Beliau adalah sosok pembawa pembaharuan Islam di Sumatra Barat.[20] Dari usia 6 (enam) tahun ia dibawah oleh Ayahnya ke Padang Panjang dan dimasukkan ke sekolah pada usia beliau berumur 7 tahun, dan malamnya Ia belajar mengaji di Surau bersama-sama teman sebayahnya. Itulah kegiatan Hamka kesehari-hariannya dalam usia bocahnya.[21]
Pada usia 17 tahun, Hamka pergi merantau ke Jawa pada Haji H.O.S. Cokroaminoto, R.M. Sorjoparanoto, Ki Bagus Hadikusumo dan Haji Fakhruddin di Yokyakarta pada Tahun 1924, dari Yokyakarta pidah ke Pekalongan, dan dari situ beliau kembali ke Padang Panjang Sumatra Barat pada tahun 1925, sekaligus turut mendirikan Tablig Muhammadiyah di rumah Ayahnya (Gutang Padang Panjang).[22]
Pada tahun 1927, beliau berangkat ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, dan setelah kembalinya beliau menetap di kampungnya untuk beberapa tahun dan giat dalam berorganisasi Muhammadiyah.[23] Dengan ilmu yang dimilikinya, beliau juga mendapat kepercayaan untuk memimpin majalah Islam yang dikenal dengan nama Pedoman Masyarakat.[24] Beliau terangkat sebagai pimpinan, setelah setahun di keluarkannya (di dirikannya) yakni mulai tahun 1956 sampai 1943, pada masa itu banyak terbitan karangan Hamka dalam lapangan Filsafat, Agama, Tasauf, dan Roman.[25]
Pada tahun 1928, Hamka hadir dalam kongres Muhammadiyah dan menjadi ketua Tablig sampai menjadi ketua Cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1920 diutusnya beliau oleh Muhammadiyah untuk menghadiri Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yokyakarta, tahun 1931 (akhir tahun) beliau diutus oleh pengurus Muhammadiyah untuk menjadi Muballigh Muhammadiyah ke-21 di Makassar pada tahun 1932.
Tahun 1947, beliau diangkat dan dipercayai ketua dari Sekretariat FPN (Front Pertahanan Nasional).[26] Dan pada tahun 1946, pindah ke Jawa, tahun 1950-1958 melawat ke berbagai negara di Timur Tengah dan juga mengunjungi Pakistan, Amerika, Belanda, Australia, Malaysia, Birma, Thailand, dan Singapura, beliau juga pernah menjadi anggota Majelis Konstituante dan tahun 1959 sebagai penerbit majalah Islam dan tahun 1964 ditangkap oleh pemeritah Suekarno, yang dalam tahanan beliau menulis Tafsir al-Qur’an.
Ketika Majelis Ulama pada Juni 1975, Hamka terpilih menjadi Ketua Umum yang pertama, dalam Musyawarah Nasional  Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhir Mei 1981, Ia terpilih kembali menjadi Ketua Umum, dan sampai pada akhir hayatnya, tetapi dalam kedudukan sebagai Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Tahun berjalan demi tahun, akhirnya Hamka menemui wafat, Jum’at 24 Juni 1981 bertepatan dengan 22 Ramadhan 1401 H. pada jam 10.41 WIB di rumah sakit Pertamina Jakarta dalam usia 73 tahun, dan di makamkan di Tanah Kusir Jakarta, beliau meninggalkan seorang isteri (isteri kedua) dan sepuluh anak, 22 orang cucu dan 8 orang menantunya.
Dengan demikian perjalanan hidupnya dapat di-pahami bahwa Hamka mempunyai banyak sumbangsi pemikiran yang tidak hanya dalam pengembangan ajaran Islam, tetapi beliau juga banyak berkiprah dalam panggung politik kenegaraan, beliau adalah sosok yang patut dibanggakan berkat berbagai pikiran-pikirannya.
B.Corak Pemikirannya
Hamka dalam corak pemikirannya tidaklah lepas dari perkembangan kondisi lingkungan yang mempengaruhi-nya. Kemudian pada dasarnya alur pemikiran Hamka tidaklah lahir dari benak beliau sendiri dalam artian terobosan, yang dilakukan bukanlah sesuatu yang mencapai titik kemurnian, akan tetapi pemikiran-pemikiran tersebut lebih banyak diwarisinya dari Haji Abdul Karim Amrullah yaitu sebagai Ayahnya sendiri. Sejak kecil Hamka mendengar perdebatan-perdebatan yang sengit antara kaum tua dan kaum muda tentang faham-faham agama dan kemudian dirinya oleh sifat-sifat Ayahnya yang otoriter sebagai ulama yang disegani pada saat itu, ditambah dengan kegiatan mengikuti berbagai kursus-kursus yang diadakan oleh gurunya.
Dengan adanya faktor-faktor yang tertanam dalam diri Hamka, maka akan mempengaruhi dalam dirinya untuk mengambil suatu pandangan tentang agama dan persoalan-persoalannya dalam memberikan fatwa yang tegas sesuai dengan agama Islam yang dinyatakan dalam syariat Islam. Dari dasar tersebut, alur pemikiran Hamka sebagian di-bentuk oleh lingkungannya. Bersamaan dengan itu, Hamka menyaksikan kegiatan Ayahnya dalam menyebarkan faham dan keyakinan pada masyarakat, sebab Ayahnya adalah seorang ulama kondang yang sangat terkenal. Beliau mempunyai kharismatik di dalam memimpin masyarakat dan statusnya sebagai guru agama, sangat diperhitungkan. Namun demiki-an, tidak menutup kemungkinan bahwa Hamka menerima dan mewarisi segala sesuatu dari Ayahnya termasuk corak pemikiran dan gagasan-gagasannya yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, beliau kenyang dengan banyak pen-didikan, di samping orang tuanya, sangat menggembleng dengan penuh disiplin dalam masalah pendidikan, motivasi itu, Hamka banyak mempelajari atau membaca berbagai buku-buku perpustakaan dengan berbagai disiplin ilmu seperti: ilmu-ilmu keislaman, cerita-cerita roman, sejarah dan lain-lain, dan pada akhirnya, imajinasinya dan pembentu-kan dasar pemikirannya sebagai seorang anak yang dapat tumbuh dengan cerdas.[27]
Demikian pemikiran Hamka akan terlihat dalam masalah akal dan wahyu. Menurutnya, akal sebagai senjata manusia untuk mengarungi kebenaran, semakin panjang perjalanan akalnya maka semakin tinggi dan banyak ilmu yang dipergunakan untuk melihat kebenaran segala sesuatu, namun Hamka memahami bahwa akal manusia memiliki batas tertentu, olehnya itu, akal memerlukan wahyu sebagai infoemasi kebenaran yang mutlak.[28] Selanjutnya wahyu menurutnya, sebagai suatu bisikan yang suci yang tidak ada keraguan bagi yang mendengarkannya bahwa bisikan tersebut adalah berasal dari Tuhan. Manusia diperintahkan menggunakan akalnya sampai batas tertentu dan apa yang didapatnya selama perjalannya adalah sesuatu yang telah dibawah oleh wahyu terdahulu sebagaimana apa yang telah dibawah oleh Nabi-Nabi Allah, demikian akal dan wahyu saling mengisi dan melengkapi serta memberikan sumbangsi pertimbangan kebenaran hidup karena Islam adalah agama dan ilmu.[29]
Pada dasarnya, pembentukan dasar pemikiran Hamka tidak hanya di dapatkan dalam lingkungan keluarganya dan perpustakaan, melainkan cakrawala pemikiran dan penga-lamannya banyak di peroleh dari aktivitasnya dalam organisasi-organisasi gerakan Islam, dari organisasi tersebut, telah banyak memberikan sumbangan pemikiran kepada Hamka. Dalam lembaga tersebut, dapat mengambil perbandingan antara pergerakan politik Islam, yaitu syariat Islam “Hindia Timur” dan gerakan sosial Muhammadiyah.
Hamka sebagai seorang yang tampil berani, maka dalam perkembangannya, menghadapi pembaharuan Islam di Jawa dan di tampilkannya syariat Islam dan Muhammadiyah yang lebih beriorentasi pada upaya menerangi keter-belakangan, kebodohan dan kemiskinan serta bahaya Keristenisasi yang mendapat sokongan dari luar Islam, syariat Islam tampil untuk menggalang kekuatan ekonomi masyarakat pribumi dengan jiwa semangat Islam dan Muhammadiyah, menyodorkan berbagai lembaga pendidikan formal dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, se-mangat Islam yang termanifestasi dalam gerakan-gerakan sosial dan politik serta agama di Yokyakarta, dari kesadaran inilah Hamka mengaktualisasikan dirinya sebagai ulama dalam perkembangan Islam.
C.Karya-karyanya
Hamka semasa hidupnya, banyak diwarnai oleh kesibukan dalam kegiatan yang dilakukannya, tidak hanya bertaraf lokal, regional, nasional, akan tetapi Hamka sering menjadi delegasi dalam dunia Internasional, juga dikenal sebagai seorang wartawan, pujangga, pengarang, juru dakwa dan sebagai ulama. Dari predikat tersebut, terlihat adanya kegiatan beliau dalam mengarang buku-buku dan artikel lainnya, baik buku-buku tersebut berbau sastra, budaya maupun permasalahan tasauf.
Hamka tidak kurang dari 113 judul buku yang telah dikarangnya dan masih ada yang belum diterbitkan menjadi buku dalam “Panji Masyarakat”, disebabkan penyimpanan arsip yang tidak teratur. Akan tetapi semua karangannya itu, tergolong populer.
Karya-karya beliau yang terkenal antara lain:
1. Tafsir al-Azhar 30 jilid
2. Tasauf Modern
3. Lembaga budi
4. Lembaga Hidup 
5. Pelajaran Agama Islam
7. Pribadi dan Martabat
8. Pandangan Hidup Muslim
9. Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya
10. Lembaga Ilmu.[30]
Dan masih banyak lagi buku-buku karangan beliau, serta ada beberapa novel yang terkenal dalam suatu karangannya, yaitu antara lain:
Tuan Direktur
Merantau ke Deli
Tenggelamnya Kapal Vander Wijck
Di Bawah Lindungan Ka’bah
Ayahku
Dari karangan-karangannya dapat di ketahui beliau adalah salah seorang yang sangat memperhatikan kehidupan spritual modernis. Hal inilah, dibuktikannya dengan banyaknya karangan yang bernafaskan keagamaan maupun buku-buku yang merupakan fiksi cerita dalam bentuk roman dan puisi. Dan juga ada karangan beliau yang terkenal seperti “Pidato M. Abduh di Indonesia”, dari sini maka jelaslah bahwa Hamka adalah seorang pemikir Islam dan berkat karya-karyanya seperti telah dikemukakan di atas, menggambarkan betapa luasnya ilmu yang dimilikinya, baik dalam bidang agama, filsafat, novel dan ilmu-ilmu lainnya.

 

 

[1] Lihat, Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam  Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), h. 70
[2] Departemen Agama RI, AL-Qura’an dan Tejemahannya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an , 1989), h. 65
[3] Yusuf Al-Qadrawi, Iman Relevansi dan Reformasi (Cet. I; Surabaya: Bina Ilmu, 1986), h. 10
[4] Departemen Agama RI, op.cit., h. 369
[5] Endang Sifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam (Bandung: Rajawali, 1986), h. 43
[6] Lihat, Hamka, Pelajaran Agama Islam (Cet.II; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 9
[7] Lihat Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (Cet.I; Jakarta: UI-Press, 1987), h. 89
[8] Lihat, Yunan Yusuf, Corak Pemikiran, op.cit., h.57-59
[9] Lihat, Ibid.
[10] Hamka, Tafsir Al-Azhar (tejemahan), Juz I (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), h. 126
[11] Yunan Yusuf, op.cit., h. 69
[12]Lihat, W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Ed. (Cet. IV; Jakarta: PT. Balai Pustaka, 1973), h. 735
[13]Lihat, Ibid., h.375.
[14]Ibid., h. 23
[15] Lihat, Winarno Surakhmad, Dasar dan Tehknik Research (Cet. XIV; Bandung: Tarsito, 1977), h. 12
[16] Ibid., h. 238
[17] Lihat, Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yokyakarta: Fak. Psikologi UGM., 1981), h. 15
[18]Lihat, H.M. Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 324
[19]Lihat, Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, Jilid I (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 7
[20]Lihat, Hamka, Tasauf Modern (Cet. II; Jakarta: Pustaka Panjimas, 1991), h.xvii
[21]lihat, Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989), h.34
[22]Lihat, Hamka, Pribadi dan Masyarakat (Cet. II; Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 2
[23]Lihat, H.M. Laily Mansur, loc.cit.
[24]Lihat, Hamka, Pribadi …, op.cit., h. 3
[25]Lihat, Hamka, Tasauf …, op.cit., h. 10
[26]Lihat, Yunan Yusuf, op.cit., h. 47
[27]lihat, Ibid., h. 76
[28] Lihat, Hamka, Falsafah Hidup (Cet. X; Jakarta: Umminda, 1981), h. 55-59
[29]Lihat, Hamka, Pelajaran Agama Islam (Cet. XI; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 199-202
[30]H.M. Laily Mansur, op.cit., h. 325



Kata Kunci :

hubungan iman dengan akal,peran akal aqidah

Related Posts to "Peranan Akal Terhadap Iman Menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Studi Analisis Filosof)"

Response on "Peranan Akal Terhadap Iman Menurut Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Studi Analisis Filosof)"

Muhammad Risalon Google+