Monday, 20 October 2014

Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Anak Di Sekolah

Artikel Bagus – Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi  Kesulitan Belajar Anak Di Sekolah
 
Skripsi pendidikan Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi  Kesulitan Belajar Anak Di Sekolah merupakan pembahasan kita kali ini. Mudah-mudahan sekilas tentang skipsi Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi  Kesulitan Belajar Anak Di Sekolah ada manfaatnya.
BAB  I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mengatasi keberhasilan seseorang anak dalam pendidikannya tidak lepas dari campur tangan orang tua sebagai pendidik utama dan guru sebagai pendidik pengganti orang tua di sekolah.
Anak dalam mengembangkan segala potensi yang dimilikinya membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, utamanya para pendidik yakni guru maupun orang tua, oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila sering kita jumpai di beberapa media massa membahas pentingnya kerja sama guru dan orang tua dalam membantu anak didik, untuk mengembangkan semua potensi yang ada semaksimal mungkin. Dengan kata lain dalam proses belajarnya dibutuhkan peranan orang tua maupun guru untuk membantu tercapainya pengembangan itu.
Perlu kita cermati bahwa anak dalam belajar sering sekali mendapatkan kesulitan. Sebenarnya kesulitan belajar itu tumbuhnya bukan semata-mata dari anak itu sendiri, tetapi lingkungan dimana anak itu berada besar juga pengaruhnya terhadap berhasil atau gagalnya seseorang.
Beberapa jauh hubungan antara anak dan keluarga akan dapat dilihat pada uraian berikutnya. Lingkungan di sini bukan hanya terbatas pada lingkungan, teman bermain, keluarga, tetapi lingkungan dalam arti luas, yakni semua keadaan di luar diri anak tersebut. Dalam tulisan ini akan lebih dititik beratkan pada kerja sama orang tua atau ayah, ibu, dalam usaha menanggulangi masalah kesulitan belajar pada anak. Karena pribadi-pribadi tersebut, besar pengaruhnya terhadap seluruh per-kembangan anak, baik dari segi fisik maupun dari segi fsikisnya.
Dalam mendididk anak tidak akan berhasil tanpa ada kerja sama yang baik antara ayah dan ibu (orang tua) yang mendidik di rumah dengan guru sebagai pengganti ayah, ibu di sekolah. Antara orang tua dan guru harus ada kerja sama yang tidak dapat dipisahkan, jangan sampai terjadi saling berebut kekuasaan antara orang tua dan guru dalam menangani anak sehingga dengan kata lain, orang tua, guru, dan anak didik merupakan tri tunggal yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Agar lebih jelas seberapa jauh hubungan tersebut, terlebih dahulu diuraikan tentang sebab-sebab kesulitan belajar pada anak didik, karena persolan inilah yang banyak meminta perhatian dari kedua belah pihak, sebab tanpa mengetahui penyebab serta apa arti kesulitan belajar, mungkin tidak akan mengerti tujuannya.
Tujuan belajar adalah, mengembangkan semua potensi yang ada pada anak didik seoptimal mungkin.  Karena kesulitan belajar, anak tidak dapat mengembangkan potensinya. Banyak sekali segi-segi yang menyebabkan anak mengalami hambatan-hambatan dalam mencapai keberhasilannya. Secara garis besarnya di bagi dalam dua bagian yaitu; (1) faktor endogen, yakni semua faktor yang berada pada diri anak tersebut; (2) Faktor Eksogen, yakni semua faktor yang berada diluar diri anak, misalnya orang tua dan guru dan semua hal di luar diri anak didik.
B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang penulisan ini, dirumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Apakah faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak di sekolah.
  2. Sejauh manakah atau bagaimanakah peranan orang tua dalam mengatasai kesulitan belajar pada anak didik.
Dalam uraian ini penulis secara singkat dapat menyimpulkan bahwa faktor penyebab kesulitan belajar anak itu dipengaruhi oleh beberpa faktor yang berada di dalam diri anak didik yang meliputi faktor inteligansi, perhatian, bakat, minat, emosi, kepribadian gangguan jiwa atau gangguan kepribadian lainnya, yang untuk lebih jelasnya akan di uraikan pada bab berikutnya.
Demikian hal peranan orang tua dalam mengatasi kesulitan belajar yang yang dihadapi oleh anak, maka tidak lepas dari peranan orang tua dan guru selaku pendidik dan juga merupakan salah satu penentu dari keberhasilan anak dalam meningkatkan prestasi belajarnya itu dapat kita simak pada uraian berikutnya.
C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan
Dari penulisan ini dapat di tetapkan tujuan bahwa sesungguhnya keberhasilan dari pendidikan seorang anak itu amatlah dipengaruhi oleh keberadan serta kemampuan pendidik untuk mengarahkan dan mendidik anak tersebut, sehingga dapat dipahami bahwa keberhasilan dalam meningkatkan prestasi anak itu merupakan suatu wujud kerja sama yang baik antara guru dan orang tua serta peserta-peserta didik yang ber-sangkutan.
Dari penulisan ini pula kita menekankan pentingnya seorang pendidik memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar pada anak itu selanjutnya dapat dijadikan acuan atau pedoman, bahwa kesulitan belajar anak itu adalah perlu ditanggulangi oleh guru maupun orang tua sebagai pendidik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar
Untuk dapat mencapai cita-cita tidak bisa bermalas-malas tetapi harus rajin dan gigih serta tekun belajar, karena belajar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pandai dalam segala hal, dalam bidang ilmu pengetahuan maupun keterampilan ataupun kecakapan. Seseorang yang baru lahir, ia harus belajar berbagai kecakapan terutama sekali berupa motorik dimana diketahui bahwa belajar itu dilaksanakan oleh setiap orang. Baik anak-anak remaja, orang dewasa maupun orang tua dan akan berlangsung seumur hidup selama hayat dikandung badan.
Definisi belajar yang dikemukakan oleh para sarjana antara lain;
1.   Witheringthon, dalam buku Educational Pscycology mengemukakan ;
Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan sikap, kebiasan, kepandaian, atau suatu pengertian.
2.   Morgan, dalam buku Introduction to psycology (1976) mengemuka-kan;
Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
3.    Gagne, Mengatakan bahwa;
Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulasi bersama dengan ini ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga per-buatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu sewaktu ia sesudah mengalami situasi tadi.
Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar yaitu ;
  1. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada juga kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
  2. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan yang disebabkan oleh perubahan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar seperti perubahan yang terjadi pada diri seseorang.
  3. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang, berapa lama periode itu sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya perupakn dengan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung sehari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun tahun. Ini berarti kita harus menyampingkan perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelemahan, aaadaptasi, ketaajaman, perhatian atau perhatian seseorang yang biasanya hanya berlangsung sementara.
  4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar, yang menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik pisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/ berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap.
Semua pendapat di atas, menunjukkan bahwa belajar adalah proses perubahan. Perubahan itu tidak hanya perubahan lahir, tetapi juga perubahan batin, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang nampak, tetapi juga perubahan negatif yaitu semakin jelek perilakunya, atau perubahan yang positif yaitu perubahan menuju ke arah kemajuan atau ke arah perbaikan.
Harus pula diperhatikan bahwa dalam belajar itu jiwa seseorang tidak pasif, tidak seperti gudang di mana barang-barang ditumpuk dan tidak pula seperti alat pemitret yang kerjanya mengambil hanya gambar.
Dalam proses belajar ada proses mental yang aktif pada tempat permulaan belajar, aktivitas itu masih belum teratur, banyak hasil-hasil yang belum terpisahkan dan masih banyak kesalahan yang diperbuat. Tetapi dengan adanya usaha dan latihan yang terus menerus, adanya kondisi belajar yang baik, adanya dorongan-dorongan yang membantu, maka kesalahan itu makin lama makin berkurang. Prosesnya makin teratur, keragu-raguan makin hilang dan timbul ketetapan .
Orang yang belajar, makin lama, makin dapat mengerti akan hubungan dan perbedaan bahan-bahan yang dipelajari dan setingkat dapat membuat sesuatu bentuk yang mula-mula belum ada.
Apabila orang yang telah belajar maju setingkat dari setingkat yang satu ke tingkat yang lain, ia dapat mempergunakan bahan-bahan ataupun pengetahuan yang telah dimiliki untuk diperoleh atau diperhatikan bahwa perbuatan merupakan suatu pertumbuhan. Jadi belajar bukanlah suatu proses yang menganalisis tetapi di sini seluruh kepribadian itu aktif.
Dalam masalah belajar ini, metode pengajarn akan banyak mempengaruhi cara belajarnya seseorang yang sedang belajar. Sebaliknya apa bila mata pelajaran yang diberikan tanpa tujuan dan murid diharuskan mengingat-ingat dan mendapatkan hal-hal yang tidak bertujuan, ini akan melelahkan semangat belajar. Sebaliknya, apa bila mata pelajaran diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai tujuan tertentu, dan murid mempunyai pengertian yang luas, maka semangat belajar murid akan datang dengan sendirinya.
B. Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan di Sekolah
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak di sekolah misalnya ;
1.   Faktor dari dalam diri manusia (faktor intern) yang meliputi ; bakat, minat, kemauan, kecerdasan dan fantasi
a.   Bakat
Bakat adalah pada dasarnya bersifat herediter yang artinya telah dibawa sejak lahir dan merupakan kecakapan khusus, misalnya seorang anak yang tidak berbakat dalam hal musik, walupun disodori berbagai macam alat musik kemudian dikursuskan dan sebagainya ke hal-hal yang menjurus ke musik tetap saja tidak bisa memainkannya. Lain halnya dengan anak yang memang berbakat dalam hal musik, apabila sedfikit demi sedikit di perkenalkan pada bidang musik, maka lama kelamaan akan menyenanginya, dan apa bila diikuti dengan ketekunan berlatih maka akan mencapai prestasi tinggi.
b.   Minat
Minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau obyek tertentu yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadannya (satisfiers). Demikian minat dapat menimbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimuli khusus sesuai dengan keadaan tersebut.
c.   Kemauan
Kemauan adalah kemauan itu pada kenyataannya sama dengan minat, tetapi pada kemauan kadang-kadang diukuti dengan usaha yang sungguh-sungguh, kalau individu itu mau, misalnya; seorang anak yang tidak bisa mengambil pelajaran matematika, dan anak terset tidak ada kemauan untuk belajar, maka anak tersebut tidak akan bisa  mempelajari matematika.
d.   Kecerdasan
Kecerdasan adalah yang merupakan penertian dari intelegensi dengan menurut witheringthon, mempunyai tiga ciri hakiki yang meliput; cepat, cekatan, tepat.
e. Fantasi
Fantasi adalah merupakan daya khayal yang dimiliki oleh seorang anak.
2. Faktor dari luar diri manusia (faktor ekstern) yang meliputi : faktor sosial dan non sosial.
a.   Faktor sosial
Faktor sosial adalah faktor manusia, baik manusianya itu ada (hadir) ataupun tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain pada waktu seseorang sedang belajar, banyak sekali sedang menggangu situasi belajar. Misalnya, suatu kelas sedang mengerjakan ujian, kemudian mendengar suara anak-anak ribut di samping kelas atau seseorang sedang belajar di kamar, kemudian ada satu dua orang yang hilir mudik keluar masuk kamar itu dan banyak lagi peneyebab-penyebab lainnya.
b.   Faktor non sosial
Dari segi faktor dari luar diri manusia yang meliputi faktor non sosial adalah kelompok faktor-faktor  ini bisa dikatakan juga tidak terbilang jumlahnya seperti keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu pagi, atau siang, malam, letaknya tempat, alat-alat yang di-pakai untuk belajar dengan pekataan lain alat-alat pelajaran.
BAB III
SEBAB-SEBAB KESULITAN BELAJAR ANAK DI SEKOLAH
A.  Sebab Kesulitan Belajar Karena Fisik
Yang menyebabkan kesulitan belajar, ada tiga golongan yaitu :
1.   Karena sakit
Seseorang akan mengalami kelemahan fisik sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah, akibatnya rangsangan yang diterima melalui indera lama, sarafnya akan bertambah lemah, sehingga ia dapat tertinggal jauh dalam pelajarannya.
2.   Karena Kurang Sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya lemah, hilang semangat, sehingga pikirannya terganggu, karena hal-hal ini maka penerimaan dan respon pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal, memproses, mengolah, menginterpretasi dan mengorganisir bahan pelajaran melalui inderanya .
3.   Karena Cacat
Cacat tubuh di bedakan atas dua bagian yaitu :
a.   Cacat tubuh yang ringan, seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotorik lainnya.
b.   Cacat tubuh yang tetap  (serius)  seperti buta, tuli hilang tangan  srta kaki dan lain-lain.
B.  Sebab-Sebab Kesulitan Belajar Karena  Rohani
Sebab-sebab kesulitan belajar, ada lima golongan yaitu :
1.   Intelegensi
Anak yang IQ-Nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Anak yang normal  (90-110) dapat menamatkan Sekolah Dasar tepat pada waktunya. Mereka yang memiliki IQ antara 110-140 dapat digolongkan anak yang cerdas dan memiliki IQ 140 keatas, tergolong genius, golongan ini mempunyai potensi untuk dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi, jadai semkin tingginya IQ-nya seseorang, akan makin cerdas pula. Sementara mereka yang mempunyai IQ dari 90 tergolong lemah mental.  Anak semcam inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar, mereka ini akan di golongkan  atas “ debil, Embisil, dan idiot golongan, debil, walupun umurnya lebih 25 tahun, kecerdasannya setingkat anak normal bberusia 12 tahun, golongan embisil hanya mampu mencapai tingkatan/kecakapan anak normal berusia 3 tahun. Anak yang tergolong lemah mental ini sangat terbatas kecakapannya, karen itu apabila mereka harus menyelesaikan persoalan yang melebihi potensinya, jelas mereka akan tidak mampu dan banyak mengalami kesulitan, oleh karena itu orang tua/pembimbing harus memiliki tingkat IQ anak dengan meminta bantuan seseorang psikologi agar dapat melayani anak/murid.
2. Bakat,
Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir, setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda.
3. Minat
Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran, akan menimbulkan kesulitan belajar yang tidak ada minatnya, mungkin tidak sesuai dengan bakatnya sesuai dengan kecakapannya, tidak sesuai dengan type-typenya khusus anak akan banyak menimbulkan problema pada diri anak, karena hal itu, pelajaran tidak dapat dicerna/diproses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan yang kesemuanya itu timbul karena tidak adanya minat pada anak tersebut.
4. Motivasi
Motivasi sebagai faktor batin berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya, akan semakin besar tingkat kesusksesan belajarnya. Seorang yang kuat motivasinya akan semakin giat berusaha dengan gigih, tidak mau menyerah, giat belajar untuk meningkatkan prestasi, atau untuk memecahkan masalah. Sebaliknya, seorang anak yang motovasinya lemah akan tampak avuh, akibatnya banyak mengalami kesulitan belajar.
5. Kesehatan Mental
Belajar tidak hanya menyangkut segi  intelek saja, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Hubungan kesehatan mental dan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik. Dengan belajar, akan selalu sukses dan meningkatkan rasa percaya diri (harga diri) seseorang. Bila rasa percaya diri itu, ia akan merupakan faktor penting bagi kesehatan mental. Setiap individu, di dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan dan dorongan seperti memperoleh penghargaan, mendapat kepercayaan, rasa aman, rasa kemesraan dan lain-lain.
Apabila kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat terpenuhi maka akan membawa kestabilan emosional dalam bentuk meladjusment. Melasjudment adalah sebagai manifestasi dari rasa emosional mental yang kurang sehiat dapat menimbulkan kesulitan dan kerugian dalam belajar, sebab anak yang sedih akan kacau pikirannya dan sulit untuk mencapai konsentrasi belajar.
C. Peranan Orang Tua dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Anak di Sekolah
Orang tua sebagai pembimbing di rumah juga memegang peranan penting dalam hal mengatasi kesulitan belajar anak di samping peran guru di sekolah. Karena tidak jarang adanya fenomena faktor kemalasan anak belajar, karena keberadannya guru (kemampuan dan keprofesional-nya) sebagai pendidik tidak maksimal. Oleh karena itu, guru dapat menjadi penyebab kesulitan belajar apabila guru tidak berkualifed, baik dalam pemilihan metode yang digunakan atas dalam mata pelajaran yang dipegangnya tidak sesuai, sehingga kurang menguasai. Lebih-lebih, kalau kurang persiapan sehingga cara menerangkan kurang jelas dan sukar dimengerti anak/murid-muridnya.
Hubungan orang tua atau guru dengan anak atau murid kurang baik, jika bermula dari sifat dan sikap guru/orang tua yang tidak di-senangi oleh anak/murid sendiri. Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar anak. Orang tua atau guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak didik.
Kemudian keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama, tetapi dapat juga sebagai faktor ini antara lain adalah :
1. Faktor Orang Tua
Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya, mungkin acuh tak acuh dan tidak memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya, maka akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya.
Orang tua yang bersifat kejam, otoriter akan menimbulkan mental yang tidak sehat. Hal ini akan berakibat anak tidak tenteram, tidak senang di rumah, ia pergi mencari sebayanya, hingga lupa belajar, yang sebenarnya orang tua mengharapkan anaknya pandai dan berhasil.Sifat hubungangan orang tua dengan anak sering dilupakan, sementara faktor ini terpenting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak.
Yang dimaksud hubungan adalah kasih sayang penuh perhatian/ pengertian dan kebencian atau sikap keras acuh tak acuh, memanjakan dan lain-lain. Kasih sayang orang tua dapat menimbulkan mental yang sehat bagi anak, begitu pula kurangnya kasih sayang, akan menimbul-kan emosional inssecurity, demikian juga sikap keras, kejam, acuh tak acuh yang dari orang tua dapat berupa :
a.    Apakah orang tua sering meluangkan waktunya untuk bersenda gurau dengan anak-anaknya
b.    Biasakah orang tua membicarakan kebutuhan keluarga dengan anak-anaknya, karena orang tua itulah yang merupakan contoh terdekat dari anak-anaknya, sehingga segala yang diperbuat orang tua, disadari atau tidak akan ditiru oleh anak-anaknya.
Olehnya itu, sikap orang tua yang tidak baik, misalnya bermalas-malasan dan semacamnya, hendaklah dihindari dan buang jauh-jauh. Demikian pula belajar merupakan bimbingan dari orang tua agar sikap dewasa dan tanggung jawab tumbuh pada diri anak, karena orang tua yang sangat sibuk tentunya anak lebih banyak tidak mendapatkan perhatian, pengawasan dan bimbingan orang tua sehingga anak kemungkinan akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar.
2. Suasana Rumah/Keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai atau gaduh tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik, anak akan selalu terganggu konsentrasinya sehingga sukar untuk belajar. Demikian juga suasana rumah yang selalu tegang, selalu banyak cekcok di antara keluarga dan selalu banyak ditimpa kesedihan. Antara ayah dan ibu selalu cekcok atau selalu membisu akan mewarnai suasana keluarga yang melahirkan anak-anak tidak sehat mentalnya. Anak tidak tahan di rumah, akhirnya, keluyuran di luar rumah teman-temannya, menghasbiskan waktu untuk hilir, mudik ke sana kemari, sehingga tidak mustahil kalau presatsi belajarnya menurun.
Untuk itu hendaknya suasana rumah selalu dibuat menyenangkan, aman, tenteram, damai dan haromis, agar anak betah tinggal di rumah, keadaan ini akan banyak ,mengungtungkan bagi kemajuan belajar anak.
Keadaan ekonomi keluarga, faktor biaya juga merupakan faktor yang sangat memerlukan biaya, maka keluarga miskin akan merasa berat untuk mengeluarkan biaya yang bermacam-macam, seperti; keperluan sekolah dan lain-lain, karena uang yang ada bukan untuk sekedar dipakai berpoya-poya, melainkan hanya sekedar dipakai untuk keperluan anak sehari-hari, lebih-lebih jika keluarga tersebut memiliki banyak anak, maka akan lebih sulit lagi.
Keluarga dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, tidak akan dapat menyediakan anak-anak mereka tempat belajar yang memadai, di mana tempat itu merupakan tempat untuk belajar yang efektif dan efisien. Keadaan ini sebaliknya dari keadaan yang lain, di mana keadaan/kemampuan ekonomi keluarga berlimpah ruah, mereka akan menjadi segan belajar karena terlarang banyak bersenang-senang, mungkin orang tua tidak tahan melihat anak-anaknya, belajar dengan susah payah, keadaan seperti ini pula akan dapat menghambat kemajuan belajar anak akibat kehidupan yang berlebih-lebihan.
BAB IV 
PENUTUP
 
A. Kesimpulan
Berdasar dari uraian-uraian terdahulu, maka dapat dirumuskan suatu kesimpulan bahwa; keberhasilan anak dalam meningkatkan prestasi belajar serta dalam menanggulangi kesulitan belajarnya, tidaklah terelepas dari peranan orang tua serta guru dalam proses pendidikannya
B. Saran-Saran
Dalam menghantarkan anak pada perkembangan yang optimal, maka jelasnya bahwa hubungan orang tua dan guru sangat erat. Orang tua tidak dapat menyalahkan anak didik bila terjadi kegagalan dalam diri anaknya, demikian pula sebaliknya guru tidak dapat menyalahkan orang tua dalam menangani anak didiknya.
Diharapkan kepada semua pihak untuk saling membantu dan mengadakan instropeksi terhadap kekurangannya masing-masing, agar terjadi saling komounikasi dalam menghantarkan anak ke arah yang menjadi tujuan dari semua pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Azhari, H. Akyas, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo, 1989.
Gunarsah, Singgih dan Ny. Singgi Hunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan remaja. Jakarta. BPK Gunung Mulia, 1983
Haditono, Siti Rahayu, Psikologi Perkembangan. Yogyakarta. Gajah Madah University Press, 1982.
Muzakkir, Ahmad dan Joko Sutrisno, Psikologi Pendidikan. Bandung. CV. Pustaka Setia 1997.
Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung Remaja Rosdakarya, 1992.
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Belajar; Kumpulan Naskah Penataran. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung, Remaja Rosdakarya, 1996.
____________. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta Gramedia, 1983.



Kata Kunci :

upaya orang tua dalam menghadapi kesulitan belajar bagi anak

Related Posts to "Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Anak Di Sekolah"

Response on "Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Anak Di Sekolah"

Muhammad Risalon Google+