Friday, 25 April 2014

Peranan Pemerintah Dalam Rangka Memberantas Bebas Buta Aksara Al-Qur’an Di Kabupaten Gowa

Skripsi PAI : Peranan Pemerintah Dalam Rangka Memberantas  Bebas Buta Aksara Al-Qur’an Di Kabupaten Gowa

Artikel bagus akan kembali menshare kepada pembaca setia artikel bagus tentang skripsi PAI dengan judul Peranan Pemerintah Dalam Rangka Memberantas  Bebas Buta Aksara Al-Qur’an Di Kabupaten Gowa, semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam yang kekal, berisi wahyu Allah Swt. yang diturunkan melalui Nabi Muhammad Saw, dengan perantaraan malaikat Jibril dan yang membacanya termasuk ibadah.[1] Dalam beberapa ayat, Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai al-kitab[2] (buku), al-dzikr[3] (peringatan), hudan[4] (petunjuk), al-syifa’[5] (obat penawar), al-furqan[6] (pembeda antara yang baik dari yang buruk), maw‘izhah (nasehat, wejangan, petuah).[7] Nama-nama dan atau atribut-atribut ini, secara eksplisit memberi indikasi bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang berdimensi banyak dan berwawasan luas. Di sinilah letak keotentikan, sekaligus keistimewaan al-Qur’an.

Kedudukan dan fungsi Al-Qur’an, adalah sebagai pedoman hidup bagi orang yang bertaqwa (هُدًى لِلْمُتَّقِينَ),[8] dan sebagai petunjuk atau bimbingan bagi umat manusia (هُدًى لِلنَّاسِ).[9] Oleh karena itu, jika nilai-nilai yang termaktub di dalam Al-Qur’an mampu di implementasikan dalam kehidupan, niscaya akan terbentuk kehidupan yang religius, damai dan sentosa.

Cara mengimplementasikan Al-Qur’an dalam kehidupan, adalah mengamal-kan segala isinya. Untuk tujuan itu, terlebih awal diperlukan proses pembelajaran terhadap Al-Qur’an. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa “mempelajari Al-Qur’an adalah kewajiban”.[10] Kaitannya dengan ini, maka salah satu usaha yang harus dilakukan dalam mempelajari Al-Qur’an, ia harus dibaca. Sebab, memang makna dasar Al-Qur’an adalah “bacaan”. Allah Swt berfirman dalam QS. al-Qiyamah (75): 18 bahwa, فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ (Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu).

Implementasi sekaligus aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan, tidak akan terwujud dengan sendirinya tanpa ada kesungguhan untuk mengusahakannya. Al-Qur’an tidak akan mampu memberikan manfaat secara konkrit tanpa ada usaha yang sistematis dan terorganisir dari umat Islam sendiri. Keyakinan inilah yang membawa umat Islam senantiasa berusaha untuk memasyarakatkan Al-Qur’an dengan berbagai cara dan upaya yang dilakukan. Cara dan upaya tersebut, antara lain adalah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pemda Kabupaten Gowa dengan menerapkan Perda Nomor 7 Tahun 2003.

Pemda Kabupaten Gowa merupakan salah satu daerah di Propinsi Sulawesi Selatan yang sangat peduli terhadap usaha-usaha untuk mendekatkan umat Islam dengan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang harus dipedomani. Memang dari aspek sejarahnya, Gowa adalah pusat pertama penyiaran Islam sekaligus sebagai pusat pertama tentang studi Al-Qur’an di Sulawesi Selatan.

Ahmad M. Sewang menyatakan bahwa, sejak Kerajaan Gowa menerima Islam pada tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H atau 20 September 1605 Masehi, maka ketika itu pula, I Mangarangi Daeng Manrabia, Raja Gowa ke-XIV mulai menggalakkan pembelajaran Al-Qur’an di wilayah kerajaannya.[11] Pembelajaran Al-Qur’an di Kerajaan Gowa lebih meningkat lagi ketika Islam menjadi agama resmi kerajaan tanggal 9 Nopember 1607 M, dan Raja Gowa ketika itu yakni Sultan Alauddin (Raja Gowa ke-XVI) menjadikan Sulawesi Selatan sebagai basis Islamisasi di Sulawesi Selatan.[12]

Sebagai basis Islamisasi ketika itu, maka Kerajaan Gowa dari sejak dahulu antusias mengupayakan pemberantasan aksara Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat. Upaya ini, justeru semakin mengalami keberhasilan oleh sebab di samping merupakan program pemerintah (kerajaan), juga didukung oleh para ulama setempat sampai pada akhirnya dalam sejarah dikatakan bahwa satu-satunya ulama besar sekaligus sebagai waliyullah yang mengadakan pengajaran Al-Qur’an secara intens di Gowa adalah Syekh Yusuf, Tuanta Salamaka (junjungan kita yang membawa keselamatan).

Muhammad Ilham dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengajaran Al-Qur’an dan sistem pengamalan ajaran Islam lainnya di Gowa diterima sebagai bahagian yang tidak terpisahkan dari unsur adat yang disebut Pangadakkan. Sejak itu pula segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan ajaran Islam, pengurusannya ditangani langsung oleh ulama, sedang birokrasinya berhubungan dengan pejabat-pejabat yang menangani urusan keagamaan yang disebut Daeng ta Kalia.[13] Dari sini dipahami bahwa, ternyata telah terjalin hubungan kerja sama yang baik antara umara dan ulama di Gowa sejak dahulu kala, terutama dalam upaya mereka memasyaratkan pengajaran Al-Qur’an dan upaya pengamalan ajaran Islam.

Apa yang telah diupayakan oleh umara dan ulama Gowa pada masa lalu, kelihatannya masih terwariskan sampai saat ini. Hal tersebut bukan saja sebatas wacana, tetapi telah menjadi sebuah kenyataan dengan adanya gerakan Pemda Gowa yang dimotori oleh Bupati Gowa sebelumnya, yakni Syahrul Yasin Limpo, SH dengan menerbitkan surat edaran Bupati No. 356/012/Dinas P dan K tahun 2000 tentang peningkatan minat baca Al-Qur’an yang terlaksana selama 2 (dua) tahun. Tekad yang kuat tersebut diwujudkan dalam Perda Nomor 7 tahun 2003 sebagaimana yang disebutkan tadi. Isinya, adalah tentang Bebas Buta Aksara bagi Siswa SD di Wilayah Kabupaten Gowa.

Penerapan Perda Nomor 7 tahun 2003, di samping merupakam kewajiban konstitusional, juga merupakan kewajiban kultural untuk mengembangkan syiar Islam dalam kehidupan masyarakat. Secara konstitusional, Perda tersebut merupakan perwujudan dari tujuan Pendidikan Nasional yang bermaksud untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Hal ini juga relevan dengan tujuan pendidikan Islam di Indonesia sebagai sub sistem pendidikan nasional berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang bercita-cita untuk terwujudnya dan ber-kembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yan beriman dan betakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demoktratis serta bertanggung jawab.[14] Cita-cita tersebut, masih sejalan dengan Undang-undang No. 2 tahun 1989 yang bertujuan untuk terwujudnya insan Islami atau muslim paripurna yang mencerminkan ciri-ciri kualitas manusia seutuhnya.

Kemudian secara kultural, Perda Nomor 7 Tahun 2003, tersebut sesungguhnya didorong oleh suatu keinginan yang sangat luhur, yakni bermaksud meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal baca tulis Al-Qur’an. Sebab, kebiasaan membaca Al-Qur’an akan melahirkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Kecintaan terhadap Al-Qur’an akan melahirkan motivasi untuk meng-aktualisasikan ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, kemampuan baca Al-Qur’an bagi setiap murid SD, SLTP, dan SLTA merupakan bagian dari pendidikan Agama Islam yang memiliki arti strategis untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya dalam rangka menanamkan nilai-nilai iman dan taqwa bagi generasi muda dan masyarakat pada umumnya.

Implikasi konkrit dari penerapan Perda Nomor 7 tahun 2003 yang telah disebutkan adalah setiap tamatan SD dan atau SLTP di Kabupaten Gowa yang akan melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan berikutnya, jika tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan atau tidak memiliki sertifikat/ijazah pandai baca Al-Qur’an, maka yang bersagkutan tidak atau belum dapat diterima pada jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam hal ini, setiap tammatan SD tidak diperkenankan melanjutkan pendidikan di SLTP bila belum memiliki sertifikat/ijazah pandai baca Al-Qur’an.

Implikasi lain dari penerapan Perda tersebut, tentu sangat memungkinkan terwujudnya pemberlakuan otonomi daerah di Kabupaten Gowa di bidang pendidikan. Sebab, dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tetang Pemerintahan Daerah, yang diberlakukan mulai tahun 2001, salah satu item terpenting adalah pemerintah daerah tingkat II atau kabupaten diserahkan sepenuhnya (secara otoda) dalam mengelolah sistem pendidikan. Dengan begitu, praktis Pemda Gowa akan lebih mandiri dan lebih leluasa dalam menerapkan Perda Nomor 7 tahun 2003, yang sasarannya adalah untuk memajukan pendidikan Islam dengan cara menekan secara dini buta aksara Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat. Dari sinilah, dipahami bahwa Pemda Gowa memiliki peranan signifikan dalam rangka memberantas bebas buta Aksara Al-Qur’an.

Pemda Gowa dengan peranannya dalam penerapan Perda Nomor 7 tahun 2003, tentu saja mendapatkan respon positif di tengah-tengah masyarakat. Sebagian masyarakat merespon penerapan Perda tersebut dengan cara lebih mengintenfsikan pembelajaran baca Al-Qur’an bagi anak-anak mereka dengan melaksanakan pendidikan informal baca Al-Qur’an di lingkungan rumahtangganya. Sebagian lagi, masyarakat merespon penerapan Perda tersebut dengan cara memasukkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan non-formal, misalnya TPA, atau dengan cara memasukkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan formal di TKA/TPQ. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak mereka setelah tamat di SD, atau SLTP telah terbebas dari buta aksara Al-Qur’an.

Di samping bentuk respon positif bagi masyarakat tehadap penerapan Perda No. 7 tahun 2003 yang telah disebutkan, mungkin juga akan ditemukan bentuk resfon negatif dari sebagian masyarakat terhadapnya, terutama bila yang bersangkutan belum berhasil mengupayakan secara maksimal pemberantasan buta aksara bagi anak-anak mereka, dan akibatnya berdampak buruk sebab anak-anak mereka kelak tidak berhak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Berkenaan dengan uraian-uraian yang telah dikemukakan, maka sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut tentang bagaimana peranan Pemda Gowa dalam memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an, dan bagaimana respon masyarakat terhadap penerapan Perda No. 7 tahun 2003 di Kabupaten Gowa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil pemaparan latar belakang sebelumnya, maka berbagai persoalan yang muncul apabila kajian dilakukan dengan mengambil obyek penelitian tentang peranan Pemda Gowa dalam memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an. Persoalan-persoalan yang dimaksud, dapat diidentifikasi per-masalahannya dalam bentuk pertanyaan misalnya ; apa yang melatarbelakangi Pemda Gowa melahirkan Perda No. 7 tahun 2003 tentang pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an, apa batasan definisi pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an yang terkandung dalam Perda No. 7 tahun 2003, bagaimana isi dan atau pokok-pokok pikiran penting yang ter-kandung dalam Perda No. 7 tahun 2003, bagaimana aspek kemanfaatan yang dapat diperoleh oleh Pemda Gowa dan masyarakatnya dalam upaya memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an, bagaimana konsekuensi logis atas penerapan Perda No. 7 tahun 2003 di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Gowa ?

Dari rumusan identifikasi masalah di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah, bagaimana peranan Pemda Gowa dalam rangka memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an sebagaimana yang termuat dalam Perda No. 7 tahun 2003 ?

Sejalan dengan pokok masalah yang telah ditetapkan, maka terdapat tiga batasan masalah menjadi obyek penelitian, sebagai berikut :

  1. Bagaimana analisis terhadap Perda No. 7 tahun 2003 tentang pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an ? 

  2. Bagaimana peranan pemerintah dalam memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an di Kabupaten Gowa ?

  3. Bagaimana respon masyarakat terhadap gerakan pembelajaran Al-Qur’an di Kabupeten Gowa ?

Pokok masalah dan tiga rincian batasan masalah yang telah ditetapkan tersebut, sejalan dengan esensi ajaran Islam yang menekankan pentingnya pembelajaran Al-Qur’an. Di samping itu tentunya, juga sejalan dengan eksistensi Pemda Gowa dalam upayanya meningkatkan kesadaran beragama di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.

C. Pengertian Judul dan Definisi Operasional

Untuk memperoleh pemahaman yang jelas tentang fokus kajian dalam penelitian yang dilakukan, serta untuk menghindari kesalahpahaman (mis undertanding) terhadap operasional penelitiannya, maka terdapat beberapa variabel penting dalam judul penelitian ini yang perlu diperjelas dan dirumuskan definisi ruang lingkup operasionalnya, sebagai berikut :

1. Peranan Pemerintah

Istilah peranan mengandung arti bagian penting dan yang dimainkan oleh seseorang secara individu atau secara berkelompok (masyarakat), atau lembaga, atau organisasi dalam melakukan usaha.[15] Dengan demikian, peranan dalam penelitian ini adalah bagian penting yang dilakukan oleh lembaga pemerintah, yakni Pemda tingkat II Kabupaten Gowa.

Pemerintah yaitu pemimpin sekaligus pengendali dan penguasa suatu daerah atau wilayah dengan batas-batas tertentu.[16] Dalam terminologi Arab, pemerintah biasa disebut ra’in (راع) yang arti dasarnya adalah “pengembala”, dan secara istilahi diartikan sebagai khadimul ummah (pelayan umat).[17] Dalam konteks kenegaraan, pemerintah biasa juga disebut “umara”.[18] Jadi yang dimaksud pemerintah dalam penelitian ini, adalah pemimpin, atau penguasa daerah tingkat II Kabupaten Gowa yang top leader-nya disebut bupati dalam mengendalikan pemerintahan dengan tugasnya pokoknya sebagai pelayan masyarakat.

2. Aksara Al-Qur’an

Aksara adalah lambang huruf bacaan yang tersusun dalam sebuah kata dan kalimat.[19] Kemudian yang dimaksud Al-Qur’an adalah secara etimologis adalah “bacaan”, dan secara terminologis adalah kumpulan wahyu Allah Swt yang tersusun dalam mushaf berisi petunjuk Ilahiah yang dijadikan sebagai pedoman hidup (way of life) bagi umat Islam.[20]

Dalam mushaf Al-Qur’an ditemukan aksara-aksara berupa huruf-huruf yang membentuk kata dan kalimat yang difirmankan Allah swt. Huruf-huruf tersebut memiliki tata cara tersendiri dalam membacanya yang disebut “ilmu tajwid”. Karena itulah, aksara Al-Qur’an yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lambang-lambang huruf Arab yang terdapat dalam mushaf Al-Qur’an, dan memiliki kaidah tersendiri dalam penyebutan pembacannya berdasarkan ilmu tajwid. Misalnya, bacaan huruf mim sukun, mim musyaddah-idgam mim, ikhfa safawi, izhar safawi,  bacaan huruf ba dengan idgam mutqaribaini, mutajanisain, mutamatsilaini, dan seterusnya.

3. Perda No. 7 Tahun 2003

Perda adalah peraturan daerah Kabupaten Gowa, dan dengan “Nomor 7 Tahun 2003″ adalah berisi konsideran yang ditetapkan oleh Bupati Gowa pada tahun 2003 untuk diberlakukan di Kabupaten tersebut yang berisi tentang pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an. Perda tersebut, juga telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupeten Gowa untuk segera diterapkan di tengah-tengah masyarakat.[21]

Dengan merujuk pada batasan-batasan pengertian pada variabel yang dianggap penting dalam judul penelitian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa definisi operasional penelitian ini adalah, menelusuri sejauh mana upaya penting yang dilakukan oleh Pemda Gowa dalam mengentaskan buta aksara Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat berdasarkan isi konsideran Perda No. 7 tahun 2003. Dan oleh karena pengentasan buta aksara Al-Qur’an harus dilakukan secara dini, maka penerapan Perda tersebut menitikberatkan pada penelitian upaya Pemda Gowa dalam mensukseskan gerakan pandai baca Al-Qur’an bagi anak usia dini dalam kategori usia tingkat sekolah dasar. Untuk tujuan tersebut, maka dalam penelitian juga, akan ditelusuri bagaimana respon atau tanggapan masyarakat terhadap Perda No. 7 tahun 2003 tentang bebas buta aksara Al-Qur’an bagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Gowa.

D. Tujuan dan Kegunaan

Dari segi tujuannya, penelitian ini bermaksud untuk :

Menganalisis secara cermat isi dan kisi-kisi konsideran Perda No. 7 tahun 2003 tentang pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an. Untuk tujuan tersebut, maka dalam penelitian ini akan dikemukakan pasal demi pasal   Perda No. 7 tahun 2003, disertai tafsiran-tafsiran yang dikemukakan pejabat Pemda Gowa dan masyarakat Kabupaten Gowa.

Menelusuri peranan Pemerintah dalam memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an di Kabupaten Gowa. Untuk tujuan tersebut, maka penelitian ini memaparkan berbagai upaya penting dan usaha lainnya yang dilakukan Pemda Gowa dalam memasyaratkan gerakan pembelajaran Al-Qur’an.

Mendeskripsikan berbagai tanggapan atau respon masyarakat terhadap gerakan pembelajaran Al-Qur’an di Kabupaten Gowa. Untuk tujuan tersebut, maka penelitian ini akan mengungkap tingkat kepedulian masyarakat Gowa terhadap pembelajaran Al-Qur’an, dan sejauh mana partisipasi mereka dalam menerapkan Perda No. 7 tahun 2003 bagi siswa sekolah dasar.

Sejalan dengan tujuan di atas, maka diharapkan agar hasil akhir yang akan dicapai dalam penelitian ini, sedapat mungkin memiliki kegunaan ilmiah dan kegunaan praktis, yakni :

  1. Untuk kegunaan ilmiah, diharapkan agar tesis ini menjadi rujukan ilmiah dalam upaya memahami secara mendalam urgensi penerapan Perda No. 7 tahun 2003 yang tentunya sangat berguna bagi pejabat Kabupaten Gowa dalam rangka memajukan daerahnya dalam bidang ilmu pengetahuan agama, khususnya pendalaman tentang pengetahuan baca Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat.

  2. Untuk kegunaan praktis, diharapkan agar tesis ini menjadi motifasi bagi masyarakat dalam rangka untuk ikut berpartisipasi bersama-sama Pemda Gowa dalam memasyaratkan gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Sehingga pada akhirnya, bila masyarakat terutama pelajar tingkat sekolah dasar telah pandai baca Al-Qur’an tentu saja akan berguna untuk kepentingan agama yang konsekuensinya adalah bermuara pada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hubungan Dengan Penelitian Sebelumnya

Dari berbagai literatur kepustakaan berupa hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, ditemukan beberapa karya ilmiah yang memiliki korelasi dengan apa yang penulis lakukan. Walaupun demikian, hasil penelitian sebelumnya itu, tidak memiliki kesamaan judul dan obyek pembahasan tesis ini. Untuk lebih jelasnya, berikut ini disebutkan beberapa hasil penelitian yang dimaksud sebagai berikut :

1.  Membumikan Al-Qur’an di Bulukumba; Analisis Respon Masyarakat terhadap Perda N0. 6 Tahun 2003 tentang Pandai Baca Al-Qur’an bagi Siswa dan Calon Pengantin di Bulukumba, karya H. Usman Jasad dkk.

Penelitian tersebut merupakan hasil kejasama antara Pemda Bulukumba dengan Tim Peneliti yang terdiri dari dosen-dosen Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, tahun 2005. Hasil penelitiannya adalah, bahwa masyarakat Bulukumba sangat setuju dengan kehadiran Perda No. 6 tahun 2003, meskipun masih ada kelompok masyarakat menginginkan supaya Perda ini diberlakukan kepada semua lapisan masyarakat, bukan saja bagi siswa dan calon pengantin. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan juga informasi bahwa bentuk-bentuk partisipasi Bulukumba dalam penerapan Perda baca tulis Al-Qur’an adalah menanamkan budaya baca Al-Qur’an baik di sekolah maupun di rumah, mengadakan dan membantu pelaksanaan TK/TPA Al-Qur’an.[22]

Berdasaekan hasil penelitian yang disebutkan di atas maka dipahami bahwa Pemda Bulukumba setelah menerapkan Perda No. 6 tahun 2003, telah membawa perubahan yang sangat besar dalam membentuk kehidupan sosial keagamaan masyarakat daerah Bulukumba. Di sinilah letak hubungan hasil penelitian tersebut dengan penelitian penulis nantinya, akan dilihat apakah dengan Perda No. 7 Tahun 2003 yang diterapkan Pemda Gowa, juga akan membawa perubahan pada hal-hal yang lebih positif bagi masyarakat Kabupaten Gowa. Di sisi lain, juga akan dilihat sejauh mana peranan Pemda Gowa dan benarkah masyarakat Gowa benar-benar berpartisipasi dalam menerapkan Perda tersebut, dan bagaimana bentuk-bentuk partisipasi mereka dalam rangka memasyaratkan gerakan buta aksara Al-Qur’an melalui pendidikan formal, informal, dan nonformal.

2. Islam dan Perubahan Sosial di Gowa Abad XVII, karya Muhammad Ilham yang merupakan Tesis Magisternya dalam rangka penyelesaian studi S2 di UNM Makassar, tahun 2005.

Dalam tesis Muhammad Ilham tersebut, disinggung bagaimana peranan Kerajaan Gowa pada abad XVII dalam menjadikan daerahnya sebagai basis Islamisasi, dan di masa tersebut diketahui bahwa antara lain perannya adalah adalah menggalakkan baca tulis Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat yang dipelopori oleh umara (kerajaan) dan ulama ketika itu.[23] Di sinilah letak hubungan penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis lakukan, apakah peranan Kerajaan Gowa di masa lalu memiliki kaitan dan kesamaan peranan Pemda Gowa Sekarang dalam menggalakkan baca Al-Qur’an. Yang jelasnya bahwa apa yang dilakukan Kerajaan Gowa masa lalu tidak dalam bentuk Perda sebagaimana yang dilakukan oleh Pemda Gowa sekarang. Di sisi lain, dimasa lalu umara dan ulama sama-sama menggalakkan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, dan dalam penelitian ini tetap akan menelusuri bagaimana peranan Pemda (umara) dan ulama Kabupaten Gowa di masa sekarang. Di samping itu, penelitian yang penulis lakukan adalah bukan saja melihat peranan Pemda dan ulama tetapi juga melihat bagaimana peranan masyarakat dalam berpartisipasi dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Sehingga, dipahami bahwa penelitian yang penulis lakukan lebih luas cakupannya ketimbang penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

3.  Islamisasi Kerajaan Gowa, karya Ahmad M. Sewang yang merupakan disertasi doktornya dalam menyelesaikan Program S3 di IAIN Syahid Hidayatullah Jakarta, tahun 2000.

Ahmad M. Sewang dalam penelitiannya menyatakan bahwa sejak masuknya Islam di Gowa pada abad XIV, telah digalakkan pembelajaran Al-Qur’an. Hal ini ditanda dengan dengan adanya pembacaan (tadarrus) Al-Qur’an di setiap malam Jumat dan pembacaan Barazanji di Istana Kerajaan.[24] Namun dalam disertasi tersebut tidak dijelaskan bagaimana respon masyarakat Gowa tentang pembelajaran Al-Qur’an, dan dalam penelitian penulis ini akan ditemukan sejauhmana respon masyarakat Gowa tersebut di era sekarang dalam menggalakkan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an bagi siswa sekolah dasar. Berdasarkan hal inilah, maka penelitian Ahmad M. Sewang tetap memiliki hubungan dengan penelitian yang penulis lakukan.

Dapatlah dipahami bahwa ketiga hasil penelitian yang telah disebutkan di atas, memiliki aspek kerelevansian dengan penelitian yang penulis lakukan dengan judul Peranan Pemerintah dalam rangka Memberantas Bebas Buta Aksara Al-Qur’an di Kabupaten Gowa. Di sisi lain, ketiga hasil penelitan tadi banyak memberikan ilustrasi untuk merekonstruksi pemikiran yang dapat membantu penulis dalam menganalisis respon masyarakat terhadap Perda No. 7 tahun 2003 tentang bebas buta aksara Al-Qur’an bagi siswa pada sekolah dasar di Kabupaten Gowa. Dalam pada itu, ketiga hasil penelitian sebelumnya sangat membantu penulis dalam merumuskan landasan teori, dan penelitiannya lebih lanjut di lapangan yang berlokasi di Kabupaten Gowa.

B. Landasan Teori

1. Pengertian Al-Qur’an dan Fungsinya dalam Kehidupan

Para ulama berbeda pendapat mengenai asal kata dan makna kata al-Qur’ān. Al-Farrā, misalnya mengatakan bahwa kata Al-Qur’an (القـرآن) berasal dari kata qarana (bentuk kata kerja lampau), dan qarinah (kata benda tunggal) dan qara’in (jamaknya). Dinamakan demikian karena antara satu ayat dengan ayat yang lain terdapat hubungan yang erat. Dengan demikian, jelaslah bahwa nun yang terdapat pada kata al-Qur’an bukan nun tambahan, tetapi nun asli dari kata qarina itu. Sedangkan al-Zajjaj misalnya, menyatakan bahwa kata al-Qur’an yang setimbang dengan kata fu’lan adalah berasal dari kata qara’a.[25] Pendapat al-Zajjaj ini, disepakati oleh kebanyakan ulama, terutama mufassir.

Kata qara’a mempunyai arti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dhammu), serta qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih.[26] Al-Qur’an pada mulanya seperti qira’ah, yaitu mashdar (infinitif) dari kata qara’a, qira’atan, qur’anan dijelaskan dalam QS. al-Qiyāmah (75): 17-18

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ(17)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ(18)

Terjemahnya :

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai mem-bacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[27]

Kata قُرْءَانَه dalam ayat tersebut berarti qira’atahu (bacaannya/cara mem-bacanya). Jadi, kata itu adalah mashdar menurut wazan (tashrif atau konjugasi) “fu’lan” dengan vokal “u” seperti “gufran” dan “syukran”. Sehingga, dipahami bahwa Al-Qur’an adalah bacaan bagi umat Islam, dan sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa, Al-Qur’an adalah bacaan yang terdiri dari beberapa aksara tersusun dalam mushaf, yakni mushaf Ustmani yang dijadikan pedoman bagi umat Islam.

Mengengai pengertian Al-Qur’an secara terminologi, ditemukan pula banyak pendapat. Di antaranya adalah ;

a. Pengertian Al-Qur’an menurut al-Asfahani ;

و خص القرآن بالكتاب المنـزل على محمد صلى الله عليه وسلم فصار له كالعلم كما أن التوراة لما أنزل على موسى والإنجيل على عيس. [28]

Artinya :

Dan adalah Al-Qur’an secara khusus didefinisikan sebagai kitab (Allah) yang ditrunkan kepada Nabi Muhammad saw, dan menjadikannya sebagai sumber pengetahuan, sebagaimana kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa.

b. Pengertian Al-Qur’an menurut Mannā’ al-Qathtān ;

القرآن الكريم هو معجزة الإسلام الخالدة التي لا يزيدها التقدم العلمي إلا رسوخا فى الإعجاز، أنزله الله على رسولنا صلى الله عليه وسلم ليخرج الناس من الظلمات إلى النور ويهديهم إلى الصراط المستقيم… [29]

Artinya :

Al-Qur’an al-Karim adalah mukjizat islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah, Nabi Muhammad saw untuk mengeluarkan manusia dari suasana gelap menuju yang terang, serta membimbing, mereka ke jalan yang lurus …

c. Pengertian Al-Qur’an menurut al-Shabuni ;

Dia (al-Qur’an) adalah Kalam Allah yang bernilai mu’jizat, yang diturunkan kepada para nabi dan rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril as. Ia tertulis pada ‘mashahif’, diriwayatkan kepada kita dengan mutawātir, membacanya terhitung ibadah, diawali dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat al-Nas.[30]

d. Pengertian Al-Qur’an dalam Ensiklopedi Al-Qur’an ;

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang menjadi mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan lafaz dan maknanya dari dengan perantaraan malaikat Jibril as yang tertulis dalam mushaf yang disampaikan secara mutawatir, dimulai dengan Surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas.[31]

Dari keempat versi pengertian Al-Qur’an yang sempat penulis kutip tersebut, terlihat bahwa kesemuanya memiliki banyak persamaan. Bahkan, dua definisi yang disebutkan terakhir (nomor 3 dan 4), kelihatannya sangat identik. Karena itu, kesemua pengertian Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas dapat diperpegangi. Dalam sisi lain, yang terpenting untuk disoroti di sini adalah definisi (pengertian) Al-Qur’an pada point kesatu tersebut yang secara tekstual hampir saja mempersamakan Al-Qur’an tersebut dengan Taurat dan Injil. Dalam pandangan penulis bahwa dalam satu segi Al-Qur’an, Taurat, dan Injil adalah memang (ketiganya) bersumber dari Allah swt. Namun, Taurat khusus bagi kaum Yahudi dan Injil adalah khusus bagi kaum Nashrani. Sedangkan Al-Qur’an adalah diperuntukkan untuk umat Muslim dan semua umat manusia. Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak diperuntukkan untuk kaum tertentu, tetapi untuk semua manusia dan makhluk di alam ini. Hal ini sejalan dengan missi kenabian Muhammad saw, yakni rahmatan lil alamin.

Nabi Muhammad saw adalah Rasul Allah yang terakhir, sebagai penutup dari serangkaian rasul-rasul yang telah diutus oleh Allah sepanjang sejarah kehidupan manusia/bangsa di muka bumi ini. Beliau membawa agama yang bersifat universal dan eternal. Jika rasul-rasul sebelumnya diutus oleh Allah untuk mendakwakan ajaran agama kepada lingkungan budaya bangsanya masing-masing, maka Nabi saw sebagai rasul terakhir mendakwakan ajaran agama yang dibawanya kepada lingkungan bangsa-bangsa di dunia dan berlaku sampai akhir zaman.[32] Agama yang dibawa oleh Nabi saw dengan pedomannya Al-Qur’an yang selanjutnya disebut dengan “kitab suci” yang bersifat final, universal dan eternal.

Apalagi untuk sekarang ini, keterpeliharaan Al-Qur’an tersebut tidak dapat dipersamakan dengan kitab Taurat dan kitab Injil. Kitab Taurat sudah habis “masa berlakunya”, sementara kitab Injil dipertanyakan “keasliannya”.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibatasi bahwa Al-Qur’an kalam Allah yang mengandung kemukjizatan dan diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, sebagai pedoman hidup bagi umat Islam secara khusus dan pedoman umat manusia secara umum. Dengan batasan seperti ini, maka Al-Qur’an bukanlah kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya. Pada sisi lain, keotentikan Al-Qur’an tidak sama dengan Taurat dan Injil, atau kitab-kitab lainnya.

Karena itu, fungsi Al-Qur’an adalah sebagai pedoman hidup dan sumber hukum umat manusia pada umumnya dan Agama Islam pada khususnya yang merupakan dinullah[33] (agama milik Allah),  dinul qayyim[34] (agama tepat) dan dinulhaq[35] (agama benar). Dengan Al-Qur’an ini, memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa berada dalam jalan yang benar dan senantiasa menghindari serta menjauhi jalan-jalan yang salah, sehingga ajaran Al-Qur’an jika diamalkan akan menjamin kebahagiaan hidup bagi umat Islam baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ajaran-ajaran yang menjamin kehidupan umat Islam itu terdapat dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sebagai pedoman dalam menjalankan agama serta kehidupan umat manusia.

Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam per-soalan akidah, syariah, dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil dan global mengenai berbegai masalah yang terkait dengan persoalan akidah, syariah, dan akhlak tersebut. Di sisi lain, Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pedoman hidup, bila susuanan aksaranya dibaca dengan baik dan benar, akan ditemukan pemahaman yang akurat tentang dimensi-dimensi ajaran Islam, dan selanjutkan harus diamalkan kandungannya. Berkenaan dengan itulah maka yang terpenting dilakukan adalah setiap umat Islam, termasuk pada pemerintah daerah berusaha semaksimal mungkin untuk menggalakkan pembelajaran Al-Qur’an dalam artian mereka harus membebaskan umat Islam dari buta aksara Al-Qur’an.

2. Kemukjizatan dan Keterpeliharaan Penulisan Aksara Al-Qur’an

Mukjizat para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad saw pada umum-nya bersifat hissi (material-inderawi), temporal dan lokal. Misalnya, Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api;[36] tongkat Nabi Musa  yang dapat berubah menjadi ular dan menelan semua ular-ular buatan (sihir) dari tukang-tukang sihir Fir’aun;[37] tongkat Nabi Musa juga dapat membela lautan luas.[38] Nabi Dawud yang mampu melunakkan logam;[39] kepandaian Nabi Sulaiman menundukkan berbagai jenis makhluk termasuk jin dan ia juga menundukkan angin;[40] keahlian Nabi ‘Isa meciptakan burung dari tanah, juga menyembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra.[41] Keberadaan mukjizat-mukjizat para nabi dan rasul Allah swt, seperti yang dikemukakan ini bersifat fisik inderawi, berlaku temporal, sehingga tidak bisa lagi disaksikan oleh generasi kemudian. Hal ini disebabkan karena keluarbiasaan tersebut hanya dipersiapkan untuk menghadapi tantangan zamannya sendiri secara lokal.

Berbeda dengan Al-Qur’an yang merupakan kitab suci terakhir yang dibawa oleh nabi dan rasul terakhir Muhammad saw untuk agama yang terakhir pula, maka ia sejak semula dipersiapkan untuk menghadapi segala macam kelompok masyarakat di semua ruang dan waktu hingga akhir kiamat. Untuk itu, Al-Qur’an baik secara keseluruhan maupun sebahagian mengandung pada dirinya kemukjizatan sekaligus keistimewaan.

Al-Qur’an sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, berarti kitab suci ini mengandung “keluarbiasaan” dalam segala aspeknya. Namun demikian, maksud kemukjizatan Al-Qur’an bukan semata-mata untuk “keluarbiasaan” melemahkan manusia dalam segala-galanya, akan tetapi maksud i’jāz al-Qur’ān adalah untuk menjelaskan kebenaran Al-Qur’an dan rasul (nabi Muhammad saw) yang membawanya.

Di zaman Nabi saw orang-orang Arab sangat terkenal sebagai ahli-ahli sastra, khususnya dalam bidang syair. Keahlian dalam bidang sastra menjadi salah satu tolok ukur kecendekiawanan seseorang sekaligus status sosialnya yang tinggi di masyarakat. Kegemaran terhadap syair-syair setiap tahun di pasar Ukazh (semacam Pekan Raya). Puisi atau syair yang keluar sebagai juara diberi kehormatan untuk digantung di Ka’bah (mu’allaqat) sehingga penciptanya menjadi populer karena dibaca oleh setiap orang yang berziarah ke Baitullah ini.

Dengan turunnya Al-Qur’an keahlian para penyair dan penggubah dari orang-orang Arab pada waktu itu terpatahkan. Orang-orang Arab khususnya kafir Quraisy mencemohkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan menyebutkan sebagai asathir al-awwalin (dongen-dongen dari orang-orang terdahulu) atau ifku muftara (ke-bohongan yang diada-adakan oleh Muhammad) yang dibuat berdasarkan bantuan orang lain, sebagaimana yang tersirat dalam QS. al-Furqān (25): 4-5 ;

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ ءَاخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا(4)وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا(5)

Terjemahnya :

Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah ke-bohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.”[42]

Al-Qur’an kemudian menjawab ejekan dan cemohan orang-orang kafir, bahkan Al-Qur’an menantang mereka untuk membuat semisal Al-Qur’an. Tantangan tersebut, datang secara bertahap. Pada tahap pertama, tantangan Al-Qur’an datang dalam bentuk uslub umum dan khitabnya ditujukan kepada manusia, bahkan termasuk seluruh jin, untuk membuat semacam Al-Qur’an jika mereka mampu. Namun dalam kurun waktu yang sama Al-Qur’an pun menegaskan bahwa mereka pasti tidak akan mampu menjawab tantangan itu meskipun seluruh jin dan manusia bersatu untuk melakukannya. Hal ini dijelaskan dalam QS. al-Isrā (17): 88, yakni ;

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا(88)

Terjemahnya :

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.[43]

Karena tantangan pada tahap pertama tidak akan mungkin dipenuhi, maka Al-Qur’an kemudian mendatangkan tantangan yang lebih ringan, yaitu membuat sepuluh surah saja seperti Al-Qur’an, sebagaimana dalam QS. Hud (11):13 yakni;

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(13)

Terjemahnya :

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.[44]

Tantangan yang lebih ringan ini juga tidak mampu dijawab oleh oleh orang-orang kafir Quraisy. Akhirnya Al-Qur’an menantang lagi dengan tantangan yang jauh lebih ringan daripada dua tantangan sebelumnya, yaitu membuat satu surah saja seperti Al-Qur’an, sebagaimana dalam  QS. al-Baqarah (2): 23 ;

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(23)

Terjemahnya :

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.[45]

Ternyata, tantangan terakhir di atas pun tidak mampu dijawab kaum kafir Quraisy oleh karena Al-Qur’an bukanlah ciptaan Muhammad atau makhluk, melainkan firman-firman Allah (Kalamullāh) yang merupakan bagian dari sifat-Nya yang Qadīm.

Berdasarkan dengan tahapan-tahapan tantangan Al-Qur’an yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan suatu kesimpulan bahwa i’jāz al-Qur’ān (kemukjizatan) tidak hanya terbatas pada satu surah tetapi juga mencakup ungkapan-ungakapan yang terdapat dalam ayat-ayatnya, bahkan terhadap aksara-aksaranya yang tetap terjamin. Allah swt berfirman dalam QS. al-hijr (15):19

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

Terjemahnya :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.[46]

Jaminan keterpeliharaan Al-Qur’an mencakup semua aspek, termasuk aksaranya yang telah tertulis sejak masa Nabi saw. Hal ini dipahami dari cara kitabah­­-nya (penulisan) aksara-aksaranya yang dilakukan oleh setiap sahabat dengan cara mencatatnya dalam bahan-bahan yang tersedia, lalu dikumpulkan catatan-catatan itu kemudian dibacanya. Allah swt berfirman QS. al-Qiyamah (75): 17

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ(17)

Terjemahnya :

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.[47]

Dari ayat di atas, Ibn Katsir menyatakan bahwa جمعه بمعنى حفظه فى الصدور و كتباته فى السطور [48] (jam‘ahu berarti menghapalnya dalam dada dan menulisnya dalam goresan-goresan). Lebih lanjut Shubhiy al-Shalih pun mengemukakan pendapat yang serupa bahwa kata jam‘ahu dalam ayat di atas, terdiri atas dua makna, yakni; (1) jam‘ahu bermakna hifazhuhu; dan (2) jam‘ahu bermakna kitabatuhu.[49] Jadi unit-unit wahyu yang diterima Nabi saw pada faktanya dipelihara dari kemusnahan dengan dua cara utama, yakni menyimpannya ke dalam dada manusia atau menghapalkannya; dan  merekamnya secara tertulis aksara-aksaranya di atas berbegai jenis bahan untuk menulis. Aksara-aksara tersebut, lalu dibaca sesuai susunan tulisannya. Manna’ al-Qaththan dalam hal ini menyatakan :

وحيثما قلب الإنسان نظره فى القرآن وجد أسرار من الإعجاز الحروف و اللغوي. يجد ذلك فى نظامه الصورتى البديع بجرس حرفه. حين يسمع حركاتها، وسكنها، ومدّاتها وغنّاتها، وفواصلها ومقاطعها، فلا تمل أذنه السماع، بل لا تفتأ تطلب منه المزيد[50]

Artinya :

Dan jika manusia memusatkan perhatiannya pada Al-Qur’an, ia tentu akan mendapatkan rahasia-rahasia kemukjizatan aspek aksara dan bahasanya tersebut. Ia dapatkan hal itu dalam keteraturan bunyinya yang indah melalui nada aksara-aksaranya ketika mendengar harakat dan sukun-nya, madd dan gunnah-nya, fashilah dan maqta’-nya, sehingga telinga tidak pernah merasa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.

Terkait dengan kutipan di atas, M. Quraish Shihab meanyatakan bahwa “jika anda mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, hal pertama yang terasa di telinga adalah nada dan lagamnya.”[51] Ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan-Nya, bukan syair atau puisi, namun terasa dan terdengar mempunyai keuinikan dalam irama dan ritme bahasanya. Hal ini disebabkan oleh huruf (aksara) dari kata-kata Al-Qur’an melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata-kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayat. Misalnya dalam QS. al-Nāzi’āt (79): 1-14

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا(1)وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا(2)وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا(3)

فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا(4) فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا(5)

Kemudian begitu pendengaran mulai terbiasa dengan nada dan langgam ini, Al-Qur’an mengubah nada dan langgamnya, sebagaimana ayat-ayat berikut :

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ(6)تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ(7)قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ(8)

أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ(9)يَقُولُونَ أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ(10)

Setelah itu, dilanjutkannya dengan mengubah nada dan langgamnya, yakni ; “كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً” kemudian “قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ(12)فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ(13)فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ(14)” demikian seterusnya sangat “enak” didengar dan atau dibaca hingga surah ini berakhir.

Penulisan aksara Al-Qur’an di masa Nabi saw adalah perekaman dalam bentuk tertulis unit-unit wahyu yang diterima Nabi saw. Adapun alat-alat tulis menulis yang tersedia ketika itu, cukup sederhana yang antara lain disebutkan Al-Qur’an adalah ; (1) raqq (رق)[52] yang mengacu pada sejenis kertas kulit atau perkamen yang terbuat dari kulit binatang; (2) qirthas (قرطاس)[53] yang ketika itu pengertiannya mengacu pada daun lontar dan pelepah kurma; (3) suhuf (صحف) atau sahifah (صحيفة) yang pengertiannya selembar bahan untuk menulis; dan (4) al-qalam (القلم)[54] yang pengertiannya identik dengan pena sebagai alat utama dalam tulis-menulis.[55]

Kesemua rujukan tentang bahan-bahan untuk tulis menulis aksara Al-Qur’an ini, sebagaimana dengan pengenalan tentang tulis menulis yang dikemukakan di atas, tidak mungkin muncul dalam ungkapan Al-Qur’an jika tidak dipahami masyarakat, khususnya sahabat yang menjadi sasaran wahyunya. Dengan kata kata lain, mustahil bila Al-Qur’an berbicara dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak dimengerti masyarakat Arab ketika itu, hal ini akan membuat pesan-pesan ketuhanan yang didakwahkannya tidak mencapai sasaran yang dikehendaki.

Fakta yang paling mendukung argumen di atas adalah adanya perintah Al-Qur’an untuk melakukan pencatatan secara baik dalam transaksi utang piutang yang juga disaksikan minimal dua orang.[56]  Terkait dengan itu, tentu saja Al-Qur’an tidak memerintahkan hal yang demikian jika memang benar-benar masyarakat tidak pandai menulis. Hanya saja, bahan-bahan yang digunakan untuk menulis ketika itu belum semodern sebagaimana yang ada sekarang.

Menurut riwayat, tulisan-tulisan Al-Qur’an yang ada di masa Nabi saw secara keseluruhan berjumlah sekitar 23 naskah, penulisnya adalah; Ibn Mas‘ud, Ubay bin Ka‘b, ‘Ali bin Abu Thalib, Ibn ‘Abbas, Abu Musa, Hafsah, Anas bin Malik, ‘Umar, Zayd bin Tsabit, Ibn al-Zubayr, ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Aisyah, Salim, Ummu Salamah, Ubay ibn ‘Umar, Abu Bakar, ‘Utsman, Mu‘az bin Jabal, Abu Darda’, Abu Ayyub Ansari, ‘Ubaydah, bin al-Samit, dan Tamim al-Dariy.[57]

Sepeninggal Nabi saw, maka di setiap wilayah terkenal qira’ah sahabat yang mengajarkan bacaan aksara Al-Qur’an kepada setiap penduduk di wilayah tersebut. Penduduk Syam memakai qira’ah Ubay bin Ka‘b, yang lainnya lagi memakai qira’ah Abu Musa al-Asy’ary. Maka tidak diragukan timbul perbedaan bentuk qira’ah di kalangan mereka, sehingga membawa kepada pertentangan dan perpecahan di antara mereka sendiri. Bahkan terjadi sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain, disebabkan perbedaan qira’ah tersebut.

Untuk mengantisipasi perbedaan-perbedaan dalam membaca Al-Qur’an, maka ditetapkan keseragamaan yakni menggunakan bacaan mushaf sebagaimana yang tersusun dalam mushaf Utsmani yang sampai sekarang dipedomani.[58] Dengan adanya mushaf Utsmani ini, maka umat Islam sejak itu dalam membaca aksara-aksara Al-Qur’an menjadi seragam, dan tidak ada lagi perbedaan dalam melafalkan bacaan-bacaan aksara-aksara Al-Qur’an di masa tersebut, yakni pada masa sahabat.

Ketika mushaf Al-Qur’an itu mau ditulis, ‘Utsman membentuk kepanitiaan. Pilihannya jatuh kepada Zayd bin Tsabit, ‘Abdullah bin Zubayr, Sai‘id bin ‘As dan ‘Abdurrahman bin Hisyam. Mereka dari suku Quraisy, golongan Muhajirin, kecuali Zayd bin Tsabit, ia golongan Anshar. Kepanitiaan ini berlangsung pada tahun 24 H. Sebelum memulai tugas ini, ‘Utsman berpesan kepada mereka :

إذا اختلفتم انتم وزيد بن ثابت فى شيئ، فكتبوه بلسان فريش، فإنه إنما نزل بلسانهم[59]

Artinya :

Jika kalian berselisih pendapat dalam qira’ah (bacaan Al-Qur’an) dengan Zayd bin Tsabit, maka hendaklah kalian menuliskannya dengan lughat Quraisy, karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.

Setelah memahami pesan di atas, bekerjalah tim dalam panitia ini dengan ekstra hati-hati, yang kemudian melahirkan keseragaman bacaan dalam satu mushaf. Mushaf ini digandakan dan dikirim ke daerah-daerah untuk disosialsikan kepada masyarakat demi meredam perbedaan bacaan di antara mereka, sedangkan mushaf yang lainnya dibakar. Dengan begitu, maka keotentikan bacaan aksara-aksara Al-Qur’an sampai kita tidak dapat diragukan lagi, dan ia bertahan untuk selama-lamanya, atau dengan kata lain berlaku sepanjang masa.

3. Sejarah Gerakan Bebas Buta Aksara Al-Qur’an

Para peneliti Al-Qur’an telah bersepakat bahwa ayat yang pertama turun adalah, perintah membaca “إقرأ”, yakni perintah membaca ayat-ayat Allah swt, yakni perintah membaca ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri sebagai ayat qur’aniyah, dan perintah membaca penomena alam sebagai ayat kauniyah.[60] Dengan adanya perintah membaca Al-Qur’an sebagai ayat pertama diturunkan, praktis bahwa perintah pembebasan buta aksara Al-Qur’an bersamaan dengan awalnya Al-Qur’an diturunkan.

Perintah membaca atau perintah agar umat Islam terbebas dari buta aksara Al-Qur’an, secara jelas dipahami dari QS. al-Alaq (95): 1-5, yakni :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

Terjemahnnya :

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[61]

Kata iqra’ atau perintah membaca dalam ayat di atas, terulang dua kali yakni pada ayat 1 dan 3 karena menurut penulis bahwa, perintah pertama penekanannya adalah pengenalan kepada Allah dengan cara harus membaca Al-Qur’an telebih dahulu. Dalam hal ini, mayarakat harus lebih dahulu terbebas dari buta aksara Al-Qur’an untuk mengenal Allah, dan berbagai ajaran-ajaranNya yang diturunkan melalui wahyu. Sedangkan pada perintah yang kedua menekankan bahwa sumber segala ilmu pengetahuan adalah Tuhan Yang Maha Tahu segalanya, sehingga implikasinya adalah sesuatu ilmu dipandang benar bersumber dari Al-Qur’an. Termasuk di dalamnya ilmu-ilmu tentang bagaimana cara membaca Al-Qur’an (ilmu tajwid) harus menjadi penekanan dalam rangka menggerakkan masyarakat dalam upaya pemberantasan bebas aksara Al-Qur’an.

Pemberantaraan bebas aksara baca Al-Qur’an sejak Al-Qur’an di masa Nabi saw, diketahui dari kedudukan Nabi saw sebagai sayyid al-huffaz dan Awwal al-qari al-Qur’an (tokoh utama penghafal dan ahli baca Al-Qur’an). Oleh karena itu, setiap ayat yang diturunkan kepadanya ia mengulangi bacaannya lalu dihapalnya dengan baik, kemudian menyampaikan cara bacaan tersebut kepada para sahabat dan mereka pun mengikuti bacaan Nabi saw menghapalnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw.[62] Manna‘ al-Qaththan dalam mengutip berbagai riwayat menyebutkan bahwa ahli baca Al-Qur’an (ahli qira’ah) yang terkenal di kalangan sahabat adalah ‘Abdullah bin Mas‘ud, Salim bin Mu‘qal (Mawla Abi Huzhayfah), Mu‘az bin Jabal, Ubay bin Ka‘b, Zay bin Tsabit, Abu Zaid bin al-Sakan, Abu Darda’.[63] Di samping posisinya sebagai qari’, mereka juga dianjurkan untuk mengajarkan bacaan-bacaan aksara Al-Qur’an kepada isteri-isteri dan anak-anak mereka di rumahnya masing-masing. Jadi upaya pengajaran bacaan Al-Qur’an telah dilakukan melalui pendidikan informal sejak masa Nabi saw dan para sahabatnya.

Kemudian pada masa tabiin, umat Islam semakin meluas tersebar di berbagai wilayah dan di antara mereka ada yang belum mampu membaca Al-Qur’an, sebab aksara-aksara Al-Qur’an ketika itu belum ada syakalnya. Hingga pada akhirnya tampillah Abu al-Aswad al-Du’ali memberikan syakal dan tanda-tanda baca aksara Al-Qur’an, agar dalam membaca aksara Al-Qur’an tidak terjadi kesalahan. Abu al-Aswad al-Du’ali, adalah seorang hakim di kota Bahsrah, Irak, pada masa Ali bin Abu Thalib. Beliau ahli qira’ah (min ahl al-qurra’) yang merasa sangat bertanggung jawab untuk menjaga keotentikan bacaan Al-Qur’an dari pengaruh lahn.[64] Oleh karena itu, dia merumuskan tanda-tanda bacaan tertentu untuk mempertahakan bacaan yang mutawatir sanadnya. Dalam hal ini bacaan al-Qur’an yang ditulis pada masa khalifah ‘Utsman.[65]

Pada mulanya Abu al-Aswad al-Du’ali merumuskan tanda-tanda bacaan yang sangat sederhana, yakni hanya berupa titik-titik. Titik di bagian atas sebuah huruf, titik dibagian bawah huruf, dan titik di bagian kiri atas sebuah huruf.[66] Titik yang dimaksudkan inilah yang dikemudian hari dikenal dengan istilah al-fathah, al-kasrah, dan al-dhammah.

Abu al-Aswad al-Du’ali sebagai orang pertama yang meletakkan dasar-dasar baca Al-Qur’an, dibantu oleh beberapa orang muridnya, yakni Nashr bin Asim, Yahya bin Ya’mar, Anbasah al-Fail, Maym­n al-Aqran. Mereka memberi harakat bagi huruf terakhir kata-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan memberi titik bagi huruf-huruf hijai’yah (abjad) yang harus memiliki titik (al-huruf al-mu’jamah) dalam mushaf (kitab al-Qur’an) agar dapat dibedakan dari huruf-huruf hija’iyah yang tidak memiliki titik (al-huruf al-muhmalah).[67]

Berdasarkan sejarahnya, peletakan dasar-dasar ilmu bacaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Abu al-Aswad al-Du’ali tersebut, terinspirasi dari hasil pertemuannya dengan ‘Ali bin Abu Thalib yang memerintahkan agar Abu al-Aswad al-Du’ali menyusun kaidah-kaidah ilmu tersebut. Ada tiga hal yang dianjurkan oleh ‘Ali bin Abu Thalib kepada Abu al-Aswad al-Du’ali, yakni kaidah-kaidah tentang ism zhahir, ism mudmar, dan ism mubham. Setelah kaidah-kaidah ini disusun, lalu Abu al-Aswad al-Du’ali menyusun kaidah-kaidah lain untuk menyempurnakan kaidah-kaidah tadi dengan tetap berkonsultasi. Hal ini dapat diketahui sebagaimana dituturkan bahwa :

ثم وضع أبو الأسود باب العطف والنعت عن القرآن ثم باب التعجب والاستفهام، با ب “أن” ما عدى لكن فلما عرضها على الإمام على أمره ايضم “لكن” إليها وضع باب من ابواب النحو عرضه على الإمام إلى ان حصل ما فيه الكفاية فقال: ماأحسن هذا النحو الذى قد نحوت[68]

Artinya :

Kemudian Abu al-Aswad membuat pembahasan-pembahasan mengenai athaf, na’at dalam Al-Qur’an, kemudian pembahasan mengenai ta’ajjub, istifham, sampai kepada pembahasan inna terkecuali lakinna. Setelah Abu al-Aswad memperhadapkan masalah itu kepada Ali, saya diperintahkan untuk memasukkan lakinna. Begitulah seterusnya saya lalu berkonsultasi dengan Ali, setiap menemukan hal-hal baru dalam naskah-naskah selanjut-nya sampai memperoleh kesempurnaan. Terakhir Ali memberi komentar, “alangkah bagusnya nahwu yang anda tulis”, dan itu hasil karya saya diberi nama nama nahwu.

Dari keterangan-keterangan di atas, harus diakui bahwa keotentikan tentang cara baca Al-Qur’an bermula sejak masa Nabi saw, dan khulafaurrasyidin, hingga di masa akhir periode Ali dengan tampilnya Abu al-Aswad al-Du’ali. Kemudian saat memasuki masa pemerintahan Bani Umayyah. Kesalahan dalam membaca huruf-huruf Al-Qur’an sudah dapat teratasi. Untuk menjaga keadaan tersebut maka para ulama menciptakan kaidah-kaidah ilmu nahwu (tatabahasa Arab). Tujuannya adalah tentu saja untuk melestarikan keotentikan bacaan-bacaan aksara Al-Qur’an.

Ulama dalam merumuskan kaidah-kaidah ilmu nahwu dan ilmu-ilmu lainnya tentang bacaan Al-Qur’an pada masa itu, berdasar pada alasan agama sebagai faktor pertama, yakni mereka berkeinginan kuat untuk menyampaikan nash-nash Al-Qur’an itu dengan baik dan benar agar terlepas dari kesalahan-kesalahan yang dapat menimbulkan salah paham terhadap bacaan-bacaan ayat-ayat al-Qur’an. Faktor kedua ialah nasionalisme Arab, di mana faktor ini berkait dengan keinginan orang-orang Arab untuk memperkuat kedudukan bahasa Arab di tengah-tengah pembaurannya dengan bahasa-bahasa lain yang non Arab dan adanya kekhawatiran akan kepunahan dan kehancuran bahasa Arab dalam bahasa-bahasa non Arab. Faktor ketiga, faktor sosiologis, berkaitan dengan keadaan masyarakat yang sudah sangat membutuhkan pemahaman bahasa al-Qur’an dan bahasa Arab baik dari segi i’rab (perubahan harakat huruf terakhir) dan tahsrif (perubahan bentuk kata).

Memasuki pemerintahan Bani Abbasiyah, gerakan bebas buta aksara Al-Qur’an mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh qira’ah di Kufah melalui Ja’far al-Ruwasi dan Mu’az al-Harra’. Al-Ruwasi belajar bacaan Al-Qur’an di Basrah dari Isa bin Umar dan Abu Amr al-Alai. Untuk pegangan murid-muridnya, bahkan al-Ruwasi menulis buku tentang tajwid dengan judul al-Faishal. Pengaruh ilmu tentang bacaan Al-Qur’an di Basrah dan Kufah telah sampai pula ke Bagdad. Hal ini ditandai oleh munculnya beberapa tokoh qira’ah di negeri Bagdad yang dilakukan melalui Madrasah Bagdadiyah. Selanjutnya ilmu baca Al-Qur’an berkembang di Andalusia, dan hal ini ditandai dengan munculnya berbagai tokoh ahli qira’ah seperti Jaudi bin Usman al-Maurani yang sebelumnya perna belajar pada al-Kasai dan al-Farra’.[69]

Di daerah-daerah Islam lainnya, juga digalakkan usaha dalam bidang pemberantasan aksara Al-Qur’an dengan jalan mengajarkan bacaan-bacaan Al-Qur’an di beberapa kota di negeri ini, seperti Fustat dan Iskandariah. Prinsip-prinsip pembelajaran itu diajarkan di tengah-tengah masyarakat supaya aksara Al-Qur’an dapat dibaca dengan baik dan benar. Hingga pada akhirnya, mushaf Al-Qur’an dicetak berdasarkan bacaan-bacaan yang mutawatir. Dijelaskan oleh Azyumardi Azra bahwa,

Sejak mesin cetak ditemukan pada abad ke-16 di Eropa, naskah Al-Qur’an sudah semakin mudah ditemukan. Al-Qur’an pertamakali dicetak di atas percetakan yang dapat dipindah-pindahkan pada tahun 1694 di Hamburgh Jerman. Naskah sepenuhnya dilengkapi dengan tanda-tanda baca. Percetakan Al-Qur’an atas prakarsa orang Islam dilakukan pada tahun 1787 di Petersburg, Rusia, lalu disusul di Karzan (1828), Persia (1833), dan Istambul (1877). Edisi cetakan paling lengkap dan dinilai paling standar ialah edisi Mesir yang dicetak pada tahun 1344 H/1925 M.[70]

Dengan tercetaknya Al-Qur’an, maka sampai saat ini lebih memudahkan lagi bagi umat Islam untuk menyelengarakan pendidikan Al-Qur’an, dan menyemarakkan pembelajaran bacaan aksara Al-Qur’an dengan berbagai strategi dan metodenya.

4. Metode dan Strategi Pengajaran Bacaan Aksara Al-Qur’an

Idealnya, pengajaran Al-Qur’an terutama dalam aspek bacaan aksara Al-Qur’an, memiliki metode dan strategi tertentu. Dalam buku Pedoman Pengajian Al-Qur’an yang diterbitkan Departemen Agama, menyebutkan empat metode yang digunakan oleh sebagian guru dalam mengajarkan aksara Al-Qur’an, yakni :

Metode tarkibiyah (metode sintetik), yakni metode pengajaran membaca dimulai dari mengenal huruf hijaiyyah. Kemudian diberi tanda baca/harakat, lalu disusun menjadi kalimat (kata), kemudian dirangkaian dalam suatu jumlah (kalimat).

Metode shautiyyah (metode bunyi), yakni dimulai dengan bunyi huruf aksara, bukan nama-nama huruf contoh : Aa-Ba-Ta dst. Dari bunyi ini disusun menjadi satu kata yang kemudian menjadi kata atau kalimat yang teratur.

Metode musyafahah (metode meniru), adalah meniru dari mulut ke mulut atau mengikuti bacaan seorang guru, sampai hafal. Setelah itu, baru diperkenalkan beberapa buah huruf beserta tanda baca/harakat dari kata-kata atau kalimat yang dibacanya itu.

Metode Jaami’ah (metode campuran), adalah metode yang menggabungkan metode-metode tersebut di atas (1,2,3) dengan jalan mengambil kebaikan-kebaikannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.[71]

Di samping itu, ditemukan pula berbagai metode lain dalam literatur yang berbeda, yang kesemuanya saling melengkapi. Metode-metode yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a.  Metode al-Barqi, adalah metode mengembangkan pengajaran baca tulis dalam berbagai bahasa dengan menggunakan pendekatan global yang bersifat struktural, analitis dan sistesis (SAS), yang dalam hal ini terbagi dua yaitu :

  • SAS murni, adalah penggunaan bahasa antara tulisan dengan bunyi tidak sama, seperti : one, two, three. Jadi SAS murni ini cocok dengan pelajaran bahasa Inggris.

  • Semi SA, adalah penggunaan struktur kata atau kalimat, yang tidak mengikutkan bunyi mati sukun atau kalimat, yang tidak mengikutkan bunyi mati atau sukun, umpamanya : jalasa, kataba, sehingga penyusunan bahasa Arab dan Indonesia lebih cocok menggunakan semi SAS.[72]

b.  Metode hattaiyyah, adalah cara belajar Al-Qur’an dengan pengenalan huruf, tanda baca, melalui huruf latin. Awal pengenalan huruf al-Qur’an dimulai dengan Lam, bukan Alif. Huruf Al-Qur’an yang sulit diajarkan, paling akhir diberikan, sebab agak susah persamaan lainnya.[73]

c.   Metode iqra’, adalah metode belajar Al-Qur’an dengan menggunakan sistem :

  • Cara belajar siswa aktif (CBSA), guru sebagai penyimak saja.

  • Privat, penyimakan secara seorang demi seorang

  • Asistensi, yakni setiap santri yang lebih tinggi pelajarannya diharapkan membantu menyimak santri lain.[74]

Metode terakhir yang disebutkan di atas (metode iqra’) pada umumnya digunakan di TPA/TPQ yang ada di Sulawesi Selatan. Kemudian dalam menyampaikan metode-metode pengajaran sebagaimana yang telah disebutkan memerlukan beberapa strategi, misalnya :

  • Persuasif, cara ini diusahakan anak belajar Al-Qur’an dengan keasadaran yang tinggi, sehingga mereka membaca Al-Qur’an merupakan suatu kebutuhan.

  • Sugestif, yakni anak didik diberikan dorongan dari sisi lain (bukan kesadaran) tetapi berupa hadiah atau penghargaan, rekreatif, dan dijaga agar dorongan berupa hadiah dan semacamnya tidak menjadi motivasi utama dalam belajar Al-Qur’an.

  • Campuran, yakni strategi persuasif dan sugestif dapat dipadukan dalam kondisi tertentu.[75]

Untuk kelengkapan strategi pengajaran baca Al-Qur’an, Syarifuddin Ondeng telah merumuskan beberapa strategi lain yang secara terstruktur terdiri atas empat, yakni seleksi bahan; gradasi; presentasi dan repetisi. Berikut ini dikemukakan satu persatu :

  • Selekasi bahan, yakni bahan yang akan diajarkan adalah 29 huruf hijaiyyah, tiga buah baris (harakat); tiga buah tanwin; tiga buah bentuk madd, tanda sukun dan tanda tasydid.

  • Gradasi, yakni bahan yang telah diseleksi untuk diajarkan, perlu diatur penyampainnya. Misalnya, huruf-huruf itu diajarkan bersama dengan barisnya. Dalam hal ini, fathah, kasrah, dhammah, kemudian diajarkan madd, kemudian tanwin. Mengenai sukun dan tanwin, perlu diberikan semenjak dini mengingat banyaknya frekuensinya.

  • Presentasi, yakni di dalam presentasi akan dilihat bahwa tiap bahan yang akan diajarkan dibagi kepada unsur bari, bahan utama dan bahan latuhan. Pengulangan bahan yang tidak diberikan tidak hanya terdapat di dalam bahan utama tetapi juga di dalam latihan.

  • Repetisi, yakni hendaknya bahan yang utama dipilih untuk diajarkan adalah frase bismi (بسم) dalam bismillah (بسم الله), karena frekuensi penggunannya yang amat banyak dalam kehidupa sehari-hari. Juga karena huruf-hurufnya terdapat di dalam bahasa Indonesia dan juga karena di sana hanya tedapat dua tanda baca yaitu; kasrah dan sukun.[76]

Di samping metode dan strategi pengajaran baca Al-Qur’an, ditemukan lagi petunjuk praktis atau kursus cepat membaca Al-Qur’an. Cara ini adalah metode dan strategi khusus untuk cepat dapat membaca al-Qur’an tingkat dasar. Dalam prakteknya, maka untuk dapat cepat membaca Al-Qur’an, harus lebih dahulu diketahui jumlah dan mengenal nama-nama huruf al-Qur’an yang jumlahnya 29 buah, yakni:

Penekanan terhadap pengenalan terhadap ke-29 huruf hijaiyyah ini, biasa juga disebut metode al-Banjari, yakni metode belajar Al-Qur’an dengan penekanan yang sangat mendasar terhadap huruf-huruf hijaiyyah.[77] Untuk tujuan itu, maka strategi pengajarannya untuk cepat dipahami oleh peserta didik, adalah diajarkan kepada mereka tentang bunyi suara atau bacaan aksara-aksara tersebut di atas, yang disamakan atau sesuaikan suara huruf latin (Indonesia), urutannya adalah sebagai mana tebal berikut :

Tabel Tentang Suara dan Bacaan Aksara-aksara AL-QUR’AN yang Diajarkan di TPA/TPQ

No.

Huruf

Nama-nya

Suara

Dibaca dengan

1

ا

Alif

-

Ikut baris

2

ب

Ba’

B

B = biasa

3

ت

Ta’

T

T = biasa

4

ث

Tsa’

Ts

S = tipis

5

ج

Jim

J

J = biasa

6

ح

Ha’

H

H = ringan

7

خ

Kha’

Kh

H = korek+tebal

8

د

Dal

D

D = biasa

9

ذ

Dzal

Dz

Z tipis

10

ر

Ra

R

R = biasa

11

ز

Zai

Z

Z = biasa

12

س

Sin

S

S = biasa

13

ش

Syn

Sy

S = desis

14

ص

Shad

Sh

S = tebal

15

ض

Dhad

Dh

D = tebal

16

ط

Tha

th

T = tebal

17

ظ

Zha’

Zh

Z = tebal

18

ع

‘Ain

Ikut baris

19

غ

Ghain

Gh

G = tebal

20

ف

Fa’

F

F = biasa

21

ق

Qaf

Q

K = tebal

22

ك

Kaf

K

K = biasa

23

ل

Lam

L

L = biasa

24

م

Mim

M

M = biasa

25

ن

Nun

N

N = biasa

26

و

Wau

W

W = biasa

27

هـ

Hha

Hh

H = berat

28

ء

Hamza

Ikut baris

29

ي

Ya’

y

Y = biasa



Keterangan :

  • Biasa      :   Menyebutkan sama seperti menyebutkan atau membaca huruf latinnya (bahasa Indonesia)

  • Tipis     :   Menyebutnya dengan tipis dari suara huruf latin (Indonesia) biasa. Ketika menyebutnya ujung lidah dirapatkan ke ujung gigit depan sebelah atas

  • Tebal    :   Menyebutnya dengan tebal dari suara huruf latin (Indonesia) biasa. Ketika menyebutnya lidah dirapatkan ke bawah. Suaranya seakan-akan “o”

  • Ringan  :   Menyebutnya dengan ringan berangin dari suara huruf katin biasa. Keluarnya dari kerongkongan dengan mulut agak terbuka (setengah menguap)

  • Berat     :   Menyebutnya dengan berat dari suara huruf latin (Indonesia) biasa, suara keluar dari dalam dada

  • Korek   :   Menyebutnya denganmengorek ke dalam kerongkongan seperti orang ingin mengeluarkan riak, atau orang tidur ngorok

  • Desis     :   Menyebutnya dengan berdesis seperti orang mengusir kucing atau ayam dengan kata “sy, syi”. Tengah lidah ditekankan ke atas langit-langit.

  • Ikut Baris   :   Artinya dia tidak mempunyai perasamaan suara dalam huruf latin. Dia bersuara bila telah dikasih baris dan suaranya menurut barisnya.

Jadi, suara dan bacaan aksara-aksara tesebut, memiliki tempat keluar dari empat sumber, yakni; bibir; ujunglidah; pangkal lidah; gigi+gusi; dan leher, sebagai mana digambarkan berikut :

Pada tiap-tiap huruf atau akrasa Al-Qur’an tersebut, terdapat tanda-tanda baris yang sangat menentukan hasil bacaan. Dengan begitu huruf-huruf yang dimaksud harus pengucapannya harus dalam bentuk praktek. Hal-hal yang perlu diketahui kemudian dipraktekkan pengucapan-nya adalah ;

a.     Baris Satu

1)     Bila terletak di atas huruf berbentuk garis biasa disebut baris atas, merupakan pengganti huruf bunyi “a”. contoh

اَ بَ تَ ثَ         : اَ ثَ رَ اَ بَ تَ جَ دَ

2)     Bila terletak di bawah huruf bernetuk garis biasa disebut “baris bawah”, merupakan pengganti bunyi “i”

اِ بِ تِ ثِ         : اِ بِ دِ اِ تِ رِ

3)     Bila terletak di atas huruf bernetuk koma disebut “baris depan” merp pengganti huruf bunyi “u” contoh :

اُ بُ تُ ثُ         : اُ رُ دُ بُ عُ ثُ

b.    Baris Dua (tanwin)

1)     Bila terletak di atas huruf berbentuk garis dua disebut “baris dua atas”, merupakan pengganti huruf bunyi a+n=an contoh :

اً بً بتً ثً        : اً بً أَثً اَبَداً

2)   Bila terletak di bawah huruf bernetuk garis dua disebut “baris dua di bawah”, merupakan pengganti huruf i+n= in contoh

اٍ بٍ تٍ ثٍ = اٍ بٍ خٍ طٍ بٍ

3)     Bila teletak di atas huruf berbentuk dua koma disebut “baris dua depan”, merupakan pengganti huruf bunyi u+n=un contoh :

اٌ بٌ تٌ ثٌ = اٌ تٌ مٌ بٌ عٌ

c.     Bunyi Huruf Aksara Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an, semua kata dan kalimat atau ayat-ayat terdiri dari huruf-huruf yang sudah bersatu bersambung satu sama lain. Untuk memudahkan membaca dan menulisnya, terlebih dahulu harus mengetahui beberapa macam bentuk sambungan tiap-tiap huruf itu dan bagaimana cara menyambungkannya. Huruf al-Qur’an memiliki tiga kelompok, yaitu :

1)     Kelompok yang lengkap mempunyai empat macam bentuk terdiri dari 22 huruf yaitu

ب ت ث ج ح خ س ش ص ض ط ظ ع

غ ف ق ك ل م ن هـ ى

2)   Kelompok yang hanya memounyai dua bentu yaitu bentuk tunggal dan hanya bersambung ke kanan dari belakang, hurufnya ada enam, yaitu : ا د ذ ر ز و

3) Kelompok yang hanya mempunyai satu bentuk tunggal dan bersambung ke kanan saja. Hurufnya hanya satu yaitu hamzah (ء)

d.  Tanda-tanda Baca Huruf

Tanda-tanda baca terdiri atas tiga, yakni :

1)      Tentang huruf harus dimatikan membacanya yaitu apabila di depannya ada huruf berbaris seperti ; تب  تب  تب

2)      Tentang harus digandakan bila membacanya, pertama kali mati dan kedua hidup menurut baris yang ada padanya. Contoh : bila berbaris satu رب dan bila berbaris dua ربا

3)      Tanda huruf dipanjangkan dengan tanda kecil di atas dan di bawah serta tanda koma balik di depan huruf. Contoh :

-       Di atas “ta” pada كتب

-       Di bawah “ha” pada ربه

-       Di depan “ha” pada خلقه

Apabila tanda panjang itu diberi tambahan tanda (~) di atasnya maka berarti membacanya lebih panjang lagi, contoh :

وأُوْلئِكَ        يَآأَيُّها النَّاس        اَلْحَاقَة

e.  Perubahan Suara

Perubahan suara terjadi karena :

1)    Nun mati (نْ)

2)    Baris dua (tanwin)

3)    Huruf yang sama (serupa)

4)    Huruf yang sama tempat keluarnya

5)    Huruf yang berdampingan tempat keluarnya

f.    Huruf-huruf Tertentu

Ketentuan-ketentuan lain yang tidak mengadakan perubahan suara, yaitu qalqala, min mati dam tasydid, nun mati dan tasydid, lam ta’rif, huruf ra, lafal jalalah.

g.  Hamzah

1)     Hamzah qat’iy harus dibaca jelas, contoh : إنما المؤمنون إخوة

2)     Hamzah wasl tidak terbaca jika didahului kata lain, contoh : باسم

h. Nun Kecil

Nun kecil adalah penjelmaan dari tanwin, menjadi suara min bila bertemu dengan salah satu huruf yang bertanda mati atau ada alif lam di depannya. Misalanya dalam ayat :

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ن الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

i.   Madd dan Waqf

Madd dan waqf ketentuan membaca al-Qur’an dengan harus me-manjangkan bacaan atau memendekkannya.

Dengan melakukan langkah-langkah seperti yang disebutkan diatas, diyakini anak (peserta) dapat pandai membaca al-Qur’an dengan secepat-cepatnya. Pelajaran keselurhannya dibagi 6 bahagian dengan tiap bahagian lama belajarnya sekitar satu jam atau lebih sedikit, tidak termasuk latihian-latihannya. Untuk itu, terserah kepada kebutuhan para pengajar. Bilamana sudah mahir pelajaran pertama, boleh meneruskan ke palajaran berikutnya.

Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, sangat diharapkan perahatian yang sungguh-sungguh dengan metode tersebut, meskipun dalam teorinya telah diperkirakan dalam beberapa jam sudah dapat membaca al-Qur’an, namun tidak dapat dipaksakan untuk keinginan itu secara mutlak dengan pelajaran tanpa isterahat. Sebaiknya, belajar tiap-tipa pelajaran satu demi satu atau jam demi jam. Umpama mulai hari pertama satu jam, selang dua hari yaitu hari keempat satu jam atau selang beberapa hari selang seminggu. Waktu-waktu selainnya di sela-sela itu untuk latihan. Maksudnya, setelah paham dan mengerti betul pelajaran pertama baru melangkah pelajaran yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Dalam mencoba latihan-latihan yang telah diberikan dianjurkan membaca sampai hafal, diharapkan supaya pandai menulis membuat sendiri yang lain. Dengan demikian tidak terikat kepada contoh-contoh, karena dalam al-Qur’an terdapat kata-kata lain yang boleh dicoba sendiri membaca atau membuatnya. Cara-cara dan strategi seperti inilah, sangat patut diimplementasikan dalam pengajaran baca Al-Qur’an, dan sebagian pengelola Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA), atau Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) telah mempraktekkan-nya, dan hasilnya pun cukup baik.

5. Eksistensi TPA/TPQ dalam Pembelajaran Bacaan Aksara Al-Qur’an

Dalam rangka memahami dan menguasai pembacaan aksara Al-Qur’an, maka di masa sekarang telah banyak didirikan TKA/TPQ, yakni lembaga atau wadah, tempat anak-anak menerima pelajaran baca tulis Al-Qur’an. Di sinilah anak-anak didik dan diajarkan bagaimana cara membaca aksara Al-Qur’an. Anak-anak yang sedang belajar di TKA/TPA diperkirakan memasuki usia 4-12 tahun. Sebab, dalam Undang-undang Sisdiknas Undang-undang Sisdiknas pasal 28 ayat 3, dikatakan bahwa pendidikan di TPA/TPQ adalah jenjang pendidikan non formal yang khusus diperuntukkan bagi anak usia dini. Kemudian pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.[78] Pada usia dini tersebut, orang tua mulai menyerahkan pendidikan anaknya ke sekolah TK dan atau kepada guru/ustadz di TKA/TPQ, sehingga guru menggantikan sebagian peranan orang tia dalam pendidikan anak dalam rangka pengajaran baca aksara Al-Qur’an.

Tujuan pendirian TPA/TPQ adalah sebagai wadah pembinaan mental dan moral bagi para santri sebagai cikal bakal generasi Islam yang mampu membaca al-Quran dan mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari.[79] Adapun tempat-tempat atau wadah yang biasa digunakan dan dijadikan TPA/TPQ adalah :

Pengajian di mesjid atau mushalla, biasanya dilaksanakan oleh panitia mesjid atau dibentuk tersendiri pengurus TPA tergabung dalam panitia mesjid.

  • Pengajian di gedung-gedung tertentu, yang dilaksanakan oleh organisasi kemasyarakatan.

  • Pengajian di rumah-rumah yang dilaksanakan oleh perorangan atas inisiatip sendiri.

  • Pengajian yang dilaksanakan pembina sekolah di sekolah atau madrasah.[80]

Eksistensi pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an bagi anak di TPA/TPQ, di samping sasarannya adalah pembacaan aksara-aksara Al-Qur’an, juga meng-hafalkan ayat-ayat atau surat-surat pendek. Dalam mencapai sasaran tersebut, maka pembinaan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif harus berjalan secara seimbang. Untuk hal-hal yang menyangkut aspek kognitif dan psikomotorik, barangkali sudah terpecahkan dengan adanya alat-alat dan sarana yang tersedia misalnya buku iqra’, dan hal ini lebih menonjol dalam pendidikan anak di TKA/TPQ. Tetapi hal-hal yang menyangkut aspek afektif, yakni pembinaan dan pengembangan sikap dan cita rasa beragama anak sering ditinggalkan.[81] Aspek pengembangan afektif ini, memang menjadi kendala sebab sebagaimana diketahui bahwa waktu belajar anak di TKA/TPQ hanya sekitar 60 s.d 75 menit. Di sisi lain, adanya keterbatasan personal tenaga pendidik sebab masih terjadi isu sentral di masyarakat bahwa pekerjaan guru ngaji ternyata kurang menjanjikan masa depan terutama dalam hal kesejahteraan hidupnya, sehingga wajar kalau pendidikan anak di TPA/TKA hanya ditangani oleh sukarelawan-sukarelawan (guru honor).

Terlepas dari kendala yang dikemukakan di atas, yang jelasnya bahwa TPA/TKA dengan eksistensinya diupayakan mencapai target operasionalnya, yaitu target jangka pendek dan jangka panjang. Target jangka pendek (1-2 tahun), yaitu anak dapat membaca aksara Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Target jangka panjang (3-4 tahun) anak (santri) telah lancar membaca aksara Al-Qur’an dalam struktur bahasa Al-Qur’an, dan mengkhatam-kan hafalan surah-surah pendek, serta mengamalkannya dalam praktek shalat.[82] Dari sinilah dipahami bahwa dalam perspektif pendidikan, keberadaan TPA/TPQ banyak berorientasi pada pembinaan dan pengembangan kognitif (bacaan Al-Qur’an dan hafalan surat-surat pendek), dan psikomotorik (cara/keterampilan) melafalkan hafalan surat-surat pendek tersebut dalam melaksanakan shalat. Praktis bahwa pembinaan dan pengembangan afektif atau sikap, jiwa dan cita rasa beragama belum banyak ditonjolkan.

Setiap orangtua muslim, pasti menginginkan anak-anak mereka secara dini mampu mengenal aksara Al-Qur’an dan melafalkan dengan baik dan benar. Karena eksistensi TPA/TKA sangat signifikan bagi setiap anak. Untuk kelangsungan eksistensi TPA/TPQ, dan dalam upaya keras dalam pemberantasan bebas aksara Al-Qur’an, maka dewasa ini hampir di setiap daerah telah berdiri TPA/TPQ. Keberadaan TPA/TPQ tersebut, perlu ditingkatkan dan pertahankan yang sudah ada, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Pada sisi lain, perlu dipikirkan persiapan pengadaan TPA/TPQ tingkat lanjut dalam rangka mewujudkan kesinambungan dan keterpaduan pembinaan aspek kognitif-psikomotorik keagamaan dan pembinaan sikap beragama dari para anak didik. Dalam hal ini, perlu adanya TPA/TPQ tingkat lanjut untuk jenjang SLTP dan SMU disamping TKA/TPA yang sudah ada yang hanya menangani anak-anak usia TK dan SD.

C. Kerangka Pikir

Kegiatan membaca Al-Qur’an bagi setiap Muslim adalah suatu keharusan. Itulah sebabnya, bukan secara kebetulan kalau ayat pertama dari al-Qur’an yang diturunkan adalah iqra’ atau perintah membaca. Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah, masih ditemukan sebagian umat Islam, terutama para pelajar yang belum pandai membaca al-Qur’an. Hal tersebut disebabkan mereka masih buta terhadap aksara-akasara Al-Qur’an. Karena itu, perlu diketahui bagaimana respon masyarakat terhadap upaya pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an.

Dewasa ini, upaya pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an, telah dilakukan oleh Pemda Gowa. Hal ini dipahami dengan adanya Perda No. 7 Tahun 2003.  Implikasi dari Perda tersebut, adalah setiap tammatan SD atau SLTP yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi harus, mampu membaca Al-Qur’an. Kemampuan mereka ditandai dengan adanya kepemilikan sertifikat atau ijazah pandai baca Al-Qur’an.

Dengan adanya Perda No. 7 Tahun 2003 yang ditetapan Pemda Gowa, tentu saja dapat diasumsikan bahwa pemerintah telah berperan dalam upaya pemberantasan bebas buta aksara Al-Qur’an. Namun peranannya yang demikian tidak begitu signifikan bilamana Perda tersebut, tidak mendapat respon positif dari masyarakat Gowa. Respon positif yang dimaksud antara lain dapat dilihat dengan adanya partisipasi mereka dalam menggalakkan pembelajaran baca Al-Qur’an secara informal di lingkungan rumah tangga, atau dengan cara memasukkan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan nonformal di TPA/TPQ, di samping tetap aktif dalam studi di lembaga pendidikan formal, misalnya di SD dan atau di SLTP.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana peranan Pemda Gowa dalam rangka memberantas bebas buta aksara Al-Qur’an sebagaimana yang termuat dalam Perda No. 7 tahun 2003, dan bagaimana respon masyarakat terhadap penerapan Perda tersebut bagi siswa pada tingkat SD, dapat dicermati dalam bagan kerangka pikir sebagai b

[1]Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (Bairut: Dar al-Mansyurat al-Hadits, 1973), h.21

[2]QS. al-Baqarah (2): 2

[3]QS. al-Hijr (15): 6

[4]QS. al-Baqarah (2): 185

[5]QS. Yunus (10): 57

[6]QS. al-Furqan (25): 1

[7]QS. Ali Imran (3): 138

[8]QS. al-Baqarah (2): 2

[9]QS. al-Baqarah (2): 185.

[10]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999), h. 33

[11]Ahmad M. Sewang, Islamisasi Kerajaan Gowa (Cet. II; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 121.

[12]Muhammad Ilham, Islam dan Perubahan Sosial di Gowa Abad XVII , “Tesis Magister” (Makassar: Program Pascasarjana UNM, 2001), h. 5.

[13]Ibid., h. 91.

[14]Repubik Indonesia, Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 (Bandung: Fokus Media, 2003), h. 7

[15]Departemen Pendidikan Nasional,  Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balain Pustaka, 2002), h. 854.

[16]Ibid., h. 821.

[17]Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lhugah (Cet. XIII; Bairut: Dar al-Masyriq, 1977), h. 89.

[18]Ibid.

[19]Departemen Pendidikan Nasional,  op. cit., h. 17

[20]Lebih lanjut tentang definisi Al-Qur’an secara komprehensif, dapat dilihat dalam penelitian ini pada “Bab Tinjauan Pustaka”.

[21]Konsideran Perda No. 7 tahun 2003 tersebut, menjadi bahan lampiran dalam penelitian ini, dan dapat dilihat analisisnya pada bab IV nanti.

[22]H. Usman Jasad, dkk, Membumikan Al-Qur’an di Bulukumba; Analisis Respon Masyarakat terhadap Perda N0. 6 Tahun 2003 tentang Pandai Baca Al-Qur’an bagi Siswa dan Calon Pengantin di Bulukumba (Cet. I; Makassar: Berkah Utami, 2005), h. 141-142.

[23]Lihat lebih lanjut dalam Muhammad Ilham, op. cit., h. 90-93.

[24]Ahmad M. Sewang, op. cit, h. 121-122.

[25]Definisi-definisi di atas, dikutip dari Tim Penyusun Yayasan Bimantara, Ensiklopedi Al-Qur’an (Cet. I; Jakarta: Yayasan Bimnatara, 1997), h. 333

[26]Manna’ al-Qaththan, op. cit., h. 20

[27]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1992), h. 999

[28]Al-Raghib al-Ashfahani, Mufradat Alfazh al-Qur’an (Cet. I; Damsyiq: Dar al-Qalam, 1992), h. 669

[29]Manna’ al-Qaththan, op. cit., h.  9

[30]Syekh Muhammad Ali al-Shabūni, al-Tibyān fī ‘Ulūm al-Qur’an dialihbahasakan oleh Muhammad Qadirun Nur dengan judul Ikhtisar Ulumul Qur’an (Cet. I; Jakarta, Pustaka Amani, 1988), h. 11

[31]Tim Penyusun Yayasan Bimantara, loc. cit.

[32]Lihat QS. al-Anbiya (21): 107 dan QS. Saba (34): 28

[33]Lihat QS. Ali Imran (3): 83

[34]Lihat QS. al-Taubah (9): 36.

[35]Lihat QS. al-Saf (61): 9

[36]QS. al-Anbiya’ (21): 69

[37]QS. al-Taubah (9): 107

[38]QS. al-Syu’ara’ (26): 63

[39]QS. Saba’ (34):10

[40] (21): 81,a,QS. al-Anbiy

[41]QS. Ali Imran (3): 40

[42]Departemen Agama RI, op. cit., h. 559

[43]Ibid., h. 437

[44]Ibid., h. 328

[45]Ibid., h. 12

[46]Ibid., h. 391.

[47]Departemen Agama RI, op. cit., h. 999.

[48]Abu al-Fida’ ‘Isma‘il bin Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘A§im, juz IV (Kairo: Maktabah al-Qiyamah, 1993), h. 434.

[49]Shubhi al-Shalih, Mabahits Fiy ‘Ulum al-Qur’an (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t.th), h. 65.

[50]Manna’ al-Qathtān, op. cit., h. 267

[51]M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Quran; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib (Cet. I; Bandung: Mizan, 1997), h. 118

[52]QS. al-Tur (52): 3

[53]QS. al-‘An‘am (6): 7, 91.

[54]QS. al-‘Alaq (96): 4;

[55]Uraian lebih lanjut mengenai sebagian pengertian kata-kata di atas, dapat dilihat dalam Manna‘ al-Qaththan, op. cit., h. 123.

[56]QS. al-Baqarah (2): 282-283.

[57]Dikutip dari Ahmad Von Donffer, Ulum al-Qur’an; An Introduction on the Science of the Quran diterjemahkan oleh Ahmad Nasir Budiman dengan judul, Ilmu al-Qur’an; Pengenalan Dasar (Cet.I; Jakarta: Rajawali, 1988), h. 44.

[58]Shubhi al-Shalih, op. cit., h. 65

[59]Jalal al-Din al-Suyuti, Al-Itqan Fiy ‘Ulum al-Qur’an, juz I (Cet. II; Makkah al-Mukarramah; Maktabah Nizar Musthafa al-Bazi al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Su‘udiyyah, 1998), h. 207.

[60]H. Abd. Muin Salim, Al-Qur’an dan Metodologi Tafsir (Ujungpandang: Yakis, 1986), h. 12.

[61]Departemen Agama RI, op. cit., h.  1079

[62]Shubhi al-Shalih, op. cit., h. 65

[63]Manna’ al-Qaththan, op. cit., h. 119

[64]Lahn adalah kesahalan mengucapkan kata karena menyebutka huruf-huruf Arab dalam kalimat berdasarkan lafal dialek suku tertentu. Lebih lanjut tentang lahn tersebut, lihat Zamzam Afandi Abdillah, “Ilmu Nahwu; Perinsip dan Upaya Pembaruannya” dalam Al-Hadharah; Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya Arab, tahun V, Nomor 1, januari 2005, h. 96

[65]Sa’id al-Afghani, Min al-Tarikh al-Nahw (Cet. II; Bairut: Dar al-Fikr, 1978), h. 8-9

[66]Lihat Tamam Hassan, al-‘Ushul; Dirasah Ipistimalijiyyah li al-Fikr al-Lughawi ‘Inda al-Arab (Mesir: al-Hai’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1982), h. 30.

[67]Sa’id al-Afghani, op. cit., h. 29

[68]Muhammad Syatir Ahmad Muhammad, al-Mu’jiz fi Nasy’ah al-Nahwu (Mesir: Maktabah al-Kulliyah al-Azhar, 1983), h. 15-16

[69]Sa’id al-Afghani, op. cit., h. 32-33

[70]Azyumardi Azra (ed), Sejarah dan Ulum al-Qur’an (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 37.

[71]Departemen Agama RI, Pedoman Pengajian Al-Qur’an bagi Anak (Jakarta: Proyek Penerangan Bimbingan Dakwa, 1983), h. 10-12.

[72]Khaeruddin, Metode Baca Tulis Al-Qur’an (Makassar: al-Ahkam, 2000), h. 129.

[73]H. Usman Jasad, dkk, op. cit., h. 34.

[74]Khaeruddin, op. cit., h. 160.

[75]H. Usman Jasad, dkk, op. cit., h. 36-37.

[76]Syarifuddin Ondeng, Panduan Pengenalan Baca Tulis Al-Qur’an (Ujungpandang: Berkah Utami, 2005), h. 5

[77]H. Usman Jasad, op. cit., h. 35.

[78]Republik Indonesia, Undang-undang RI No. 23 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Fokus Media, 2003), h. 18

[79]Departemen Agama RI, Pedoman Pengajian Al-Qur’an bagi Anak, op. cit., h. 18.

[80]H. Usman Jasad, dkk, op. cit., h. 39-40.

[81]Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 295

[82]Departemen Agama RI, Pedoman Pengajian Al-Qur’an bagi Anak, op. cit., h. 26.

Kata Kunci :

cara pemerintah dalam buta huruf,skripsi buta aksara,usaha pemerintah untk mengurangi buta huruf

Related Posts to "Peranan Pemerintah Dalam Rangka Memberantas Bebas Buta Aksara Al-Qur’an Di Kabupaten Gowa"

Response on "Peranan Pemerintah Dalam Rangka Memberantas Bebas Buta Aksara Al-Qur’an Di Kabupaten Gowa"

Muhammad Risalon Google+
Jasa Like Fanpage Facebook Murah