Thursday, 27 November 2014

Peningkatan Hasil Belajar Tik Dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa

Skripsi Pendidikan : Peningkatan Hasil Belajar Tik Dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad  Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan sekolah yang dilaksanakan secara berjenjang dan terencana, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 (2003: 7) bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu:
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui peningkatan proses pembelajaran di sekolah menengah pertama, setiap guru dituntut melakukan inovasi pembelajaran, seperti dalam menggunakan pendekatan pembelajaran yang tepat sebagai upaya meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, seperti dalam pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Materi pelajaran TIK banyak menuntut pendemonstrasian materi tentang berbagai macam program, baik program pengolah kata maupun pengolah angka  sehingga menuntut keaktifan siswa dalam belajar. Hal ini berarti bahwa dalam meningkatkan kemampuan belajar siswa, aspek pendekatan pembelajaran sangat penting diperhatikan oleh guru, sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (2002: 152) bahwa “tinggi rendahnya kadar kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh pendekatan mengajar yang digunakan guru”. Sementara Hamdat (2003: 33) mengemukakan bahwa:
Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar. Variasi metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, dan kelas menjadi hidup, metode penyajian yang selalu sama akan membosankan siswa.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam mengajarkan materi pelajaran TIK  adalah pembelajaran kooperatif sebagai model pembelajaran kerjasama dalam kelompok. Menurut Nasution (2004: 146)  bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran gotong royong atau kerjasama dalam kelas”. Pendekatan pembelajaran kerjasama dimaksudkan agar proses pembelajaran berlangsung optimal melalui peran aktif siswa dalam bentuk kerjasama. Lebih lanjut Nasution (2004: 146) menyatakan bahwa “pelajaran di sekolah harus sesuai dengan keadaan masyarakat, dan sifat gotong royong hendaklah dijadikan suatu prinsip yang mewarnai praktek pembelajaran untuk siswa”.
Penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif dilakukan dengan harapan agar siswa lebih belajar, seperti aktif bekerjasamadalam praktek dengan teman-temannya, dan aktif  melakukan tanya jawab dengan kelompok lain. Jadi, pendekatan pembelajaran kooperatif dipandang relevan agar siswa dapat belajar bersama dalam menyelesaikan soal-soal latihan atau praktikum suatu materi  dalam pelajaran TIK. 
Belajar kelompok tentu akan lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan belajar TIK siswa jika didukung oleh keinginan yang kuat dari masing-masing anggota kelompok untuk belajar. Jika dalam kelompok ada salah seorang anggota kelompok yang suka bercerita, bergosip, membuat kegaduhan, hal itu justru dapat membuat suasana kelompok tidak kondusif untuk belajar bersama sehingga tujuan utama dari belajar kelompok sulit tercapai. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran dari setiap anggota kelompok untuk memiliki keinginan belajar bersama dalam suasana kelompok yang ditindak lanjuti dengan sikap yang baik dalam belajar bersama dalam suasana kelompok.
Salah satu tipe pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran kooperatif adalah Student Teams-Achievement Division (STAD). Tipe ini dianggap jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana sehingga mudah diterapkan di sekolah, seperti dalam pembelajaran TIK, karena siswa hanya dibagi atas 4 – 5 orang dalam suatu kelompok kemudian bekerjasama dalam mempraktekkan praktikum yang diberikan sesama anggota kelompok mengenai bahan ajar, hasilnya dinilai sebagai bentuk penilaian hasil belajar siswa.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD dipandang cukup ideal digunakan dalam meningkatkan hasil belajar TIK siswa di sekolah menengah pertama. Akan tetapi kenyataannya, pendekatan ini masih kurang maksimal digunakan oleh guru saat mengajar. Demikian halnya di SMP Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Berdasarkan survei awal di sekolah tersebut, diperoleh informasi dari guru-guru bahwa pendekatan kooperatif jarang digunakan, guru lebih sering menggunakan pendekatan klasikal. Bahkan jika digunakan, kadang-kadang siswa lebih suka bercerita dan bermain, selain itu terlihat sebaran nilai antara 5.0 – 6.0, sehingga hakikat penggunaannya kurang mencapai sasaran, yaitu dalam meningkatkan kemampuan belajar murid melalui kerjasama dalam kelompok.
Penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam mengajarkan materi pelajaran TIK seharusnya intensif diterapkan guru diiringi dengan kemampuan dalam mengelola kelas. Hal ini sangat penting agar siswa dapat belajar bersama dalam suasana kelompok sehingga lebih aktif dalam belajar, dan pengelolaan kelas harus diperhatikan agar suasana kelas tetap kondusif selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan pendekatan kooperatif tipe STAD dalam meningaktkan hasil belajar TIK siswa. Berkaitan dengan hal itu, penulis mengkaji dengan judul “Peningkatan hasil belajar TIK dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa”.

B. Rumusan Masalah
         Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini, yaitu bagaimana menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VIII mata pelajaran TIK, SMP Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa?

C. Tujuan Penelitian
     Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan pelaksanaan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar TIK melalui penggunaan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Hasil Penelitian
      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat secara teoretis dan praktis sebagai berikut:
1. Manfaat teoretis:
Bagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Akta IV, sebagai masukan tentang penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif dalam upaya mendukung peningkatan kemampuan belajar siswa melalui kegiatan belajar secara kelompok dalam pembelajaran TIK di sekolah menengah pertama.
Bagi peneliti, sebagai bahan referensi berkaitan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Manfaat praktis:
Bagi guru sekolah menengah pertama, sebagai masukan pentingnya penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan kerjasama siswa dalam suasana kelompok dan kemampuan belajar siswa di sekolah.
Bagi siswa sekolah menengah pertama, sebagai masukan pentingnya berperan secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat lebih meningkatkan kemampuan belajarnya.
 E. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini, yaitu “jika digunakan penggunaan pembelajaran kooperatif tipe STAD, hasil belajar TIK siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bontonompo Selatan  meningkat”.
BAB II
KAJIAN  PUSTAKA
1.    Pembelajaran Kooperatif
a.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Devision).


Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis yang mengisyaratkan adanya orang yang mengajar dan belajar dengan didukung oleh komponen lainnya, seperti kurikulum, dan fasilitas belajar mengajar. Dalam proses tersebut, terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode atau pendekatan untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. 

Hamalik (2003: 57) mengemukakan:
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pembelajran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya. Material meliputi: buku-buku, papan tulis, kapur, audio. Fasilitas dan perlengkapan berupa: ruangan kelas, perlengkapan, dan prosedur meliputi: jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya.


Rohani dan Ahmadi (1995: 64) menyatakan bahwa:
    Pembelajaran adalah totalitas aktivitas belajar mengajar yang diawali dengan perencanaan diakhiri dengan evaluasi. Dari evaluasi ini diteruskan dengan follow up. Pembelajaran sebagai kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pembelajaran, menyusun rencana pelajaran, memberikan informasi, bertanya, menilai, dan sebagainya.


Berdasarkan pendapat sebelumnya, maka pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis yang diawali dengan persiapan mengajar (prainstruksional), proses pembelajaran (instruksional) dan diakhiri penilaian atau evaluasi. Kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan berarti hanya guru yang aktif sedang murid pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi subjek pembelajaran agar proses pembelajaan dapat berlangsung optimal dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Salah satu pendekatan pembelajaran di sekolah adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang berorientasi pada kegiatan kerjasama antara siswa dalam bentuk kelompok sehingga siswa dapat belajar bersama dalam suasana kelompok.

Lie (1999: 28) mengemukakan bahwa “pembelajaran kooperatif atau gotong royong adalah kegiatan pembelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara siswa di kelas”. Nasution (2004: 146) mengemukakan “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran gotong royong atau kerjasama dalam kelas”. Sementara Sanjaya (2006: 239) mengemukakan “pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan”.

Berdasarkan pendapat di atas, maka pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan guru di sekolah sesuai dengan tuntutan materi pelajaran yang mengandung unsur kerjasama antara siswa dalam kelas dalam melakukan kerja kelompok. Penekanan pendekatan ini adalah mengaktifkan siswa dalam pembelajaran melalui kerjasama antar siswa dalam suasana belajar berkelompok.

Roestiyah (1998: 15) mengemukakan “kerja kelompok adalah kelompok siswa yang terdiri atas 5 atau 7 siswa, bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pembelajaran”. Thabrany (1993: 96) mengemukakan kerja kelompok sebagai “kerja berkelompok yang anggotanya antara 3, 5, atau 7 orang”.

Lie (1999: 30) mengemukakan unsur-unsur pembelajaran kooperatif, yaitu: “1) saling ketergantungan positif, 2) tanggung jawab perseorangan, 3) tatap muka,    4) komunikasi antar anggota, dan 5) evaluasi proses kelompok”. Kelima unsur model pembelajaran kooperatif tersebut diuraikan sebagai berikut:


1)    Saling tergantungan positif
Keberhasilan kelompok dalam belajar sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya dalam melakukan kerjasama dalam kelompok belajar. Kelompok belajar atau kelompok kerja harus kompak dalam belajar dan tidak ada anggota kelompok yang memandang dirinya lebih pintar dari anggota kelompoknya dan menanggap bahwa anggota kelompoknya bodoh dan tidak bisa diajak untuk berdiskusi atau belajar bersama.


2)    Tanggung jawab perseorangan
Setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab melakukan yang terbaik bagi kelompoknya. Oleh karena itu, guru harus memiliki kesiapan dalam menyusun tugas belajar dan memberikannya kepada siswa sehingga setiap siswa  memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi secara aktif dalam kelompoknya masing-masing.

3)    Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan kesempatan kepada siswa sebagai anggota kelompok untuk bekerjasama. Hasil pemikiran dari satu orang akan dapat menjadi milik bersama dalam kelompok yang memungkinkan setiap anggota kelompok memiliki kemampuan sama dalam penguasaan suatu materi pelajaran.


4)    Komunikasi antar anggota
siswa dalam suatu kelompok tidak selalu memiliki keahlian atau kemampuan dalam berkomunikasi. Keberhasilan kelompok bergantung pada kesediaan anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka, sehingga keterampilan berkomunikasi sangat perlu diperhatikan setiap anggota kelompok.


5)    Evaluasi proses kelompok
Guru harus menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar dapat menilai kualitas kerjasama dan hasil kerja kelompok sekaligus dapat menjadi masukan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
Salah satu tipe pembelajaran dalam pendekatan pembelajaran kooperatif adalah tipe STAD. STAD atau Tim Siswa-Kelompok Prestasi yaitu jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD, siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 3-6 orang, dan setiap kelompok harus heterogen. Guru menyajikan pelajaran dan siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan seluruh  anggota  tim  telah  menguasai pelajaran. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dan mereka tidak boleh saling membantu mengerjakan kuis.

Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka yang lalu, dan skor diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestasinya yang lalu. Skor tiap anggota dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu  diberi sertifikat atau penghargaan sebagai suatu bentuk penguatan.
Menurut Ibrahim (2000: 57) bahwa prosedur penyekoran untuk STAD yaitu:
Langkah 1    (menetapkan skor dasar), setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor-skor kuis yang lalu.
Langkah 2    (menghitung skor kuis terkini), siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan denga pelajaran terkini.
Langkah 3     (menghitung skor perkembangan), siswa mendapatkan poin perkembangan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor dasar mereka dengan menggunakan skala yang diberikan di bawah ini.
Lebih dari 100 poin di bawah skor dasar ………………….   0 poin
10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah skor dasar …….  10 poin
Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar ……………..  20 poin
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar ……………………… 30 poin
Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) ….. 30 poin


Besar poin yang disumbangkan setiap siswa pada timnya ditentukan oleh berapa skor siswa melampaui rata-rta skor kuis siswa itu sendiri di waktu lampau. siswa dengan pekerjaan sempurna mendapatkan poin perkembangan maksimum, tanpa memperhatikan poin dasar mereka. Sistem perkembangan individual ini memberikan setiap siswa suatu kesempatan baik untuk menyumbang poin maksimum kepada tim jika (dan hanya jika) siswa itu melakukan yang terbaik, sehingga menunjukkan peningkatan perkembangan subtansial atau mencapai pekerjaan sempurna. Dalam penilaian, tidak ada sistem penskoran khusus untuk pendekatan investigasi kelompok. Laporan atau presentasi kelompok digunakan sebagai salah satu dasar untuk evaluasi dan siswa hendaknya diberikan penghargaan untuk dua-duanya yaitu sumbangan individual dan hasil kolektif dalam suatu kelompok siswa.

Dalam tahap awal pembelajaran, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, dan setiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 orang dengan kelompok yang bersifat heterogen (baik jenis kelamin maupun kemampuan akademik). Setiap  anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antara sesama anggota kelompok. Secara priodik dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan mereka terhadap bahan pelajaran.

b.    Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif



Penggunaan pembelajaran kooperatif seharusnya mengikuti langkah-langkah atau prosedur tertentu dalam penggunaannya. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan pembelajaran kooperatif dapat efektif meningkatkan kemampuan belajar dan hasil belajar siswa.
Karli dan Yuliariatiningsih (2002: 72) mengemukakan langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:

  1. Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai. 
  2. Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil. 
  3. Guru mengarahkan dan membimbing siswa baik secara individu maupun kelompok. 
  4. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempersentasekan hasil kerjanya.



Keempat langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif di atas diuraikan sebagai berikut:
1) Guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai oleh guru sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran. Guru juga menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat dikembangkan oleh guru selama berlangsungnya proses pembelajaran. Selain itu, guru juga mengorganisir materi tugas-tugas yang dikerjakan bersama-sama dalam dimensi kerja kelompok oleh siswa melalui keaktifan semua anggota kelompok.
2) Guru merancang lembar observasi kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam penyampaian materi pelajaran, pemahaman dan pendalamannya akan dilakukan siswa ketika belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Pemahaman dan konsepsi guru terhadap siswa secara individual sangat menentukan kebersamaan dari kelompok yang dibentuk oleh guru dalam proses pembelajaran.
3) Dalam melakukan kegiatan observasi terhadap siswa, guru mengarahkan dan membimbing siswa, baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran.
4) Langkah selanjutnya adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempersentasekan hasil kerjanya. Guru juga memberikan penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilaku sosial yang dikembangkan dan dilatih oleh para siswa dalam kelas.
Ibrahim (2000: 10) mengemukakan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yang terdiri atas 6 langkah, yaitu: 

1)    Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
2)    Menyajikan informasi
3)    Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
4)    Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
5)    Evaluasi
6)    Memberikan penghargaan


Langkah-langkah di atas menunjukkan bahwa pelajaran dimulai yaitu guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. langkah ini diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Langkah terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu agar siswa dapat termotivasi dalam mengikuti model pembelajaran kooperatif atau kerja kelompok. Jadi pembelajaran kooperatif sangat positif dalam menumbuhkan kebersamaan dalam belajar pada setiap siswa sekaligus menuntut kesadaran dari siswa untuk aktif dalam kelompok, karena jika ada siswa yang pasif dalam kelompok maka hal itu dapat mempengaruhi kualitas pelaksanaan pembelajaran kooperatif khususnya berkaitan dengan rendahnya kerjasama dalam kelompok.


c.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.
Karli dan Yuliariatiningsih (2002: 72) mengemukakan kelebihan model pembelajaran kooperatif, yaitu:
  1. Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis. 
  2. Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki oleh siswa. 
  3. Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilan-keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. 
  4. siswa tidak hanya sebagai obyek belajar melainkan juga sebagai subyek belajar karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya. 
  5. siswa dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal bagi kesuksesan kelompoknya. 
  6. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.



Penggunaan pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, memiliki berbagai kelebihan atau manfaat. Kelebihan berorientasi pada optimalnya kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif melalui dukungan guru dan siswa dalam pembelajaran.
Selain kelebihannya, pendekatan pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lie (1999: 29) yaitu:
siswa yang dibagi dalam kelompok kemudian diberikan tugas. Akibatnya siswa merasa ditinggal sendiri dan karena mereka belum berpengalaman, merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bekerjasama menyelesaikan tugas tersebut sehingga menimbulkan kekacauan dan kegaduhan.


    Berdasarkan pendapat sebelumnya, jelas bahwa di samping kelebihan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh siswa dalam model pembelajaran kooperatif, juga terdapat kelemahan di mana hal tersebut menuntut kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan mengawasi proses kerjasama dalam belajar yang dilakukan oleh siswa.
Thabrany (1993: 94) mengemukakan kelebihan atau keuntungan dan kekurangan kerja kelompok atau pembelajaran kooperatif yaitu:

1)     Keuntungan kerja kelompok
a)    Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding belajar sendiri
b)    Dapat merangsang motivasi belajar.
c)    Ada tempat bertanya
d)    Kesempatan melakukan resitasi oral
e)    Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat.
2)     Kekurangan kerja kelompok
a)    Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip.
b)    Sering terjadi debat sepele di dalam kelompok, bisa terjadi kesalahan kelompok.


Kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif di atas, berikut diuraikan satu-per satu:

1)     Kelebihan pembelajaran kooperatif
Kelebihan model pembelajaran kooperatif terdiri atas:


a)    Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding belajar sendiri
Jika belajar sendiri sering kali rasa bosan timbul dan rasa kantuk pun datang. Apalagi jika mempelajari pelajaran yang kurang menarik perhatian atau pelajaran yang sulit. Dengan belajar bersama, orang punya teman yang memaksa aktif dalam belajar. Demikian pula ada kesempatan bersenda gurau sesedikit mungkin untuk mengalihkan kebosanan.


b)    Dapat merangsang motivasi belajar
Melalui kerja kelompok, akan dapat menumbuhkan perasaan ada saingan. Jika sudah menghabiskan waktu dan tenaga yang sama dan ternyata ada teman yang mendapat nilai lebih baik, akan timbul minat mengejarnya. Jika sudah berada di atas, tentu ingin mempertahankan agar tidak akan dikalahkan teman-temannya.


c)    Ada tempat bertanya
Kerja secara kelompok, maka ada tempat untuk bertanya dan ada orang lain yang dapat mengoreksi kesalahan anggota kelompok. Belajar sendiri sering terbentur pada masalah sulit terutama jika mempelajari sejarah. Dalam belajar berkelompok, seringkali dapat memecahkan soal yang sebelumnya tidak bisa diselesaikan sendiri. Ide teman dapat dicoba dalam menyelesaikan soal latihan. Jika ada lima orang dalam kelompok itu, tentu ada lima kepala yang mempunyai tingkat pengetahuan dan kreativitas yang berbeda. Pada saat membahas suatu masalah bersama akan ada ide yang saling melengkapi.


d)    Kesempatan melakukan resitasi oral
Kerja kekompok, sering anggota kelompok harus berdiskusi dan menjelaskan suatu teori kepada teman belajar. Inilah saat yang baik untuk resitasi. Akan dijelaskan suatu teori dengan bahasa sendiri. Belajar mengekspresikan apa yang diketahui, apa yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk kata-kata yang diucapkan.


e)    Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan perisitwa lain yang mudah diingat
Melalui kerja kelompok akan dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat. Misalnya, jika ketidaksepakatan terjadi di antara kelompok, maka perdebatan sengit tak terhindarkan. Setelah perdebatan ini, biasanya akan mudah mengingat apa yang dibicarakan dibandingkan masalah lain yang lewat begitu saja. Karena dari peristiwa ini, ada telinga yang mendengar, mulut yang berbicara, emosi yang turut campur dan tangan yang menulis. Semuanya sama-sama mengingat di kepala. Jika membaca sendirian, hanya rekaman dari mata yang sampai ke otak, tentu ini dapat kurang kuat.


2)     Kelemahan model pembelajaran kooperatif atau kerja kelompok
Kelemahan penerapan model pembelajaran kooperatif dalam suatu pembelajaran di sekolah yaitu:

a)    Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip
Kelemahan yang senantiasa terjadi dalam belajar kelompok adalah dapat menjadi  tempat mengobrol. Hal ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.


b)    Sering terjadi debat sepele di dalam kelompok
Debat sepele ini sering terjadi di dalam kelompok. Debat sepele ini sering berkepanjangan sehingga membuang waktu percuma. Untuk itu, dalam belajar kelompok harus dibuatkan agenda acara. Misalnya, 25 menit  mendiskusikan bab tertentu, dan 10 menit mendiskusikan bab lainnya. Dengan agenda acara ini, maka belajar akan terarah dan tidak terpancing untuk berdebat hal-hal sepele.


c)    Bisa terjadi kesalahan kelompok
Jika ada satu anggota kelompok menjelaskan suatu konsep dan yang lain percaya sepenuhnya konsep itu, dan ternyata konsep itu salah, maka semua anggota kelompok berbuat salah. Untuk menghindarinya, setiap anggota kelompok harus sudah mereview sebelumnya. Kalau membicarakan hal baru dan anggota kelompok lain belum mengetahui, cari konfirmasi dalam buku untuk pendalaman.

Model pembelajaran kooperatif di samping memiliki kelebihan juga mengandung beberapa kelemahan apabila para anggota kelompok  tidak  menyadari makna kerjasama dalam kelompok. Oleh karena itu, Thabrany (1993: 96) menyarankan bahwa “agar kelompok beranggotakan 3, 5 atau 7 orang, jangan lebih dari 7 dan sebaiknya tidak genap karena dapat terjadi beberapa blok yang saling mengobrol, dan jangan ada yang pelit artinya harus terbuka pada kawan”. 

Kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan model pembelajaran kooperatif sebagai strategi mengajar guru, maka hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi guru dalam penggunaannya. Namun, faktor profesionalisme guru menggunakan model tersebut sangat menentukan dan kesadaran murid mengikuti pembelajaran melalui strategi kelompok. Sasaran pembelajaran adalah meningkatkan kemampuan belajar siswa sehingga penggunaan model ini akan memungkinkan siswa lebih aktif, kreatif dan mandiri dalam belajar sesuai tuntutan materi pelajaran atau kurikulum.

2.    Hasil Belajar TIK
a.    Pengertian Hasil Belajar TIK


Belajar merupakan tugas pokok dari setiap siswa agar dapat sukses di sekolah. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri setiap manusia sebagai hasil dari aktivitas tertentu. Misalnya perubahan yang terjadi dari tidak tahu menjadi tahu, atau dari tidak mengerti menjadi mengerti yang terjadi pada anak-anak sekolah maupun bukan anak sekolah.
Abdurrahman (1994: 97) mengemukakan “belajar adalah interaksi individu dengan lingkungannya yang membawa perubahan sikap, tindak, perbuatan dan perilakunya”. Sementara Hamdat (2003: 4) mengemukakan bahwa Belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Sardiman (2001: 53) mengemukakan:
Belajar adalah upaya perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan, seperti membaca, mendengar, mengamati, meniru dan sebagainya. Atau belajar sebagai kegiatan psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Oleh karena dalam belajar perlu ada proses internalisasi, sehingga akan menyangkut mitra kognitif, afektif dan psikomotorik.

    Berdasarkan pendapat di atas, belajar merupakan usaha menguasai hal-hal yang baru atau peningkatan kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu sehingga ada perubahan yang mengarah kepada perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sebagai dampak dari aktivitas belajar yang dilakukan, akan meningkatkan kemampuan belajar siswa sehingga akan dapat memberikan hasil belajar yang maksimal di sekolah sebagai pencerminan kemampuan belajar siswa, yang lazim dikenal dengan istilah hasil atau prestasi belajar.
Ali (1990: 323) mengemukakan “prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan”.Syah (2000:150) mengemukakan “hasil belajar adalah hasil pengungkapan belajar yang meliputi ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), dan ranah karsa (psikomotor)”.
    Berdasarkan pendapat di atas, hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Hasil belajar siswa merupakan kecakapan nyata yang dapat diukur langsung dengan menggunakan tes hasil belajar atau evaluasi belajar siswa, di mana hasil belajar yang dimaksud dalam kajian ini adalah hasil belajar pada pelajaran TIK.

b.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

    Hasil belajar siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik dari diri maupun dari luar diri siswa. Pengenalan terhadap faktor-faktor tersebut penting sekali artinya dalam membantu siswa mencapai hasil  belajar yang sebaik-baiknya. Di samping itu, diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, akan dapat diidentifikasi faktor yang menyebabkan kegagalan bagi siswa sehingga dapat dilakukan antisipasi atau penanganan secara dini agar siswa tidak gagal dalam belajarnya atau mengalami kesulitan belajar.
Purwanto (2007: 102) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil  belajar yaitu:
  1. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individual (kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi). 
  2. Faktor yang ada di luar individu yang disebut faktor sosial (keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang diperlukan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial.

Pendapat di atas relevan dengan pendapat Djamarah (2002: 143) yang mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu:
  1. Faktor dari luar diri anak, meliputi: faktor lingkungan berupa: alami dan sosial budaya, sedangkan faktor instrumental berupa: kurikulum, program, sarana dan fasilitas, serta guru. 
  2. Faktor dari diri anak, meliputi: faktor fisiologis berupa: kondisi fisiologis dan kondisi panca indra, sedangkan faktor psikologis berupa: minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan kognitif.

Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka pada hakikatnya terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa, namun pada intinya dapat diklasifikasikan atas  dua  faktor,  yaitu  faktor  yang  bersumber  dari dalam diri siswa maupun dari luar dirinya. Faktor dari diri siswa, berupa: faktor fisik, psikologis, dan pendekatan belajar, sedangkan faktor dari luar diri murid, yaitu: faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan pergaulan siswa yang mempengaruhi aktivitas belajarnya sehari-hari.
3.    Penggunaan Pembelajaran Kooperatif dalam Meningkatkan Hasil Belajar siswa
    Salah satu komponen pembelajaran yang sangat menentukan kualitas proses pembelajaran TIK di sekolah menengah pertama adalah pendekatan pembelajaran, di antaranya pembelajaran kooperatif. Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan materi pelajaran dengan mempertimbangkan kemampuan guru dan siswa dalam mengikuti pelajaran dengan pendekatan pembelajaran kooperatif.
Djamarah dan Zain (2002: 86) mengemukakan:
Kegagalan pembelajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran.

Pendapat di atas menegaskan pentingnya penggunaan pendekatan  pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, seperti dalam pembelajaran TIK.  Dalam mempelajari materi pelajaran TIK, siswa dituntut untuk  saling bekerjasama dalam mengerjakan soal-soal praktikum atau bertukar pikiran atau pendapat tentang materi pelajaran TIK. Hal ini mengisyaratkan guru harus dapat menggunakan pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran kooperatif agar dapat secara efektif digunakan dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan belajar dan hasil belajar siswa.
Slameto (1995: 65) mengemukakan “agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus diusahakan secara efektif dan efisien, karena metode mengajar mempengaruhi belajar siswa”. Hal ini menunjukkan berarti dalam  meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dapat berdampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa, guru harus memperhatikan penggunaan metode atau pendekatan pembelajaran secara efektif, di antaranya model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dimaksudkan agar proses  pembelajaran TIK dapat berlangsung lebih optimal, karena melibatkan siswa dalam pembelajaran dalam bentuk kerjasama antara siswa. Nasution (2004: 146) mengemukakan “pelajaran di sekolah harus sesuai dengan keadaan masyarakat, dan sifat gotong royong hendaklah dijadikan suatu prinsip yang mewarnai praktek pembelajaran untuk siswa”.
Penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe STAD dilakukan dengan harapan agar materi pelajaran TIK dapat diterima secara optimal oleh siswa berupa terjadinya transfer pengetahuan dari guru dan antara siswa dalam kelas tentang materi pelajaran yang diajarkan guru mata pelajaran TIK. Penggunaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran TIK akan memungkinkan siswa bekerjasama mengerjakan soal praktikum atau mengkaji materi pelajaran atau permasalahan tertentu, karena mata pelajaran TIK merupakan mata pelajaran yang menekankan pada materi yang menuntut siswa untuk saling bekerjasama, khususnya dalam membahas materi pelajaran sehingga semua siswa dapat sama-sama aktif dan memiliki kemampuan yang merata dalam pendalaman materi pelajaran TIK.









Kata Kunci :

apa yang dimaksud dengan peningkatan hasil belajar siswa?,cara menerap pembelajaran stad pada siswa,ICT untuk mendukung belajar masal atau klasikal ?,model model pembelajaran untuk belajar tik,penggunaan metode kooperatif dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas,type guru dalam pembelajaran yang mempengaruhi hasil pelajaran pada anak

Related Posts to "Peningkatan Hasil Belajar Tik Dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa"

Response on "Peningkatan Hasil Belajar Tik Dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 2 Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa"

Muhammad Risalon Google+