Monday, 20 October 2014

Peluncuran Kapal Pinishi Seharga Rp. 4 M

Peluncuran Kapal Pinishi Seharga Rp. 4 M – Sebuah kapal pinisi dari Ara dan Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah melakukan peluncuran melalui prosesi adat setempat pada Selasa (8/11/2011) lalu. Kapal pinisi pesanan Polandia tersebut merupakan yang terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah Bulukumba.

Masyarakat Tanjung Bira di Bulukumba sendiri memiliki tradisi pembuatan perahu dan kapal laut sejak ratusan tahun lalu. Kapal pinisi bukannya tak terkenal karena seluruh penjuru negeri, bahkan dunia, telah mengetahui bahtera ciri khas Nusantara tersebut.


Jenis perahu tradisional dari Bulukumba telah menjadi trademark tradisi bahari nenek moyang Indonesia. Oleh karena itu, sebuah upaya mempertahankan identitas masyarakat bahari yang kreatif dan ulet.


Prosesi penggeseran kapal pinisi dikerjakan 100 orang dan dihadiri Wakil Bupati Bulukumba Samsuddin, pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta para stafnya. Selain itu, seluruh tenaga pekerja pembuat kapal yang berbahan kayu besi itu hadir untuk prosesi adat.


Dari fase penggeseran badan kapal sejak malamnya, perlu sekitar 3 minggu lagi hingga seluruh badan kapal memasuki air dan akan ditarik feri hingga Semarang. Pembuatan badan kapal pinisi tersebut telah memakan waktu 9 bulan.


Setelah selesainya badan kapal, proses finishing dan interiornya akan dilakukan di Semarang. Kapal pinisi tersebut memakan biaya pembuatan Rp 4 miliar untuk badannya saja yang memiliki panjang 50 meter dan bagian terlebar hampir 10 meter.


Finishing di Semarang memakan biaya tiga kali lipat biaya untuk pembuatan badannya. Niat Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yaitu ingin mempertahankan Tanjung Bira, Bulukumba, ini sebagai tempat pembuatan pinisi.


“Ini sebuah momen penting karena kapal pinisi pesanan Polandia ini merupakan yang terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah Bulukumba,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nazaruddin.


Kapal ini dibuat di Tanjung Bira sebagai tahap awal dari keseluruhan proses pembuatan. Di sinilah konstruksi badan kapal disiapkan karena memang ada ahlinya, yaitu Haji Muslim Baso (66), dari Desa Ara, Bonto Bahari.


“Ancaman yang memprihatinkan bagi kami ialah para pembuat pinisi ini berpindah tempat ke provinsi lain karena bahan baku yang lebih mudah. Jadi ini persoalan nasional dan harus dibicarakan,” ungkap Nazaruddin, selagi menerangkan keindahan Pantai Pasir Putih, Tanjung Bira.


Bila hal ini dibiarkan maka Tanjung Bira bisa terancam hilang dari peta wisata sejarah dan budaya Indonesia. Haji M Baso sudah membangun sekitar 200 kapal dan perahu dari berbagai ukuran dan jenis.


“Selama ini, perahu wisata terbesar yang saya buat di Bonto Bahari, dari pengalaman saya sejak tahun 1991,” tuturnya selagi menjawab beberapa pertanyaan dari berbagai media yang meliput penggeseran kapal ini.



Haji Muslim Baso mengomandoi para pekerja yang menggeserkan badan kapal. Seharinya badan kapal bisa dipindahkan sejauh 15 hingga 20 meter. Hingga Rabu (9/11/2011) pagi, tim pekerja pimpinan Haji Muslim Baso sudah menggeser sekitar 5 meter.


“Lambung kapal ini kira-kira 3 meter dalamnya, jadi saya pilih tempat ini karena kedalaman air yang cocok,” jelasnya.  


Michael, salah seorang wisatawan dari Ceko yang sudah berada di Indonesia selama 2,5 bulan, turut mengikuti prosesi sejak beberapa hari lalu. Ia sungguh mengagumi kelihaian masyarakat Bulukumba dalam membina bahtera besar tersebut.


Tidak hanya kapal ini yang sedang dibina dalam pengawasan Haji Muslim Baso, ada kapal lain berupa perahu serupa yang lebih kecil pesanan pengusaha Belgia. Selain itu, terdapat sampan sebanyak 12 buah dan meja pesanan dari Kolombia. Jelas, keterampilan dan pengetahuan para lokal genius di Tanjung Bira telah mampu menembus tabir pasar pelayaran dunia.



Bagi warga Tanjung Bira sendiri, pembinaan perahu pinisi tersebut hanyalah salah satu proyek bersama dalam tahun ini. Akan tetapi, dengannya, nama Tanjung Bira terkenal dengan prestasi pembuat perahu pinisi terbesar.(*)



Related Posts to "Peluncuran Kapal Pinishi Seharga Rp. 4 M"

Response on "Peluncuran Kapal Pinishi Seharga Rp. 4 M"

Muhammad Risalon Google+